Kawula MudaKolom

Menjadi Sosok yang Spesial di Era Digital: Dalam Catatan Bujo Budi Jojo

×

Menjadi Sosok yang Spesial di Era Digital: Dalam Catatan Bujo Budi Jojo

Sebarkan artikel ini

TIRAS.id –– Menjadi Sosok yang Spesial di Era Digital
Dalam Catatan Bujo Budi Jojo

Era digital adalah panggung raksasa tempat semua orang berebut perhatian. Di tengah algoritma yang seragam, tren yang datang dan pergi dalam hitungan jam, serta tekanan untuk selalu terlihat “sempurna” di media sosial, menjadi sosok yang spesial kerap disalahartikan sebagai menjadi yang paling viral.

Namun, bagi Budi Jojo—atau yang akrab menuangkan pemikirannya dalam jurnal pribadi alias Bujo—menjadi spesial justru dimulai dari tindakan yang paling sederhana dan analog: berjarak sejenak dari layar, lalu menuliskan rasi bintang pikirannya di atas kertas.

Dalam lembar-lembar catatan Bujo-nya, Budi Jojo merumuskan bahwa esensi menjadi sosok yang spesial di era digital bukanlah tentang seberapa banyak tanda suka yang diraih, melainkan seberapa autentik jejak yang ditinggalkan.

Menolak Seragam di Dunia yang Teralgoritma

Di era sekarang, selera kita sering kali didikte oleh apa yang terus-menerus muncul di beranda. Algoritma perlahan ikut menentukan apa yang kita lihat, dengar, baca, bahkan apa yang dianggap menarik.

Budi Jojo mencatat dalam jurnalnya: “Hari ini algoritma menyuruhku membeli sepatu yang sama dengan sepuluh ribu orang lainnya. Aku memilih memakai sepatu lamaku dan berjalan ke toko buku bekas.”

Menjadi spesial berarti berani memiliki preferensi sendiri. Di tengah arus informasi yang semakin seragam, orang yang memiliki kedalaman berpikir, menekuni hobi secara konsisten—bukan sekadar demi konten—serta memiliki opini yang lahir dari pengalaman dan kebiasaan membaca akan selalu memancarkan daya tarik yang berbeda.

Keunikan tidak selalu lahir dari sesuatu yang baru. Terkadang, ia justru tumbuh dari keberanian untuk tetap menjadi diri sendiri ketika semua orang bergerak ke arah yang sama.

Autentisitas di Balik Filter

Dunia digital penuh dengan kurasi, penyuntingan, dan filter. Kita terbiasa melihat versi terbaik dari kehidupan orang lain: liburan yang indah, pencapaian yang membanggakan, makanan yang menggugah selera, atau karier yang seolah berjalan tanpa hambatan.

Dalam catatan Bujo-nya, Budi Jojo justru kerap menggambar sketsa sederhana atau menuliskan kegagalan-kegagalannya selama sepekan. Baginya, menjadi spesial di era digital berarti berani menjadi manusia seutuhnya—seseorang yang memiliki kekurangan, pernah gagal, tetapi terus berproses.

Ketika banyak orang mengenakan “topeng” kesempurnaan, keberanian untuk jujur terhadap proses justru menjadi sesuatu yang langka. Kerendahan hati untuk mengakui bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana dapat menjadi bentuk autentisitas yang paling kuat.

Sebab, manusia tidak hanya dibentuk oleh keberhasilannya. Ia juga dibentuk oleh kegagalan, keraguan, kesalahan, dan keberanian untuk mencoba kembali.

Koneksi yang Mendalam, Bukan Sekadar Jaringan

Kita dapat memiliki ribuan teman di dunia maya, tetapi tetap merasa kesepian di dunia nyata. Jumlah pengikut, kontak, dan koneksi digital tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman hubungan antarmanusia.

Jurnal Budi Jojo sering kali memuat halaman khusus bernama People to Gratitude—orang-orang yang disyukuri. Di sana ia mencatat nama sahabat yang menelepon ketika sedang bersedih, seseorang yang pernah memberikan nasihat pada saat yang tepat, atau bahkan tukang kopi langganan yang selalu menyambut dengan senyum tulus.

Sosok yang spesial di era digital adalah mereka yang tidak kehilangan sentuhan kemanusiaannya. Mereka adalah orang-orang yang ketika berbicara dengan kita, memilih meletakkan ponsel dan memberikan perhatian sepenuhnya.

Ponselnya mungkin ada di atas meja, tetapi pikirannya hadir bersama lawan bicaranya.

Di tengah budaya multitasking dan notifikasi yang tidak pernah berhenti, kemampuan untuk benar-benar hadir menjadi sebuah kemewahan. Mendengarkan dengan sungguh-sungguh, menatap mata ketika berbicara, dan memberikan waktu tanpa gangguan merupakan bentuk perhatian yang sederhana, tetapi semakin berharga.

Kreativitas yang Membumi

Menggunakan Bullet Journal atau Bujo di tengah kehidupan yang dipenuhi aplikasi otomatis juga dapat dilihat sebagai sebuah pernyataan sikap. Budi Jojo memilih menulis dengan pena karena ada jeda yang tercipta antara pikiran dan gerakan tangan.

Jeda itu penting.

Ada ruang bagi pikiran untuk mengendap, bagi gagasan untuk berkembang, dan bagi seseorang untuk memahami apa yang sebenarnya ia pikirkan. Dalam keheningan tersebut, kreativitas sering kali menemukan jalannya sendiri.

Sosok yang spesial di era digital bukanlah mereka yang menolak teknologi. Sebaliknya, mereka memahami kapan teknologi perlu digunakan dan kapan gawai harus dimatikan.

Teknologi adalah alat, bukan pusat kehidupan.

Ketika layar dimatikan, seseorang dapat kembali membaca buku, berjalan kaki, berbincang tanpa gangguan, menulis dengan tangan, menikmati secangkir kopi, atau sekadar duduk dalam keheningan. Dari ruang-ruang sederhana semacam itulah gagasan yang lebih orisinal dan bermakna sering lahir.

Menjaga Api Keunikan Diri

Melalui catatan Bujo-nya, Budi Jojo mengingatkan bahwa menjadi sosok yang spesial di era digital tidak membutuhkan pencahayaan studio yang megah, kamera mahal, atau jutaan pengikut.

Menjadi spesial adalah tentang menjaga “api” keunikan diri agar tidak padam oleh keseragaman digital.

Di dunia yang semakin ramai, kemampuan untuk tetap mendengar suara diri sendiri menjadi penting. Tidak semua tren harus diikuti. Tidak semua opini harus dikomentari. Tidak semua momen harus diunggah.

Ada kalanya seseorang justru menjadi lebih menarik ketika ia tidak sibuk membuktikan bahwa dirinya menarik.

Pada akhirnya, menjadi spesial bukan perkara terlihat berbeda di mata banyak orang. Ia lebih dekat dengan kemampuan untuk mengenali siapa diri kita, apa yang kita yakini, apa yang ingin kita kerjakan, dan jejak seperti apa yang ingin kita tinggalkan.

Di tengah dunia digital yang terus bergerak cepat, mungkin sesekali kita memang perlu berhenti. Menutup layar. Mengambil pena. Membuka halaman kosong.

Lalu bertanya kepada diri sendiri: Jika semua algoritma berhenti menentukan apa yang harus kita lihat, sukai, dan kejar, sebenarnya kita ingin menjadi siapa?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *