TIRAS.id –– Ratusan Warga Bintara Jaya Menengadah ke Langit, Di Tengah Panas Menyengat Mereka Memohon Hujan
BEKASI — Matahari baru meninggi, tetapi panas sudah terasa menyengat. Di tengah langit yang cerah tanpa tanda-tanda hujan, ratusan warga justru berkumpul di Lapangan Bola Kompleks Puri Idaman, Bintara Jaya, Minggu (20/9/2026).
Bukan untuk berolahraga. Bukan pula untuk sebuah perayaan.
Mereka datang membawa sajadah dan harapan.
Pagi itu, warga bersama Yayasan Pena Ilmu menggelar Salat Istisqa, salat sunnah untuk memohon turunnya hujan. Di tengah cuaca panas yang dirasakan warga Bekasi dan wilayah sekitarnya, lapangan bola berubah menjadi ruang munajat terbuka.
Barisan jamaah tersusun rapi. Sajadah dibentangkan. Kepala tertunduk dalam kekhusyukan.
Lalu, doa-doa pun mengalir ke langit.
Ratusan tangan terangkat. Satu permohonan yang sama menggema: turunnya hujan.
Salat Istisqa dipimpin Ustadz H. Agus Dhani sebagai imam sekaligus khatib. Dalam khutbahnya, ia mengingatkan bahwa permohonan hujan bukan semata-mata tentang perubahan cuaca, tetapi juga momentum untuk menyadari keterbatasan manusia di hadapan Allah SWT.
“Di tengah ujian cuaca panas, kita hadir untuk meluruskan shaf, bermunajat, dan memohon rahmat Allah SWT.”
Ia berharap ikhtiar tersebut membawa keberkahan sekaligus hujan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Panas Menyengat, Doa Menggema
Momen paling menggetarkan terjadi ketika doa bersama dimulai.
Ratusan jamaah menengadahkan tangan. Suara “amin” bersahutan di tengah lapangan. Matahari tetap menyengat, tetapi jamaah bertahan dalam kekhusyukan.
Pemandangan itu menjadi kontras: bumi terasa panas dan kering, sementara manusia menengadah mencari harapan dari langit.
Pembina Yayasan Pena Ilmu, KH Irvan Jusuf, mengatakan pemilihan lapangan terbuka merupakan bagian dari tradisi pelaksanaan Salat Istisqa.
“Kami sengaja mengumpulkan jamaah di Lapangan Puri Idaman ini agar seluruh warga dapat bersama-sama bermunajat di tempat terbuka.”
Menurutnya, berkumpul di lapangan bukan sekadar persoalan tempat. Ada pesan kebersamaan, kerendahan hati, dan kesungguhan dalam memohon pertolongan Allah SWT.
“Ketika banyak tangan terangkat dan doa dipanjatkan secara berjamaah, kami berharap ikhtiar spiritual ini semakin mendatangkan keberkahan dan dikabulkannya permohonan hujan bagi daerah yang sedang mengalami kekeringan.”
Bukan Sekadar Menunggu Hujan
Cuaca panas berkepanjangan, kata KH Irvan, bukan hanya persoalan lingkungan. Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi aktivitas masyarakat sehari-hari.
Karena itu, masyarakat melakukan dua bentuk ikhtiar: usaha lahiriah dan usaha batiniah.
Salat Istisqa menjadi simbol bahwa ketika manusia berhadapan dengan sesuatu yang berada di luar kendalinya, masih ada ruang untuk berhenti sejenak, berkumpul, berdoa dan mengingat kembali hubungan manusia dengan Sang Pencipta.
Pagi itu, warga Bintara Jaya memilih menatap langit.
Mereka tidak tahu kapan hujan akan turun.
Namun satu hal jelas: di bawah terik matahari, ratusan orang datang dengan satu harapan—semoga langit segera menurunkan air yang dinanti.













