google.com, pub-6135897251816907, DIRECT, f08c47fec0942fa0
NASIONAL

Dibalik Terbitnya HARIAN KAMI.com

Berani Hidup di Era Milenial

TIRAS.id
Momen bersejarah dengan tiga presiden. Tak semua orang bisa punya kesempatan seperti ini.

Kemunculan HARIAN KAMI di Era Kekinian Menjadi  Menarik.

Banyak yang bertanya-tanya, adakah hubungannya dengan Surat Kabar yang dalam penjelasan wikipedia ”Harian Kami”’ anggota redaksinya antara lain Nono Anwar Makarim dan Christianto Wibisono.

Diskusi bersama Christianto Wibisono

Di dalam sejarah, aksi Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang kemudian mendirikan surat kabar yang berskala nasional yaitu Harian KAMI.

Harian KAMI secara resmi diterbitkan oleh mahasiswa pada tanggal 17 Juni 1969 dengan tujuan mendukung kegiatan-kegiatan yang dilakukan KAMI dan menyebarluaskan ke seluruh Indonesia.

Ada juga yang bertanya, HARIAN KAMI mengambil momentum saat Deklarasi Gerakan Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), besutan Din Syamsuddin.

Kelompok-kelompok oposisi dari pemerintah Jokowi  pun kini saling merangkul.

Setidaknya, saat ini ada empat kelompok yang menjadi oposisi pemerintah Jokowi-Ma’ruf Amin. Untuk partai, PKS menjadi yang paling tegas menunjukkan diri sebagai oposisi.

Selain itu, ada kelompok Persaudaraan Alumni (PA) 212. Kelompok ini biasa bergabung dengan sejumlah ormas agama, seperti Front Pembela Islam (FPI) dan GNPF Ulama.

Kelompok oposisi ketiga adalah kubu politikus senior PAN Amien Rais, yang kerap menyuarakan kritik keras kepada Presiden Jokowi.

Amien Rais bahkan sampai ‘tersingkir’ dari PAN karena merasa tidak sejalan dengan kepengurusan PAN saat ini, yang dinilainya mendukung pemerintahan Jokowi.

Di Era 2020 Muncul Gerakan KAMI juga

Sebelum deklarasi berlangsung, Din menyebut KAMI akan menyampaikan Maklumat Menyelamatkan Indonesia.

Dari delapan poin yang dibacakan saat deklarasi, mayoritas isinya kritik terhadap pemerintah.

Deklarasi KAMI pun digelar di Tugu Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (18/8).

Selain Din, beberapa tokoh yang hadir antara lain Gatot Nurmantyo, Rochmad Wahab, Titiek Soeharto, dan MS Kaban. Hadir pula Amien Rais, Refly Harun, Said Didu, Rocky Gerung, dan Ichsanuddin Noorsy.

Din menyebut KAMI dibentuk sebagai bentuk keprihatinan terhadap pemerintah Indonesia. Mulai bidang ekonomi, politik, hingga HAM. Din menjelaskan KAMI merupakan gerakan politik yang berbasis nilai moral.

S.S Budi Raharjo MM, memang dekat dengan banyak kalangan. Ini saat pose bersama Novel Baswedan dan Gatot Nurmantyo mempromosikan majalah MATRA.

Kemudian Gatot Nurmantyo, yang juga merupakan salah satu deklarator KAMI, berbicara soal oligarki kekuasaan dalam acara tersebut.

Saat memberi sambutan di acara deklarasi KAMI, ia berbicara kondisi Indonesia akibat proxy war yang diperburuk karena berkembangnya oligarki kekuasaan

Yang jelas, ide dan pendiri HARIAN KAMI untuk milenial ini adalah sosok yang enggan berpolitik. Bukan yang suka menjadi tim sukses kubu-kubuan.  Diterima dan berteman baik dengan jaringan “cebong” atau “kampret”.

***

Pemimpin Umum (HARIAN KAMI.com) adalah S.S Budi Rahardjo, Ketua Forum Pimpinan Media Digital Indonesia dan Ketua Umum Asosiasi Media Digital Indonesia.

Jurnalis “alumni” grup manajemen Majalah Tempo, yang terbit berkala menyebarkan berita kepada masyarakat dengan mekanisme check and balance, kontrol terhadap kekuasaan, maupun masyarakat sendiri.

MATRA yang dulu dikenal sebagai majalah Trend Pria.

Saat berkantor  di Waroeng Buncit, masih satu grup dengan majalah Berita Tempo,  Pemimpin Redaksinya adalah N. Riantiarno. Sedangkan Pemimpin Umum-nya adalah Fikrie Jufri.

Jika N Riantiarno, Kemala Atmojo, Arif Bargot Siregar, Usamah Hisyam serta Firmiani Darsjaf hingga Dedet R Moerad dan Wibowo Soemadji adalah seniornya,  yang melatih rangkaian tulisan dan sistem kerja redaksi.

Bens Leo juga termasuk suhu-nya pria ini jurnalistik dalam momen yang lain.

Manajemen Tempo, yang diterapkan Imam Baskoro sangat baik. Sehingga bukan saja berlatih menulis atau  dibentuk sikap hidup, untuk menjadi seorang jurnalis dengan gaya tulisannya, “enak dibaca dan perlu” dan ada sedikit narasi sastrawi-nya.

Dalam mendirikan HARIAN KAMI ini, penerima beasiswa Ford Foundation/ISAI/LPDS bidang Investigasi Reporting itu mengemas “budaya jurnalistik” dengan independen.

Semua hal-hal yang berkaitan dengan kebenaran, tidak mungkin bisa dinegosiasikan. Benar adalah benar. Idealisme tak boleh dicampur kapitalisme pers.

Normatif kecil atau hal-hal yang diajarkan oleh Mas Goen — panggilan dari Goenawan kepada setiap anak didiknya saat itu.

Setiap jaman ada masa dan orang-nya, setiap orang ada masa dan jamannya.  Seiring berkembangnya industri media elektronik dan tekhnologi digital, terus belajar dan mengikuti perkembangan teranyar.

Pria yang diserahi menjadi CEO majalah eksekutif yang terbit sejak 1979 (Toety Adhitama), juga kemudian membangun majalah Matra yang sempat “rontok” karena situasi.

Atas niat baiknya, ia bangun brand MATRA dengan susah payah, hingga kemudian bisa kembali eksis di era digital. Selain edisi cetak, juga mengembangkan  (www.matranews.id).

Kehidupan membentuknya menjadi “pengrajin media” dan konsultan komunikasi. Kadang dipanggil untuk menjadi coach.

Diantara coach, S.S Budi Raharjo MM kerap memberi pelatihan menulis itu mudah, features dan keyword google.

Menjadi Pemred HealthNews yang direkomendasi UNODC dan Sinar BNN, karena yang bersangkutan juga seorang aktivis RIDMA Foundation — yang sudah terbentuk jaman Bakolak Inpres 71.

Dalam organisasi  TIRAS.id,  yang merupakan jaringan dari Asosiasi Media Digital Indonesia (AMDI), S.S Budi Raharjo termasuk pendiri dan menjadi Ketua umum dari organisasi para pemilik (owner media digital).

Dengan misi mengurangi dampak buruk HOAX yang bisa disamakan dengan sampah peradaban dunia maya. Dengan tabayyun memaparkan kabar baik bagi semua.

Pria yang bernama panjang Stephanus Slamet Budi Rahardjo itu multitalenta,  karena terus mau belajar. Mendirikan TV Magazine (program acara satu jam berbentuk features).

Acara berdurasi satu jam,  tayang di TV Swara (yang studionya di DPR-RI) dan QTV, tayang di satelit penikmat parabola.

Acara TV Magazine, saat itu juga tayang di 18 TV Lokal  daerah seluruh Indonesia.

Kini, alumnus S2 Sekolah Tinggi Bisnis Indonesia (STIEBI) sedang menyiapkan Usaha Konvergensi Media (UKM)  untuk HARIAN KAMI dengan sasaran kaum milenial.

Jika dulu lewat jaringan TV satelit dan boks dekoder, kini HARIAN KAMI.com di online dan sedang dalam proses memancarkannya dengan memaksimalkan potensi Youtube, dikaitkan aplikasi lain yang bisa streaming live di Facebook atau Zoom.

 

Tinggalkan Balasan