Syarifuddin Ketua MA: Hakim Sebagai Wakil Tuhan

HUT Mahkamah  Agung ke 75 Tahun (Sederhana, Khidmat & Penuhi Protokol Kesehatan)

TIRAS.id
“Hakim sebagai keadilan, perlu ingat pada akhirnya kita akan kembali ke Allah SWT. Tuhan Yang Maha Esa dan kita akan mempertanggung jawabkan  segala perbuatan kita di hadapannya-Nya.” — Dr. H. M. Syarifuddin, SH., MH (Ketua MA)

 

TIRAS.id– Momen HUT Ke – 75 Mahkamah Agung RI dipakai oleh Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia, Dr. H. M. Syarifuddin, SH., MH  untuk menyampaikan pesan kepada para Hakim yang bertugas di seluruh Indonesia.

“Bahwa Anda adalah benteng terakhir penentu keadilan bagi para pencari keadilan,”  ujar H.M Syarifuddin, mantan Ketua Kamar Pengawasan Mahkamah Agung itu mengingatkan.

Hakim sebagai korps akan tetap sebagai berperan sebagai wakil Tuhan. Sampai kapan pun. Salah satu perlambang hakim adalah simbol kartika, yang berarti setiap putusan hakim akan dipertanggungjawabkan pada Tuhan Yang Maha Adil.

“Hakim sebagai keadilan, perlu ingat pada akhirnya kita akan kembali ke Allah SWT. Tuhan Yang Maha Esa dan kita akan mempertanggung jawabkan  segala perbuatan kita di hadapannya-Nya,”  ujar pria kelahiran Baturaja, 17 Oktober 1954 itu.

Para hakim harus berani, dengan berpegang pada prinsip: “Katakanlah yang benar itu adalah benar dan yang bathil itu adalah bathil.

Seluruh hakim di Indonesia, wajib berkiblat ke nurani. Kecerdasan nurani, atau dalam konteks kekinian disebut sebagai kecerdasan spiritual, merupakan inti dari segala kecerdasan yang ada.

Nurani tentu berkait-berkelindan dengan ajaran luhur setiap agama. Nurani pasti akan mengingatkan hakim untuk senantiasa menjaga amanatnya, untuk mewakili Tuhan.

Alasan primer bagi penegak hukum untuk berbuat lebih baik. Lebih profesianal. Lebih bersih. Lebih transparan. Lebih berkeadilan. Juga lebih “menghadirkan” Tuhan dalam setiap putusannya.

“Para Hakim tidak boleh ragu apalagi takut dalam memutus perkara. Sepanjang semuanya dilakukan dalam koridor hukum dan perundangan-undangan serta tidak melanggar kode etik dan pedoman perilaku hakim,” kata H. M. Syarifuddin dari Gedung MA lt. 2 Command Center Mahkamah Agung.

Para hakim harus berani, dengan berpegang pada prinsip: “Katakanlah yang benar itu adalah benar dan yang bathil itu adalah bathil,” kata mantan Wakil Ketua Mahkamah Agung Bidang Yudisial. Ia sempat menjabat eselon I sampai dengan terpilih sebagai Hakim Agung pada tahun 2013.

Sebagai hakim yang disebut “Wakil Tuhan di dunia untuk menciptakan keadilan”,  Yang Mulia Hakim Syarifuddin mengajak semua warga peradilan  untuk bersama-sama dengan semua elemen masyarakat Indonesia, mewujudkan Indonesia Maju.

“Dengan ilmu yang dimiliki dan mengikuti suara hati. “Berkontribusi secara maksimal, ikhlas kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa,” ujar Ketua MA periode 2020-2025 di tengah para Hakim Agung dan Hakim Adhoc MA, pejabat eselon I-2 serta ketua pengadilan tingkat banding dan Ketua Pengadilan tingkat pertama.

Semua kegiatan HUT Mahkamah  Agung dilaksanakan sederhana, khidmat dan memenuhi protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Peserta HUT MA ada  banyak yang menyimak melalui Youtube atau IG live, para pimpinan pengadilan nominator penerima anugerah e-court juga perwakilan Kementerian dan Lembaga (Ketua MK, Ketua Komisi 3 DPR, Ketua Komisi Yudisial, Ketua KPK, Kepala BKPM) termasuk perwakilan akademisi juga perwakilan negara donor dan perwakilan masyarakat sipil.

aca

bacajuga: https://www.myedisi.com/matra/4205

 

 

 

Tinggalkan Balasan