google.com, pub-6135897251816907, DIRECT, f08c47fec0942fa0
NASIONAL

Mantan Kepala Badan POM-RI, Mengingatkan Siapa?

TIRAS.id

Sebagai pimpinan mesti sadar diri jika suatu saat pasti akan pensiun dan menjadi rakyat biasa kembali”

“Ketika Anda menjadi pejabat arogan dan sewenang wenang. Maka, kelak masyarakat akan menghinakan Anda, di mata masyarakat. Attitude dan karakter seperti anda sangat terhina. Percayalah……”

TIRAS.id — Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (Badan POM RI) tahun 2001-2006 rajin meng-upload tulisan mengenai, apa yang terjadi di bangsa ini.

Posting mengenai virus Corona mencabik cabik ekonomi negeri ini. Alih-alih mencari solusi, tapi malah gaduh saling melempar tanggung jawab.

Demikian juga mengenai kita harus terus bersujud di Bumi Berserah Diri kepada-Nya.

“Bersyukur atas rahmat Allah atas hidup kita; berkah umur yang diridhai-Nya dan karunia kesehatan yg tidak ternilai,” demikian postingnya.

“Kesehatan memang bukan segalanya tapi tanpa kesehatan segalanya tidak ada artinya. Bersyukurlah ketika sehat sebelum sakit datang, bersyukurlah ketika sedang lapang sebelum kesempitan datang. Sesal kemudian sesungguhnya tidak berguna,” masih kutipan Sampurno A Chaliq.

Tentang orchestra bangsa. Sebuah negara bangsa itu ibaratnya sebuah Orchestra. Ada 3 komponen Orchestra yg berperan: konduktor, pemain dan partitur/lagu yg dibawakannya.

“Kapankah kita mempunyai Orchestra yang bisa menyuguhkan lagu yang indah dan menyejukkan jiwa bangsa?” demikian postingnya di media sosial yang kemudian ditanggapi banyak fans dan teman-temannya.

Sampurno, yang kini menjadi akademisi dan mengajar di salah satu Fakultas Farmasi Universitas swasta tanah air tetap seperti dulu.

Idealismenya tak berubah, berkata benar jika memang harus dikatakan benar. Jika ada yang salah,  pria kelahiran desa Nganjuk, Jawa Timur, 31 Desember 1950 itu tak sungkan mengkritisi.

Putera seorang guru ‘ngaji dan petani ini dari awal memang punya karir di Badan POM, mulai dari tenaga honorer. Menjadi PNS mulai dari golongan 3A, akhirnya menjadi Dirjen POM (1998-2001).

Sempat posting, “Perlu diupayakan agar Badan POM  dapat memberikan layanan yang baik dan optimal  kepada industri dan bisnis sediaan farmasi dan makanan.”

Yang terbaru, “Mantan Anak Buah Saya Menang di MA. Mantan anak buah saya, ketika menangani sebuah perkara tiba-tiba dipecat oleh atasannya.”

“Dia gugat di PTUN dan menang ditingkat PTUN pertama maupun kedua.”

“Lalu, atasannya mengajukan kasasi ke MA dan MA mengeluarkan keputusan memenangkan ex anak buah saya. Sehingga perkara yang diajukan sekarang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap.”

“Satu lesson learned yang sangat penting adalah sebagai pimpinan jangan arogan dan sewenang-wenang berbuat seenak sendiri.”

“Anak buah kita punya harga diri dan martabat yang mesti dia bela sampai titik darah penghabisan.”

“Selain itu, sebagai pimpinan mesti sadar diri jika suatu saat pasti akan pensiun dan menjadi rakyat biasa kembali”

“Ketika Anda menjadi pejabat arogan dan sewenang wenang. Maka, kelak masyarakat akan menghinakan Anda, di mata masyarakat. Attitude dan karakter seperti anda sangat terhina. Percayalah……”

Hal ini yang kemudian menjadi pembicaraan dan viral di kalangan pemerhati kesehatan. Ramai saling sahut menyahut, siapa yang dikritisi pria yang kini menjadi dosen di UGM itu. Untuk kemudian men-search, kasusnya.

Klik juga: Pemimpin Yang Dikritik

“Mantan Anak Buah Saya Menang di MA. Mantan anak buah saya, ketika menangani sebuah perkara tiba-tiba dipecat oleh atasannya.”

“Dia gugat di PTUN dan menang ditingkat PTUN pertama maupun kedua.”

“Lalu, atasannya mengajukan kasasi ke MA dan MA mengeluarkan keputusan memenangkan ex anak buah saya. Sehingga perkara yang diajukan sekarang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap.”

“Satu lesson learned yang sangat penting adalah sebagai pimpinan jangan arogan dan sewenang-wenang berbuat seenak sendiri.”

“Anak buah kita punya harga diri dan martabat yang mesti dia bela sampai titik darah penghabisan.”

 

 

Tinggalkan Balasan