google.com, pub-6135897251816907, DIRECT, f08c47fec0942fa0
NASIONAL

Seks dalam Tayub, Ronggeng, dan Wayang

TIRAS.id

 

TIRAS.id — Demi tujuan politik ayahnya, Ratu Pembayun–yang disebut sekaring kedaton Mataram–ketika letak keraton masih di Kota Gede, pernah memanggul misi negara untuk menaklukkan Ki Ageng Mangir Wanabaya di tlatah Mangir.

Konon, ketika Panembahan Senopati membangun hutan Tambak Baya dan wilayah sekitarnya menjadi Keraton Mataram, sudah ada perjanjian bahwa tlatah Mangir, yang dikuasai Ki Ageng Mangir, diberi status istimewa untuk memiliki sendiri sistem pemerintahan lokalnya dan dengan sendirinya tak harus membayar upeti kepada Raja.

Tapi, di kemudian hari, nafsu sang Raja untuk mengembangkan wilayah menjadi lebih luas telah membuatnya nekat memutuskan mengirim putrinya sendiri sebagai tayub atau ronggeng buat memikat Ki Ageng Mangir. Panembahan Senopati memandang Ki Ageng Mangir sebagai musuh bebuyutan yang harus dilumatkan.

Dengan pengawalan kuat tapi terselubung, sang putri pun berangkat. Dan dari desa ke desa di wilayah Mangir, pertunjukan tayub itu berlangsung. Kabar pun segera memenuhi seluruh desa bahwa ada tayub luar biasa hebat yang sedang menyelenggarakan pertunjukan di desa mereka. Di daerah Yogya, tayub juga disebut tledek atau ledek.

Syahdan, Ki Ageng Mangir pun mendengar berita itu dan ia membuktikan sendiri kebenarannya. Maka, setelah rombongan kesenian tersebut memasuki desa induk, tempat Ki Ageng Mangir tinggal, beliau pun menyuruh orang-orang kepercayaannya membawa rombongan itu ke rumahnya.

Ki Ageng terpikat pada kecantikan Ratu Pembayun yang sedang menayub atau meronggeng itu. Penggede tanah perdikan Mangir itu betul-betul mabuk. Maka, sehabis pertunjukan, rombongan boleh kembali ke penginapan di desa yang agak jauh dari desa induk, tapi sang tledek tak boleh pergi.

Ia diminta tidur di rumah Ki Ageng. Dan wong ayu itu tentu saja menjadi bunga malam yang memperindah tidur Ki Ageng. Semalam, dua malam, tiga malam, seminggu, sebulan, dua bulan, Ki Ageng belum juga merasa puas.

Ringkas cerita, sang ronggeng tak boleh pulang. Dan Ratu Pembayun, ibarat ikan di kali, sudah masuk ke dalam wuwu, alat penangkap ikan, yang menjebak ikan mudah masuk tapi tak mungkin keluar.

Ki Ageng Mangir, yang belum menyadari dirinya juga terperangkap, merasa cintanya makin mendalam terhadap Ratu Pembayun.

Itulah kesulitan Ki Ageng Mangir.

Dalam cerita rakyat di Yogyakarta disebutkan bahwa Ki Ageng kemudian diajak sowan ke keraton, berbakti kepada mertua, dengan pengawalan prajurit. Tapi, di luar batas keraton, ia tak diperbolehkan membawa prajuritnya.

“Tidak pantas, Ki Ageng. Masak, menghadap mertua membawa prajurit seperti pasukan mau menyerang musuh? Ini soal kepantasan, Ki Ageng,” bujuk pengawal Mataram.

Dan ketika semua prajuritnya ditinggalkan di luar keraton, dan ia hanya datang sendirian, ia pun masih tetap diminta tak usah membawa tombak pusakanya yang hebat, “Tombak Baru Klinthing”, ke paseban (tempat sang raja menerima tamu).

“Tidak pantas, Ki Ageng, sowan mertua kok membawa senjata,” kata pengawal yang lain lagi. Ki Ageng pun, apa boleh buat, menurut. Dan ketika Ki Ageng Mangir sedang sungkem kepada sang mertua, kepalanya dijambak sang Raja dan dibenturkan ke batu gilang sampai hancur luluh.

Jenazahnya dimakamkan di lingkungan makam keluarga keraton di Kota Gede (Imogiri belum menjadi makam keluarga raja), dengan susunan separuh di dalam dan separuhnya lagi di luar cungkup (peneduh), karena ia separuh menantu tapi separuhnya lagi musuh mengerikan.

Dalam teater tradisional Jawa, yang disebut ketoprak, lakon Ratu Pembayun sering dipentaskan. Tapi unsur seks di dalamnya tak terasa, atau tampak sangat halus, lembut, dan wajar sekali, menjadi bagian dalam tembang mabuk cinta yang lebih simbolis.

Tarian tayub atau tledek pun hanya indahnya yang mencolok. Dengan begitu, lakon macam ini tak akan pernah bisa dianggap porno. Tindakan orang-orang kota yang menggerogoti uang rakyat, yang membuat keuangan negara hampir ludes, lebih porno daripada semua yang dianggap porno.

Inilah seharusnya yang sangat layak dan wajib diperangi oleh semua agama dan orang beragama karena porno mereka mengancam keselamatan negara.

Dalam dunia wayang, bayangan simbolis kehidupan manusia, seks juga ada. Tapi tingkah laku seks manusia ataupun dewa di sana tak ditampilkan secara terbuka. Unsur penghalusan, simbolisasi, atau penyamaran sangat jelas sehingga apa yang sebenarnya merupakan suatu bentuk hubungan seks tak pernah kelihatan.

Ketika Dewi Anjani bertapa berbulan-bulan di hutan Dandhaka dan tak boleh memakan apa pun kecuali daun yang kebetulan jatuh di pangkuannya, dan ketika Anjani hamil tanpa suami, wayang tak mengatakan detail tingkah laku seksual itu.

Dalam wayang hanya dikatakan bahwa air mani Batara Guru menetes ke selembar daun ketika terpesona pada kecantikan Anjani, dan daun pun jatuh di pangkuan Anjani, dan dimakannya. Dalam cerita dikatakan, itulah yang membuatnya hamil.

Juga dalam kisah tragis Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesi yang menggemparkan itu. Mereka dikutuk dewa. Soalnya, Begawan Wisrawa dianggap melanggar larangan dewa karena telah berani membuka rahasia ilmu makrifat, ”Sastra Jendrayunigrat Pangruwatingdiyu”. Ilmu ini dilarang diungkapkan karena akan berarti mengungkap rahasia jagat.

Maka mereka pun menjadi yang “terkutuk”. Dan kutukan itu menakdirkan mereka berhubungan seks, dan kelak, hasilnya, lahirlah Dasamuka, yang menjadi sumber ancaman keselamatan dunia seperti Amerika Serikat.

Dalam wayang, cara penggambaran hubungan seks begitu simbolis dan indah, seolah bahkan karena ada unsur magis dan mulia yang melandasinya.

Pendeknya, hubungan seks di dunia wayang tak pernah tampak vulgar sebagaimana di dalam blue film. Anak-anak pun dengan begitu tak pernah dilarang nonton wayang, termasuk ketika sebuah lakon yang di dalamnya ada hubungan seksnya dipentaskan.

Tayub atau tledek

Di daerah pantai utara dan pedalaman yang dulu disebut “Karesidenan” Banyumas dan sekitarnya, sampai ke Cirebon dan beberapa wilayah lain Jawa Barat, lebih populer dengan sebutan ronggeng. Tayub atau ronggeng memang pertunjukan seni tari yang bukan sekadar seni tari.

Banyak orang yang bisa menari. Tapi tak semua orang bisa menjadi ronggeng dalam arti sebenarnya karena–seperti dapat dibaca di dalam novel trilogi Ahmad Tohari yang sangat bagus: Ronggeng Dukuh Paruk–seseorang bisa disebut ronggeng, seperti halnya Srintil, bila ia memiliki indang ronggeng tulen, sejenis “wahyu” dari alam gaib yang memberi seorang ronggeng kekuatan berupa daya tarik dan pesona luar biasa yang tak mudah dijelaskan dengan akal.

Unsur kepercayaan ini turut memberikan warna dalam kehidupan ronggeng, sehingga–apa boleh buat–ronggeng tak dapat dilihat semata sebagai fenomena kesenian sebagaimana adanya.

Maka, bila di dalamnya terdapat pula unsur seks dan tindakan-tindakan erotis yang mungkin menggiurkan, atau mendebarkan, atau mungkin pula ada yang menganggapnya tindakan haram atau “terkutuk”, perkaranya harus pula dilihat dalam konteks yang lebih luas dari sekadar urusan nafsu seks manusia.

Di sini, hadirnya unsur seks atau hal-hal terlarang tak bisa dianggap sebagai sekadar ungkapan kebebasan nafsu berahi yang tak terkendali. Kita diminta untuk melihatnya dalam kaitan dengan apa yang merupakan tradisi.

Tayub atau ronggeng dalam kisah Ratu Pembayun pun begitu. Ia harus dibaca dalam konteks strategi politik dan bukan cerminan luapan nafsu.

Boleh jadi para pelakunya juga merasa jenuh, muak, dan jijik. Bahwa seks adalah seks, dan haram adalah haram, mungkin lain dimensinya. Kita perlu berhati-hati menyikapinya.

pimpinan media

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan