Tantangan Orangtua Masa Kini untuk Memastikan Keamanan Aktivitas Online Anak

oleh


JAKARTA – Riset Google Trust and Security Research Team menyebutkan, sebanyak 51% orang tua dari anak yang bersekolah daring selama pandemi merasa ada peningkatan kekhawatiran tentang keamanan online. Di antaranya kekhawatiran terkait keamanan informasi anak, interaksi anak di ruang maya, dan konten yang dikonsumsi anak.

“Risiko yang mengancam anak ketika berselancar di dunia maya adalah konten-konten yang memengaruhi mental anak. Seperti konten ujaran kebencian, radikalisme, pornografi, kekerasan, hingga konten serangan cyber atau perundungan atau bullying,” sebut Pipit Djatma, Fundraiser Consultant & Psychosocial Activist IBU Foundation saat webinar Literasi Digital wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat, Rabu (2/9/2021).

Pipit mengungkapkan tantangan orangtua meliputi akses internet semakin mudah, kebanyakan orangtua masih gagap teknologi sehingga tidak tahu apa yang harus dilakukan, dan anak bebas berkoneksi tanpa aturan sebab belum memahami risikonya. Jadi bagaimana menciptakan keamanan internet bagi anak?

“Orangtua wajib memahami jaringan internet media sosial, minimal mengetahui cara memproteksi situs web dan media sosial yang berdampak negatif,” tutur Pipit.

Dia mengatakan orangtua bakal sulit menerapkan aturan bila tidak memahami apa itu internet dan media sosial seperti blog, Twitter, Instagram, TikTok, kebanyakan orangtua bahkan mengetahui TikTok dari anak-anak mereka. Selanjutnya bagaimana cara menggunakan internet dan pembuatan akun Google sesuai usia.

Di samping itu orangtua perlu mengarahkan anak untuk menggunakan perangkat dan media digital dengan tepat. Hal ini dilakukan supaya orangtua bisa memilah mana media yang akan digunakan anak dengan baik sesuai usia dan tahap perkembangan anak. Dari segi cara berkomunikasi dan mengedukasi anak, orangtua harus hadir saat anak berselancar menggunkan internet. Orangtua juga perlu mengedukasi mana situs yang edukatif dan memberi manfaat positif. Di saat orangtua mengarahkan anak ini pun menjadi momen untuk mendekatkan diri dengan anak.

Jangan lupa juga, orangtua perlu mengimbangi waktu penggunaan media digital dengan interaksi dunia nyata. Seperti memberikan pengalaman nyata misalnya bagaimana bersosialisasi. Memberikan kegiatan berupa kesenian, kegiatan luar ruangan, membaca, bermusik, dan permainan tradisional.

“Biasakan orangtua juga meminjamkan perangkat digital seperti iPad, handphone, komputer hanya sesuai kebutuhan saja. Agar mereka bisa mengendalikan diri dan belajar menggunakannya bersama keluarga,” sebutnya lagi.

Webinar Literasi Digital wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Di webinar kali ini, hadir pula nara sumber seperti Maria Ivana Simon, seorang Graphic Designer, Irma Nawangwulan, Lecture di IULI, dan Elfira Fitri, Student Affairs & Career Development Specialist.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 11 kali dilihat,  11 kali dilihat hari ini



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

No More Posts Available.

No more pages to load.