google.com, pub-6135897251816907, DIRECT, f08c47fec0942fa0
EKONOMI

Sharing Di Tubir Jurang Resesi

TIRAS.id

TIRAS — Banyak yang kemudian, mempertanyakan. Apakah Indonesia masuk dalam resesi. Lantas apa dampaknya?

Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia selama 2020. Dalam penjelasan para pakar,  resesi biasanya didefinisikan ketika situasi tersebut terjadi selama dua kuartal, atau dua kali tiga-bulanan, secara berturut-turut.

Krisis moneter 1997-1998 telah menyadarkan kita bahwa menangkal krisis jauh lebih mudah dibanding mengobatinya. Inflasi yang melonjak 77,6%, suku bunga acuan yang melejit 68,76%, nilai tukar rupiah yang terpuruk ke level Rp 17.000 per dolar AS, dan pertumbuhan PDB yang minus 13,20%.

Krisis ekonomi ibarat pencuri. Pada 2020 ini, resesi terjadi karena wabah Covid-19 yang akhirnya berdampak pertumbuhan ekonomi karena pergerakan manusia dibatasi untuk mencegah penularan virus.

“Guncangan ekonomi” karena perlambatan konsumsi inilah perekonomian dapat melambat secara drastis. Suku bunga tinggi. Suku bunga tinggi membuat konsumen yang ingin membeli rumah, mobil, dan pembelian besar lainnya menjadi sangat mahal.

Perusahaan akhirnya mengurangi pengeluaran dan rencana pertumbuhan usaha karena pembiayaan terlalu tinggi itu. Deflasi Deflasi berarti harga produk dan aset turun karena penurunan permintaan yang besar.

Ketika permintaan turun, harga pun ikut turun. Orang-orang yang menunda pembelian karena menunggu harga yang lebih rendah menyebabkan spiral aktivitas ekonomi yang lambat.

Apa Yang Harus Kita Lakukan?

– Punya asuransi. Terutama kesehatan dan jiwa.

– Siap-siap dana darurat. Setidaknya aman untuk keperluan 3-6 bulan. Semakin panjang, semakin aman.  Ya, seperti istilah Dahlan Iskan yang dimaksud mantab: kita masih bisa: “makan tabungan.”

– Upayakan sebisanya  memotong anggaran/pengeluaran bulanan. Misalnya, apa masih perlu makan di restoran, apa masih perlu ke pusat kebugaran, apa masih perlu beli sepatu baru, apa masih perlu beli parfum mahal, apa masih perlu mencucikan sepatu, apa masih perlu ke laundry dan sebagainya. Jika kita pas-pasan, cuci sendiri saja dulu. Cuci mobil sendiri saja, setrika sendiri saja.

-Mencari tambahan atau sumber penghasilan baru. Ada yang wartawan, jual peyek, bisa bikin ketan punel jual ketan punel, ahli gurami bakar, jual. Tak usah malu.

-Lunasi hutang yang berbunga tinggi.

-Jaga jaringan, jaga pertemanan. Siapa tahu teman yang bisnisnya moncer karena pandemi bisa membantu teman yang terpuruk karena pandemi. *Inilah pentingnya kita berteman dan jangan pernah  sekalipun menyakiti teman.* Teman sejati, akan tetap ada dan datang membantu.

-Jangan sakit. Dengan berolah raga tiap hari, hidup sehat, tidak begadang, tidak keluyuran, makan sayur, buah, dan dekat sama Tuhan dan keluarga agar tenang dan damai.

 

Tinggalkan Balasan