Renungan

oleh Sebar Tweet

 

 

 

“Buih-Buih Omong-Omong: Omong Kopong Omong Bohong, Omong Bolong Omong Kosong”

Oleh: Fathonie Abdullah
(Journalist-Researcher)

‘Ghibah’ atau fitnah serta pencemaran nama baik plus pelecehan dilarang dan berdosa dalam ajaran Agama Islam. Dalam KUHP, ada pasal-pasal tertentu yang ‘siap dengan ancaman pidananya. Bahkan, dalam UU ITE juga ada ancaman sanksi pidana terhadap ‘hoax’ (berita bohong omong kosong).

Termasuk juga, ‘debat kusir’ atau perdebatan tanpa argumentasi plus data dan fakta yang otentik dan obyektif; atau informasi yang menyesatkan, pengumuman provokasi, dan hal-hal lain yang tendensius ‘negatif’ atau motifnya memang jahat atau kriminal.

Di media massa, dalam UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, ada pasal yang mengatur soal ‘hak koreksi dan ‘hak jawab’ jika suatu pemberitaan disomasi atau dipermasalahkan. Namun, dalam UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang ITE, tak ada kompromi selain ancaman pidana dan sanksi administratif.

Dalam KUHP, misalnya, ada pasal-pasal berikut yang mengaturnya:

“Pasal 156
Barang siapa di rnuka umum menyatakan perasaan permusuhan, kebencian atau
penghinaan terhadap suatu atau beherapa golongan rakyat Indonesia, diancam
dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling
banyak empat ribu lima ratus rupiah. Perkataan golongan dalam pasal ini dan
pasal berikutnya berarti tiap-tiap bagian dari rakyat Indonesia yang berbeda
dengan suatu atau beberapa bagian lainnya karena ras, negeri asal, agama,
tempat, asal, keturunan, kebangsaan atau kedudukan menurut hukum tata
negara.
Pasal 156a
Dipidana dengan pidana penjara selama-lumanya lima tahun barang siapa
dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan
perbuatan:
a. yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan
terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia;
b. dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apa pun juga,
yang bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Masih banyak lagi pasal-pasal dalam regulasi yang sudah ada yang “siap dengan ancaman pidana” bagi mereka yang terbukti bertindak jahat atau kriminal secara hukum — walaupun, sebenarnya ada juga Malaikat yang mempersaksikan dan Allah SWT Yang Maha Mengetahui bagi yang beriman; sebaliknya, yang kufur atau kafir (sengaja menentang keimanan).

Karena itu, tak ada salahnya membaca lagi kutipan beberapa Ayat Suci Al Qur’an berikut ini sebagai pedoman dalam hidup dan kehidupan supaya “tidak salah ucap dan salah tindakan” — yang sudah terlanjur, siap-siap saja dihukum.
(Sumber: Via Al-Qur’an Indonesia https://quran-id.com)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّاۤ اَوْحَيْنَاۤ اِلَيْكَ كَمَاۤ اَوْحَيْنَاۤ اِلٰى نُوْحٍ وَّا لنَّبِيّٖنَ مِنْۢ بَعْدِهٖ ۚ وَاَ وْحَيْنَاۤ اِلٰۤى اِبْرٰهِيْمَ وَاِ سْمٰعِيْلَ وَاِ سْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَا لْاَ سْبَا طِ وَعِيْسٰى وَاَ يُّوْبَ وَيُوْنُسَ وَهٰرُوْنَ وَسُلَيْمٰنَ ۚ وَاٰ تَيْنَا دَاوٗدَ زَبُوْرًا
innaaa auhainaaa ilaika kamaaa auhainaaa ilaa nuuhiw wan-nabiyyiina mim ba’dih, wa auhainaaa ilaaa ibroohiima wa ismaa’iila wa is-haaqo wa ya’quuba wal-asbaathi wa ‘iisaa wa ayyuuba wa yuunusa wa haaruuna wa sulaimaan, wa aatainaa daawuuda zabuuroo

“Sesungguhnya Kami mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya, dan Kami telah mewahyukan (pula) kepada Ibrahim, lsmail, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya; ‘Isa, Ayyub, Yunus, Harun, dan Sulaiman. Dan Kami telah memberikan Kitab Zabur kepada Daud.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 163)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَرُسُلًا قَدْ قَصَصْنٰهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلًا لَّمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ ۗ وَكَلَّمَ اللّٰهُ مُوْسٰى تَكْلِيْمًا
wa rusulang qod qoshoshnaahum ‘alaika ming qoblu wa rusulal lam naqshush-hum ‘alaiik, wa kallamallohu muusaa takliimaa

“Dan ada beberapa rasul yang telah Kami kisahkan mereka kepadamu sebelumnya dan ada beberapa rasul (lain) yang tidak Kami kisahkan mereka kepadamu. Dan kepada Musa, Allah berfirman langsung.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 164)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

رُسُلًا مُّبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ لِئَلَّا يَكُوْنَ لِلنَّا سِ عَلَى اللّٰهِ حُجَّةٌۢ بَعْدَ الرُّسُلِ ۗ وَكَا نَ اللّٰهُ عَزِيْزًا حَكِيْمًا
rusulam mubasysyiriina wa mungziriina li-allaa yakuuna lin-naasi ‘alallohi hujjatum ba’dar-rusul, wa kaanallohu ‘aziizan hakiimaa

“Rasul-rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasul-rasul itu diutus. Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 165)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

لٰـكِنِ اللّٰهُ يَشْهَدُ بِمَاۤ اَنْزَلَ اِلَيْكَ اَنْزَلَهٗ بِعِلْمِهٖ ۚ وَا لْمَلٰٓئِكَةُ يَشْهَدُوْنَ ۗ وَكَفٰى بِا للّٰهِ شَهِيْدًا
laakinillaahu yasy-hadu bimaaa angzala ilaika angzalahuu bi’ilmih, wal-malaaa-ikatu yasy-haduun, wa kafaa billaahi syahiidaa

“Tetapi Allah menjadi saksi atas (Al-Qur’an) yang diturunkan-Nya kepadamu (Muhammad). Dia menurunkannya dengan ilmu-Nya, dan para malaikat pun menyaksikan. Dan cukuplah Allah yang menjadi saksi.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 166)
*
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

هَلْ اُنَبِّئُكُمْ عَلٰى مَنْ تَنَزَّلُ الشَّيٰـطِيْنُ  ۗ
hal unabbi-ukum ‘alaa mang tanazzalusy-syayaathiin

“Maukah Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun?”
(QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 221)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

تَنَزَّلُ عَلٰى كُلِّ اَفَّا كٍ اَثِيْمٍ  ۙ
tanazzalu ‘alaa kulli affaakin asiim

“Mereka (setan) turun kepada setiap pendusta yang banyak berdosa,”
(QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 222)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يُّلْقُوْنَ السَّمْعَ وَاَ كْثَرُهُمْ كٰذِبُوْنَ  ۗ
yulquunas-sam’a wa aksaruhum kaazibuun

“mereka menyampaikan hasil pendengaran mereka, sedangkan kebanyakan mereka orang-orang pendusta.”
(QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 223)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا لشُّعَرَآءُ يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوٗنَ  ۗ
wasy-syu’arooo-u yattabi’uhumul-ghoowuun

“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat.”
(QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 224)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَلَمْ تَرَ اَنَّهُمْ فِيْ كُلِّ وَا دٍ يَّهِيْمُوْنَ  ۙ
a lam taro annahum fii kulli waadiy yahiimuun

“Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah,”
(QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 225)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاَ نَّهُمْ يَقُوْلُوْنَ مَا لَا يَفْعَلُوْنَ  ۙ
wa annahum yaquuluuna maa laa yaf’aluun

“dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)?”
(QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 226)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَذَكَرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا وَّا نْتَصَرُوْا مِنْۢ بَعْدِ مَا ظُلِمُوْا  ۗ وَسَيَـعْلَمُ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْۤا اَيَّ مُنْقَلَبٍ يَّـنْقَلِبُوْنَ
illallaziina aamanuu wa ‘amilush-shoolihaati wa zakarulloha kasiirow wangtashoruu mim ba’di maa zhulimuu, wa saya’lamullaziina zholamuuu ayya mungqolabiy yangqolibuun

“Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapat kemenangan setelah terzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang-orang kafir). Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.”
(QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 227)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَذَكَرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا وَّا نْتَصَرُوْا مِنْۢ بَعْدِ مَا ظُلِمُوْا  ۗ وَسَيَـعْلَمُ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْۤا اَيَّ مُنْقَلَبٍ يَّـنْقَلِبُوْنَ
illallaziina aamanuu wa ‘amilush-shoolihaati wa zakarulloha kasiirow wangtashoruu mim ba’di maa zhulimuu, wa saya’lamullaziina zholamuuu ayya mungqolabiy yangqolibuun

“Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapat kemenangan setelah terzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang-orang kafir). Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.”
(QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 227)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

شَرَعَ لَـكُمْ مِّنَ الدِّيْنِ مَا وَصّٰى بِهٖ نُوْحًا وَّا لَّذِيْۤ اَوْحَيْنَاۤ اِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهٖۤ اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى وَعِيْسٰۤى اَنْ اَقِيْمُوا الدِّيْنَ وَ لَا تَتَفَرَّقُوْا فِيْهِ ۗ كَبُـرَ عَلَى الْمُشْرِكِيْنَ مَا تَدْعُوْهُمْ اِلَيْهِ ۗ اَللّٰهُ يَجْتَبِيْۤ اِلَيْهِ مَنْ يَّشَآءُ وَيَهْدِيْۤ اِلَيْهِ مَنْ يُّنِيْبُ
syaro’a lakum minad-diini maa washshoo bihii nuuhaw wallaziii auhainaaa ilaika wa maa washshoinaa bihiii ibroohiima wa muusaa wa ‘iisaaa an aqiimud-diina wa laa tatafarroquu fiih, kaburo ‘alal-musyrikiina maa tad’uuhum ilaiih, allohu yajtabiii ilaihi may yasyaaa-u wa yahdiii ilaihi may yuniib

“Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan ‘Isa, yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki kepada agama tauhid dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya).”
(QS. Asy-Syura 42: Ayat 13)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَا تَفَرَّقُوْۤا اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَآءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًاۢ بَيْنَهُمْ ۗ وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَّبِّكَ اِلٰۤى اَجَلٍ مُّسَمًّى لَّقُضِيَ بَيْنَهُمْ ۗ وَ اِنَّ الَّذِيْنَ اُوْرِثُوا الْكِتٰبَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ لَفِيْ شَكٍّ مِّنْهُ مُرِيْبٍ
wa maa tafarroquuu illaa mim ba’di maa jaaa-ahumul-‘ilmu baghyam bainahum, walau laa kalimatung sabaqot mir robbika ilaaa ajalim musammal laqudhiya bainahum, wa innallaziina uurisul-kitaaba mim ba’dihim lafii syakkim min-hu muriib

“Dan mereka (Ahli Kitab) tidak berpecah-belah kecuali setelah datang kepada mereka ilmu (kebenaran yang disampaikan oleh para nabi), karena kedengkian antara sesama mereka. Jika tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dahulunya dari Tuhanmu (untuk menangguhkan azab) sampai batas waktu yang ditentukan, pastilah hukuman bagi mereka telah dilaksanakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang mewarisi Kitab (Taurat dan Injil) setelah mereka (pada zaman Muhammad), benar-benar berada dalam keraguan yang mendalam tentang Kitab (Al-Qur’an) itu.”
(QS. Asy-Syura 42: Ayat 14)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا لَّذِيْنَ يُحَآ جُّوْنَ فِى اللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ مَا اسْتُجِيْبَ لَهٗ حُجَّتُهُمْ دَا حِضَةٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ وَّلَهُمْ عَذَا بٌ شَدِيْدٌ
wallaziina yuhaaajjuuna fillaahi mim ba’di mastujiiba lahuu hujjatuhum daahidhotun ‘ingda robbihim wa ‘alaihim ghodhobuw wa lahum ‘azaabung syadiid

“Dan orang-orang yang berbantah-bantah tentang (agama) Allah setelah (agama itu) diterima, perbantahan mereka itu sia-sia di sisi Tuhan mereka. Mereka mendapat kemurkaan (Allah) dan mereka mendapat azab yang sangat keras.”
(QS. Asy-Syura 42: Ayat 16)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَللّٰهُ الَّذِيْۤ اَنْزَلَ الْكِتٰبَ بِا لْحَقِّ وَا لْمِيْزَا نَ ۗ وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّ السَّا عَةَ قَرِيْبٌ
allohullaziii angzalal-kitaaba bil-haqqi wal miizaan, wa maa yudriika la’allas-saa’ata qoriib

“Allah yang menurunkan Kitab (Al-Qur’an) dengan (membawa) kebenaran dan neraca (keadilan). Dan tahukah kamu, boleh jadi hari Kiamat itu sudah dekat?”
(QS. Asy-Syura 42: Ayat 17)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَكَذٰلِكَ اَوْحَيْنَاۤ اِلَيْكَ رُوْحًا مِّنْ اَمْرِنَا ۗ مَا كُنْتَ تَدْرِيْ مَا الْكِتٰبُ وَلَا الْاِ يْمَا نُ وَلٰـكِنْ جَعَلْنٰهُ نُوْرًا نَّهْدِيْ بِهٖ مَنْ نَّشَآءُ مِنْ عِبَا دِنَا ۗ وَاِ نَّكَ لَتَهْدِيْۤ اِلٰى صِرَا طٍ مُّسْتَقِيْمٍ
wa kazaalika auhainaaa ilaika ruuham min amrinaa, maa kungta tadrii mal-kitaabu wa lal-iimaanu wa laaking ja’alnaahu nuuron nahdii bihii man nasyaaa-u min ‘ibaadinaa, wa innaka latahdiii ilaa shiroothim mustaqiim

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) roh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab (Al-Qur’an) dan apakah iman itu, tetapi Kami jadikan Al-Qur’an itu cahaya, dengan itu Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing (manusia) kepada jalan yang lurus,”
(QS. Asy-Syura 42: Ayat 52)

*
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

تَـكَا دُ السَّمٰوٰتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْ فَوْقِهِنَّ وَا لْمَلٰٓئِكَةُ يُسَبِّحُوْنَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيَسْتَغْفِرُوْنَ لِمَنْ فِى الْاَ رْضِ ۗ اَ لَاۤ اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
takaadus-samaawaatu yatafaththorna ming fauqihinna wal-malaaa-ikatu yusabbihuuna bihamdi robbihim wa yastaghfiruuna limang fil-ardh, alaaa innalloha huwal-ghofuurur-rohiim

“Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya (karena kebesaran Allah) dan malaikat-malaikat bertasbih memuji Tuhannya dan memohonkan ampunan untuk orang yang ada di bumi. Ingatlah, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Asy-Syura 42: Ayat 5)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

نَحْنُ اَوْلِيٰۤـؤُکُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰ خِرَةِ ۚ وَلَـكُمْ فِيْهَا مَا تَشْتَهِيْۤ اَنْفُسُكُمْ وَلَـكُمْ فِيْهَا مَا تَدَّعُوْنَ
nahnu auliyaaa-ukum fil-hayaatid-dun-yaa wa fil-aakhiroh, wa lakum fiihaa maa tasytahiii angfusukum wa lakum fiihaa maa tadda’uun

“Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya (surga) kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh apa yang kamu minta.”
(QS. Fussilat 41: Ayat 31)
******

 

“Yang Hak & Yang Bathil: Yang Halal & Yang Haram”

Oleh: Fathonie Abdullah
(Journalist-Researcher)

Banyak Pimpinan Negara di dunia yang telah menyampaikan pandangannya (termasuk King Salman Raja Arab Saudi), para tokoh-tokoh di dunia internasional, sampai yang tertinggi UN General Secretary Mr Antonio Gutteres dan Sidang Majelis Umum PBB soal Palestina versus Israel.

Saya hanya mengingatkan bahwa Palestina sudah merdeka; sejak 2012, ada 193 Negara di dunia yang mengakuinya, termasuk PBB. Meski ada sebagian kawasan Palestina yang “dicaplok” Israel, alternatif solusinya referendum saja: pilih ikut Israel atau tetap dengan Palestina (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/wiki/State_of_Palestine).

Berikut kutipan beberapa Ayat Suci Al Qur’an untuk mengingatkan: antara yang ‘hak & batil’: ‘halal & haram’ — yang bisa terjadi dimana saja di dunia, tak hanya konflik “dendam bersejarah” berkepanjangan antara Israel dan Palestina (Sumber: * Via Al-Qur’an Indonesia https://quran-id.com).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ اَصْلُهَا ثَا بِتٌ وَّفَرْعُهَا فِى السَّمَآءِ
a lam taro kaifa dhoroballohu masalang kalimatang thoyyibatang kasyajaroting thoyyibatin ashluhaa saabituw wa far’uhaa fis-samaaa

“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit,”
(QS. Ibrahim 14: Ayat 24)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

تُؤْتِيْۤ اُكُلَهَا كُلَّ حِيْنٍ بِۢاِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَ مْثَا لَ لِلنَّا سِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ
tu-tiii ukulahaa kulla hiinim bi-izni robbihaa, wa yadhribullohul-amsaala lin-naasi la’allahum yatazakkaruun

“(pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.”
(QS. Ibrahim 14: Ayat 25)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيْثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيْثَةِ ٱِجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْاَ رْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَا رٍ
wa masalu kalimatin khobiisating kasyajarotin khobiisatinijtussat ming fauqil-ardhi maa lahaa ming qoroor

“Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.”
(QS. Ibrahim 14: Ayat 26)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَلَمْ يَأْتِكُمْ نَبَـؤُا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ قَوْمِ نُوْحٍ وَّعَا دٍ وَّثَمُوْدَ ۗ وَا لَّذِيْنَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ ۗ لَا يَعْلَمُهُمْ اِلَّا اللّٰهُ ۗ جَآءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِا لْبَيِّنٰتِ فَرَدُّوْۤا اَيْدِيَهُمْ فِيْۤ اَفْوَاهِهِمْ وَقَا لُوْۤا اِنَّا كَفَرْنَا بِمَاۤ اُرْسِلْـتُمْ بِهٖ وَاِ نَّا لَفِيْ شَكٍّ مِّمَّا تَدْعُوْنَـنَاۤ اِلَيْهِ مُرِيْبٍ
a lam ya-tikum naba-ullaziina ming qoblikum qoumi nuuhiw wa ‘aadiw wa samuud, wallaziina mim ba’dihim, laa ya’lamuhum illalloh, jaaa-at-hum rusuluhum bil-bayyinaati fa rodduuu aidiyahum fiii afwaahihim wa qooluuu innaa kafarnaa bimaaa ursiltum bihii wa innaa lafii syakkim mimmaa tad’uunanaaa ilaihi muriib

“Apakah belum sampai kepadamu berita orang-orang sebelum kamu (yaitu) kaum Nuh, ‘Ad, Samud, dan orang-orang setelah mereka. Tidak ada yang mengetahui mereka selain Allah. Rasul-rasul telah datang kepada mereka membawa bukti-bukti (yang nyata), namun mereka menutupkan tangannya ke mulutnya (karena kebencian), dan berkata, “Sesungguhnya kami tidak percaya akan (bukti bahwa) kamu diutus (kepada kami), dan kami benar-benar dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap apa yang kamu serukan kepada kami.””
(QS. Ibrahim 14: Ayat 9)

* Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَا لَتْ رُسُلُهُمْ اَفِى اللّٰهِ شَكٌّ فَا طِرِ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۗ يَدْعُوْكُمْ لِيَـغْفِرَ لَـكُمْ مِّنْ ذُنُوْبِكُمْ وَيُؤَخِّرَكُمْ اِلٰۤى اَجَلٍ مُّسَمًّى ۗ قَا لُوْۤا اِنْ اَنْتُمْ اِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُنَا ۗ تُرِيْدُوْنَ اَنْ تَصُدُّوْنَا عَمَّا كَا نَ يَعْبُدُ اٰبَآ ؤُنَا فَأْتُوْنَا بِسُلْطٰنٍ مُّبِيْنٍ
qoolat rusuluhum a fillaahi syakkung faathiris-samaawaati wal-ardh, yad’uukum liyaghfiro lakum ming zunuubikum wa yu-akhkhirokum ilaaa ajalim musammaa, qooluuu in angtum illaa basyarum mislunaa, turiiduuna ang tashudduunaa ‘ammaa kaana ya’budu aabaaa-unaa fa-tuunaa bisulthoonim mubiin

“Berkata rasul-rasul mereka: “Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kamu untuk memberi ampunan kepadamu dari dosa-dosamu dan menangguhkan [siksaan]mu sampai masa yang ditentukan?” Mereka berkata: “Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga. Kamu menghendaki untuk menghalang-halangi [membelokkan] kami dari apa yang selalu disembah nenek moyang kami, karena itu datangkanlah kepada kami bukti yang nyata.”
(QS. Ibrahim 14: Ayat 10)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَا لَتْ لَهُمْ رُسُلُهُمْ اِنْ نَّحْنُ اِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ وَلٰـكِنَّ اللّٰهَ يَمُنُّ عَلٰى مَنْ يَّشَآءُ مِنْ عِبَا دِهٖ ۗ وَمَا كَا نَ لَنَاۤ اَنْ نَّأْتِيَكُمْ بِسُلْطٰنٍ اِلَّا بِاِ ذْنِ اللّٰهِ ۗ وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ
qoolat lahum rusuluhum in nahnu illaa basyarum mislukum wa laakinnalloha yamunnu ‘alaa may yasyaaa-u min ‘ibaadih, wa maa kaana lanaaa an na-tiyakum bisulthoonin illaa bi-iznillaah, wa ‘alallohi falyatawakkalil-mu-minuun

“Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka, “Kami hanyalah manusia seperti kamu, tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Tidak pantas bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah saja hendaknya orang yang beriman bertawakal.”
(QS. Ibrahim 14: Ayat 11)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَا لَـنَاۤ اَ لَّا نَـتَوَكَّلَ عَلَى اللّٰهِ وَقَدْ هَدٰٮنَا سُبُلَنَا ۗ وَلَــنَصْبِرَنَّ عَلٰى مَاۤ اٰذَيْتُمُوْنَا ۗ وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُوْنَ
wa maa lanaaa allaa natawakkala ‘alallohi wa qod hadaanaa subulanaa, wa lanashbironna ‘alaa maaa aazaitumuunaa, wa ‘alallohi falyatawakkalil-mutawakkiluun

“Dan mengapa kami tidak akan bertawakal kepada Allah, sedangkan Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh, akan tetap bersabar terhadap gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang yang bertawakal berserah diri.””
(QS. Ibrahim 14: Ayat 12)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَقَا لَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِرُسُلِهِمْ لَـنُخْرِجَنَّكُمْ مِّنْ اَرْضِنَاۤ اَوْ لَـتَعُوْدُنَّ فِيْ مِلَّتِنَا ۗ فَاَ وْحٰۤى اِلَيْهِمْ رَبُّهُمْ لَــنُهْلِكَنَّ الظّٰلِمِيْنَ
wa qoolallaziina kafaruu lirusulihim lanukhrijannakum min ardhinaaa au lata’uudunna fii millatinaa, fa auhaaa ilaihim robbuhum lanuhlikannazh-zhoolimiin

“Dan orang-orang kafir berkata kepada rasul-rasul mereka, “Kami pasti akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu benar-benar kembali kepada agama kami.” Maka Tuhan mewahyukan kepada mereka, “Kami pasti akan membinasakan orang yang zalim itu.”
(QS. Ibrahim 14: Ayat 13)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَـنُسْكِنَنَّكُمُ الْاَ رْضَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ ۗ ذٰلِكَ لِمَنْ خَا فَ مَقَا مِيْ وَخَا فَ وَعِيْدِ
wa lanuskinannakumul-ardho mim ba’dihim, zaalika liman khoofa maqoomii wa khoofa wa’iid

“Dan Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu setelah mereka. Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (menghadap) ke hadirat-Ku dan takut akan ancaman-Ku.””
(QS. Ibrahim 14: Ayat 14)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا سْتَفْتَحُوْا وَخَا بَ كُلُّ جَبَّا رٍ عَنِيْدٍ
wastaftahuu wa khooba kullu jabbaarin ‘aniid

“Dan mereka memohon diberi kemenangan dan binasalah semua orang yang berlaku sewenang-wenang lagi keras kepala,”
(QS. Ibrahim 14: Ayat 15)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

مِّنْ وَّرَآئِهٖ جَهَـنَّمُ وَيُسْقٰى مِنْ مَّآءٍ صَدِيْدٍ
miw warooo-ihii jahannamu wa yusqoo mim maaa-ing shodiid

“di hadapannya ada Neraka Jahanam dan dia akan diberi minuman dengan air nanah,”
(QS. Ibrahim 14: Ayat 16)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يَّتَجَرَّعُهٗ وَلَا يَكَا دُ يُسِيْـغُهٗ وَيَأْتِيْهِ الْمَوْتُ مِنْ كُلِّ مَكَا نٍ وَّمَا هُوَ بِمَيِّتٍ ۗ وَمِنْ وَّرَآئِهٖ عَذَا بٌ غَلِيْظٌ
yatajarro’uhuu wa laa yakaadu yusiighuhuu wa ya-tiihil-mautu ming kulli makaaniw wa maa huwa bimayyit, wa miw warooo-ihii ‘azaabun gholiizh

“diteguk-teguknya (air nanah itu) dan dia hampir tidak bisa menelannya dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati; dan di hadapannya (masih ada) azab yang berat.”
(QS. Ibrahim 14: Ayat 17)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

مَثَلُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِرَبِّهِمْ اَعْمَا لُهُمْ كَرَمَا دِ ٱِشْتَدَّتْ بِهِ الرِّيْحُ فِيْ يَوْمٍ عَا صِفٍ ۗ لَا يَقْدِرُوْنَ مِمَّا كَسَبُوْا عَلٰى شَيْءٍ ۗ ذٰلِكَ هُوَ الضَّلٰلُ الْبَعِيْدُ
masalullaziina kafaruu birobbihim a’maaluhum karomaadinisytaddat bihir-riihu fii yaumin ‘aashif, laa yaqdiruuna mimmaa kasabuu ‘alaa syaii, zaalika huwadh-dholaalul-ba’iid

“Perumpamaan orang yang ingkar kepada Tuhannya, perbuatan mereka seperti abu yang ditiup oleh angin keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak kuasa (mendatangkan manfaat) sama sekali dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.”
(QS. Ibrahim 14: Ayat 18)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ بِا لْحَـقِّ ۗ اِنْ يَّشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيْدٍ
a lam taro annalloha kholaqos-samaawaati wal-ardho bil-haqq, iy yasya yuz-hibkum wa ya-ti bikholqing jadiid

“Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan langit dan bumi dengan hak (benar)? Jika Dia menghendaki, niscaya Dia membinasakan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu),”
(QS. Ibrahim 14: Ayat 19)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَّمَا ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ بِعَزِيْزٍ
wa maa zaalika ‘alallohi bi’aziiz

“dan yang demikian itu tidak sukar bagi Allah.”
(QS. Ibrahim 14: Ayat 20)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَبَرَزُوْا لِلّٰهِ جَمِيْعًا فَقَا لَ الضُّعَفٰٓ ؤُا لِلَّذِيْنَ اسْتَكْبَرُوْۤا اِنَّا كُنَّا لَـكُمْ تَبَعًا فَهَلْ اَنْـتُمْ مُّغْـنُوْنَ عَنَّا مِنْ عَذَا بِ اللّٰهِ مِنْ شَيْءٍ ۗ قَا لُوْا لَوْ هَدٰٮنَا اللّٰهُ لَهَدَيْنٰكُمْ ۗ سَوَآءٌ عَلَيْنَاۤ اَجَزِعْنَاۤ اَمْ صَبَرْنَا مَا لَــنَا مِنْ مَّحِيْصٍ
wa barozuu lillaahi jamii’ang fa qooladh-dhu’afaaa-u lillaziinastakbaruuu innaa kunnaa lakum taba’ang fa hal angtum mughnuuna ‘annaa min ‘azaabillaahi ming syaii, qooluu lau hadaanallohu lahadainaakum, sawaaa-un ‘alainaaa ajazi’naaa am shobarnaa maa lanaa mim mahiish

“Dan mereka semua (di Padang Mahsyar) berkumpul untuk menghadap ke hadirat Allah, lalu orang yang lemah berkata kepada orang yang sombong, “Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan kami dari azab Allah (walaupun) sedikit saja?” Mereka menjawab, “Sekiranya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh atau bersabar. Kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri.””
(QS. Ibrahim 14: Ayat 21)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَقَا لَ الشَّيْطٰنُ لَـمَّا قُضِيَ الْاَ مْرُ اِنَّ اللّٰهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَـقِّ وَوَعَدْتُّكُمْ فَاَ خْلَفْتُكُمْ ۗ وَمَا كَا نَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِّنْ سُلْطٰنٍ اِلَّاۤ اَنْ دَعَوْتُكُمْ فَا سْتَجَبْتُمْ لِيْ ۚ فَلَا تَلُوْمُوْنِيْ وَلُوْمُوْۤا اَنْفُسَكُمْ ۗ مَاۤ اَنَاۡ بِمُصْرِخِكُمْ وَمَاۤ اَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ ۗ اِنِّيْ كَفَرْتُ بِمَاۤ اَشْرَكْتُمُوْنِ مِنْ قَبْلُ ۗ اِنَّ الظّٰلِمِيْنَ لَهُمْ عَذَا بٌ اَ لِيْمٌ
wa qoolasy-syaithoonu lammaa qudhiyal-amru innalloha wa’adakum wa’dal-haqqi wa wa’attukum fa akhlaftukum, wa maa kaana liya ‘alaikum ming sulthoonin illaaa ang da’autukum fastajabtum lii, fa laa taluumuunii wa luumuuu angfusakum, maaa ana bimushrikhikum wa maaa angtum bimushrikhiyy, innii kafartu bimaaa asyroktumuuni ming qobl, innazh-zhoolimiina lahum ‘azaabun aliim

“Dan setan berkata ketika perkara (hisab) telah diselesaikan, “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekadar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku tidak dapat menolongmu, dan kamu pun tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu menyekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.” Sungguh, orang yang zalim akan mendapat siksaan yang pedih.”
(QS. Ibrahim 14: Ayat 22)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاُ دْخِلَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَ نْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا بِاِ ذْنِ رَبِّهِمْ ۗ تَحِيَّتُهُمْ فِيْهَا سَلٰمٌ
wa udkhilallaziina aamanuu wa ‘amilush-shoolihaati jannaating tajrii ming tahtihal-an-haaru khoolidiina fiihaa bi-izni robbihim, tahiyyatuhum fiihaa salaam

“Dan orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan dimasukkan ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya dengan seizin Tuhan mereka. Ucapan penghormatan mereka dalam (surga) itu ialah salam.”
(QS. Ibrahim 14: Ayat 23)

*****

“Persaksian Alamiah-Ilmiah Alam Semesta”

Oleh: Fathonie Abdullah
(Journalist-Researcher)

Para ‘saksi kunci’ dan ‘alat bukti’ merupakan fakta  persidangan yang bisa direkonstruksi seperti peristiwa yang faktual. Di pengadilan, Jaksa Penuntut dan Pembela berupaya berargumentasi dengan sejumlah bukti- bukti untuk para Dewan Hakim mempertimbangkan dan mengeksekusi terdakwa dengan ‘vonis bersalah’ atau ‘vonis bebas’.

Jika masih “belum juga memuaskan”, hasil putusan Hakim Ketua bisa banding lagi, misalnya dari Pengadilan Negeri Negara ke Pengadilan Tinggi Mahkamah Agung. Hasil forensik yang lebih “canggih”, menghadirkan para saksi ahli/pakar, penemuan terbaru ‘alat bukti’, dan ‘kesaksian utama bisa menjadi fakta baru yang memungkinkan Dewan Hakim mempertimbangkan kembali vonis baru apa yang akan dieksekusi pada terdakwa.

Andai saja Semut-Semut dan Cacing-Cacing bisa bicara, tentu para Semut dan Cacing akan menyampaikan dokumentasi rekaman suara dan gambar yang ada dan yang sebenarnya. Atau, seperti Burung-Burung yang “mengabarkan” berbagai peristiwa yang telah terjadi di mana-mana di seluruh dunia. Persaksian alamiah-ilmiah alam semesta bisa mewujud dalam banyak fakta dan “tanda”. Tak ada lagi bukit dan gunung, contohnya; atau, menghilangnya kawasan hutan belantara dan hutan bakau, atau rusaknya terumbu karang. Begitu banyak “jejak-jejak”, yang bahkan bisa ditelusuri secara lintas ranah dan sejarah ‘dari masa ke masa’ sebagai ‘bukti sejarah’ yang faktual ‘dalam darah’ ” garis keturunan” yang sudah melimpahruah melampaui ‘sejarah dan ‘se-jazirah’.

Dalam Al Qur’an, seperti kutipan beberapa ayat berikut ini, ditegaskan soal keberulangan dan kehancuran serta konsumsi makanan yang relatif tak berubah dari generasi ke generasi kecuali hanya variasi dan gairah berpindah-pindah:

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

بَدِيْعُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۗ وَ اِذَا قَضٰۤى اَمْرًا فَاِ نَّمَا يَقُوْلُ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ
badii’us-samaawaati wal-ardh, wa izaa qodhooo amrong fa innamaa yaquulu lahuu kung fa yakuun

“(Allah) Pencipta langit dan bumi. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 117)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَ رْضِ ۗ وَاِ نْ تُبْدُوْا مَا فِيْۤ اَنْفُسِكُمْ اَوْ تُخْفُوْهُ يُحَا سِبْكُمْ بِهِ اللّٰهُ ۗ فَيَـغْفِرُ لِمَنْ يَّشَآءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
lillaahi maa fis-samaawaati wa maa fil-ardh, wa ing tubduu maa fiii angfusikum au tukhfuuhu yuhaasibkum bihillaah, fa yaghfiru limay yasyaaa-u wa yu’azzibu may yasyaaa, wallohu ‘alaa kulli syai-ing qodiir

“Milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Jika kamu nyatakan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu sembunyikan, niscaya Allah memperhitungkannya (tentang perbuatan itu) bagimu. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan mengazab siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 284)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَا تَكُوْنُ فِيْ شَأْنٍ وَّمَا تَتْلُوْا مِنْهُ مِنْ قُرْاٰ نٍ وَّلَا تَعْمَلُوْنَ مِنْ عَمَلٍ اِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُوْدًا اِذْ تُفِيْضُوْنَ فِيْهِ ۗ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَّبِّكَ مِنْ مِّثْقَا لِ ذَرَّةٍ فِى الْاَ رْضِ وَلَا فِى السَّمَآءِ وَلَاۤ اَصْغَرَ مِنْ ذٰلِكَ وَلَاۤ اَكْبَرَ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ
wa maa takuunu fii sya-niw wa maa tatluu min-hu ming qur-aaniw wa laa ta’maluuna min ‘amalin illaa kunnaa ‘alaikum syuhuudan iz tufiidhuuna fiih, wa maa ya’zubu ‘ar robbika mim misqooli zarroting fil-ardhi wa laa fis-samaaa-i wa laaa ashghoro ming zaalika wa laaa akbaro illaa fii kitaabim mubiin

“Dan tidaklah engkau (Muhammad) berada dalam suatu urusan, dan tidak membaca suatu ayat Al-Qur’an serta tidak pula kamu melakukan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu ketika kamu melakukannya. Tidak lengah sedikit pun dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah, baik di Bumi maupun di langit. Tidak ada sesuatu yang lebih kecil dan yang lebih besar daripada itu, melainkan semua tercatat (terdokumentasikan) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).”
(QS. Yunus 10: Ayat 61)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ ذْ قَا لَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اَرِنِيْ كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتٰى ۗ قَا لَ اَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۗ قَا لَ بَلٰى وَلٰـكِنْ لِّيَطْمَئِنَّ قَلْبِيْ ۗ قَا لَ فَخُذْ اَرْبَعَةً مِّنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ اِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلٰى كُلِّ جَبَلٍ مِّنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِيْنَكَ سَعْيًا ۗ وَا عْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
wa iz qoola ibroohiimu robbi arinii kaifa tuhyil-mautaa, qoola a wa lam tu-min, qoola balaa wa laakil liyathma-inna qolbii, qoola fakhuz arba’atam minath-thoiri fa shur-hunna ilaika summaj’al ‘alaa kulli jabalim min-hunna juz-ang summad’uhunna ya-tiinaka sa’yaa, wa’lam annalloha ‘aziizun hakiim

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.” Allah berfirman, “Belum percayakah engkau?” Dia (Ibrahim) menjawab, “Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang (mantap).” Dia (Allah) berfirman, “Kalau begitu, ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah olehmu, kemudian letakkan di atas masing-masing bukit satu bagian, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 260)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَوْ كَا لَّذِيْ مَرَّ عَلٰى قَرْيَةٍ وَّ هِيَ خَاوِيَةٌ عَلٰى عُرُوْشِهَا ۚ قَا لَ اَنّٰى يُحْيٖ هٰذِهِ اللّٰهُ بَعْدَ مَوْتِهَا ۚ فَاَ مَا تَهُ اللّٰهُ مِائَةَ عَا مٍ ثُمَّ بَعَثَهٗ ۗ قَا لَ كَمْ لَبِثْتَ ۗ قَا لَ لَبِثْتُ يَوْمًا اَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۗ قَا لَ بَلْ لَّبِثْتَ مِائَةَ عَا مٍ فَا نْظُرْ اِلٰى طَعَا مِكَ وَشَرَا بِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ ۚ وَا نْظُرْ اِلٰى حِمَا رِكَ ۗ وَلِنَجْعَلَكَ اٰيَةً لِّلنَّا سِ وَا نْظُرْ اِلَى الْعِظَا مِ كَيْفَ نُـنْشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوْهَا لَحْمًا ۗ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهٗ ۙ قَا لَ اَعْلَمُ اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
au kallazii marro ‘alaa qoryatiw wa hiya khoowiyatun ‘alaa ‘uruusyihaa, qoola annaa yuhyii haazihillaahu ba’da mautihaa, fa amaatahullohu mi-ata ‘aaming summa ba’asah, qoola kam labist, qoola labistu yauman au ba’dho yauum, qoola bal labista mi-ata ‘aaming fangzhur ilaa tho’aamika wa syaroobika lam yatasannah, wangzhur ilaa himaarik, wa linaj’alaka aayatal lin-naasi wangzhur ilal-‘izhoomi kaifa nungsyizuhaa summa naksuuhaa lahmaa, fa lammaa tabayyana lahuu qoola a’lamu annalloha ‘alaa kulli syai-ing qodiir

“Atau seperti orang yang melewati suatu negeri yang (bangunan-bangunannya) telah roboh hingga menutupi (reruntuhan) atap-atapnya, dia berkata, “Bagaimana Allah menghidupkan kembali (negeri) ini setelah hancur?” Lalu Allah mematikannya (orang itu) selama seratus tahun, kemudian membangkitkannya (menghidupkannya) kembali. Dan (Allah) bertanya, “Berapa lama engkau tinggal (di sini)?” Dia (orang itu) menjawab, “Aku tinggal (di sini) sehari atau setengah hari.” Allah berfirman, “Tidak! Engkau telah tinggal seratus tahun. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum berubah, tetapi lihatlah keledaimu (yang telah menjadi tulang-belulang). Dan agar Kami jadikan engkau tanda kekuasaan Kami bagi manusia. Lihatlah tulang-belulang (keledai itu), bagaimana Kami menyusunnya kembali kemudian Kami membalutnya dengan daging.” Maka ketika telah nyata baginya, dia pun berkata, “Saya mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.””
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 259)

* Via Al-Qur’an Indonesia https://quran-id.com

“Penggelapan dan Pembunuhan Terencana”

Oleh: Fathonie Abdullah
(Journalist-Researcher)

Tak banyak hal-hal yang aneh saat saya ikut keliling Pulau Jawa bersama rombongan kelompok Ta’lim Pimpinan H. Rick S.T. Mulyono & Hj Nucke Rachma SH ziarah kubur tokoh-tokoh Islam se-Jawa: mulai dari kuburan di Rawamangun Jakarta, berlanjut ke Cirebon & Kuningan, terus ke Semarang, Solo, Gresik, Surabaya, Jogya, Gunung Kidul, dll (seperti Makam Sunan Gunung Jati, dan tokoh-tokoh Islam masa lalu lainnya).

Seperti biasanya, sesuai pelajaran ‘Metodologi Riset Khusus’ yang sudah saya pelajari sejak masih jadi mahasiswa (Wawancara, Kuisener, Survay, Observasi), saya mendokumentasikan dengan alat bantu kamera foto, kamera video, alat tulis-rekam — dan, bahkan tanpa alat bantu pun saya sudah terbiasa ‘mendokumentasikan’ dengan ‘panca indera’ dan ‘pikiran’.

Kunjungan tersebut berbeda dengan ‘pendalaman materi’ tentang ‘makhluk halus’ yang pernah saya lakukan pada waktu rekan saya Walmer Sihotang membuat film “Dukun Santet” yang dibintangi (almarhum) Wawan Wanisar. Meski tak jadi di-film-kan, desertasi skenario saya bahwa ‘Ada Kasus Pembunuhan Terencana’ dan ‘Kasus Penggelapan’ (kriminalitas terselubung) di balik mitos-mitos yang menyeramkan-menakutkan, seperti: Kuntilanak, Sundal Bolong, Genderuwo, Siluman, Tuyul, Jin Jembatan, Jelangkung, Santet, dll yang sudah banyak dibaca dan ditonton serta didengar “cerita tipu dayanya” sejak ratusan tahun silam sampai turun temurun ke saat sekarang.

Memang, tak semua ‘klenik dan ‘paranormal’ penjahat; buktinya, silakan di-cek apakah ada laporan kriminal di pihak Kepolisian. Banyak di antara mereka, yang sebagian pernah saya wawancarai, dikenal baik oleh masyarakat; dan bahkan mantan Ketua Perkumpulan Paranormal (beranggotakan 20 ribu lebih di seluruh Indonesia),
Permadi, SH dikenal sebagai tokoh baik. Dan, Teman-teman saya di jurusan ‘Kriminolog’ pasti lebih bisa mendeskripsikannya berdasarkan studi kasus kriminalitas yang pernah terjadi selama ini di Indonesia.

Memang, fitnah dan pencemaran nama baik juga tindakan kriminal. Namun, tak semua kasus (terutama, kematian karena sakit dan kecelakaan; atau faktor kesehatan) bisa diungkap secara transparan seperti
Pandemi Covid-19 yang korbannya begitu banyak. Padahal, kematian karena ‘keracunan’, misalnya, sudah sering terjadi selama ini. Dan hal-hal tersebut pun sudah ada regulasinya (UU Kesehatan, UU Perlindungan Konsumen, dll), yang bisa juga dilaporkan ke YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia).

Ada baiknya diingat kutipan beberapa Ayat Al Qur’an berikut ini:

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا تَّبَعُوْا مَا تَتْلُوا الشَّيٰطِيْنُ عَلٰى مُلْكِ سُلَيْمٰنَ ۚ وَمَا کَفَرَ سُلَيْمٰنُ وَلٰـكِنَّ الشَّيٰـطِيْنَ كَفَرُوْا يُعَلِّمُوْنَ النَّا سَ السِّحْرَ وَمَاۤ اُنْزِلَ عَلَى الْمَلَـکَيْنِ بِبَا بِلَ هَا رُوْتَ وَمَا رُوْتَ ۗ وَمَا يُعَلِّمٰنِ مِنْ اَحَدٍ حَتّٰى يَقُوْلَاۤ اِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ ۗ فَيَتَعَلَّمُوْنَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُوْنَ بِهٖ بَيْنَ الْمَرْءِ وَ زَوْجِهٖ ۗ وَمَا هُمْ بِضَآ رِّيْنَ بِهٖ مِنْ اَحَدٍ اِلَّا بِاِ ذْنِ اللّٰهِ ۗ وَيَتَعَلَّمُوْنَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ ۗ وَلَقَدْ عَلِمُوْا لَمَنِ اشْتَرٰٮهُ مَا لَهٗ فِى الْاٰ خِرَةِ مِنْ خَلَا قٍ ۗ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهٖۤ اَنْفُسَهُمْ ۗ لَوْ کَانُوْا يَعْلَمُوْنَ
wattaba’uu maa tatlusy-syayaathiinu ‘alaa mulki sulaimaan, wa maa kafaro sulaimaanu wa laakinnasy-syayaathiina kafaruu yu’allimuunan-naasas-sihro wa maaa ungzila ‘alal-malakaini bibaabila haaruuta wa maaruut, wa maa yu’allimaani min ahadin hattaa yaquulaaa innamaa nahnu fitnatung fa laa takfur, fa yata’allamuuna min-humaa maa yufarriquuna bihii bainal-mar’i wa zaujih, wa maa hum bidhooorriina bihii min ahadin illaa bi-iznillaah, wa yata’allamuuna maa yadhurruhum wa laa yangfa’uhum, wa laqod ‘alimuu lamanisytaroohu maa lahuu fil-aakhiroti min kholaaq, wa labi-sa maa syarou bihiii angfusahum, lau kaanuu ya’lamuun

“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa Kerajaan Sulaiman. Sulaiman itu tidak kafir tetapi setan-setan itulah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babilonia, yaitu Harut dan Marut. Padahal, keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seseorang sebelum mengatakan, “Sesungguhnya kami hanyalah cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kafir.” Maka mereka mempelajari dari keduanya (malaikat itu) apa yang (dapat) memisahkan antara seorang (suami) dengan istrinya. Mereka tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengan sihirnya kecuali dengan izin Allah. Mereka mempelajari sesuatu yang mencelakakan dan tidak memberi manfaat kepada mereka. Dan sungguh, mereka sudah tahu, barang siapa membeli (menggunakan sihir) itu, niscaya tidak akan mendapat keuntungan di akhirat. Dan sungguh, sangatlah buruk perbuatan mereka yang menjual dirinya dengan sihir, sekiranya mereka tahu.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 102)
*
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

سَوَآءٌ مِّنْكُمْ مَّنْ اَسَرَّ الْقَوْلَ وَ مَنْ جَهَرَ بِهٖ وَمَنْ هُوَ مُسْتَخْفٍ بِۢا لَّيْلِ وَسَا رِبٌ بِۢا لنَّهَا رِ
sawaaa-um mingkum man asarrol-qoula wa mang jaharo bihii wa man huwa mustakhfim bil-laili wa saaribum bin-nahaar

“Sama saja (bagi Allah), siapa di antaramu yang merahasiakan ucapannya dan siapa yang berterusterang dengannya; dan siapa yang bersembunyi pada malam hari dan yang berjalan pada siang hari.”
(QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 10)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَحْمِلُ كُلُّ اُنْثٰى وَمَا تَغِيْضُ الْاَ رْحَا مُ وَمَا تَزْدَا دُ ۗ وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهٗ بِمِقْدَا رٍ
allohu ya’lamu maa tahmilu kullu ungsaa wa maa taghiidhul-ar-haamu wa maa tazdaad, wa kullu syai-in ‘ingdahuu bimiqdaar

“Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, apa yang kurang sempurna, dan apa yang bertambah dalam rahim. Dan segala sesuatu ada ukuran di sisi-Nya.”
(QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 8)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَ نْفُسِهِمْ ۗ وَاِ ذَاۤ اَرَا دَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّا لٍ
lahuu mu’aqqibaatum mim baini yadaihi wa min kholfihii yahfazhuunahuu min amrillaah, innalloha laa yughoyyiru maa biqoumin hattaa yughoyyiruu maa bi-angfusihim, wa izaaa aroodallohu biqouming suuu-ang fa laa marodda lah, wa maa lahum ming duunihii miw waal

“Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”
(QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 11)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِيْ يُرِيْكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا وَّطَمَعًا وَّيُنْشِئُ السَّحَا بَ الثِّقَا لَ
huwallazii yuriikumul-barqo khoufaw wa thoma’aw wa yungsyi-us-sahaabas-siqool

“Dialah yang memperlihatkan kilat kepadamu, yang menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia menjadikan mendung.”
(QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 12)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَيُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهٖ وَا لْمَلٰۤـئِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهٖ ۚ وَيُرْسِلُ الصَّوَا عِقَ فَيُصِيْبُ بِهَا مَنْ يَّشَآءُ وَهُمْ يُجَا دِلُوْنَ فِى اللّٰهِ ۚ  وَهُوَ شَدِيْدُ الْمِحَا لِ
wa yusabbihur-ro’du bihamdihii wal-malaaa-ikatu min khiifatih, wa yursilush-showaa’iqo fa yushiibu bihaa may yasyaaa-u wa hum yujaadiluuna fillaah, wa huwa syadiidul mihaal

“Dan guruh bertasbih memuji-Nya, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, sementara mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dia Maha Keras siksaan-Nya.”
(QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 13)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

عٰلِمُ الْغَيْبِ وَا لشَّهَا دَةِ الْكَبِيْرُ الْمُتَعَا لِ
‘aalimul-ghoibi wasy-syahaadatil-kabiirul-muta’aal

“(Allah) yang mengetahui semua yang gaib dan yang nyata; Yang Maha Besar, Maha Tinggi.”
(QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 9)

(Sumber:
* Via Al-Qur’an Indonesia https://quran-id.com)

“Expectation & Hope & Wish = Need & Want & Miracle”

By: Fathonie Abdullah
(Journalist-Researcher)

“Did you know about ‘dream comes true’?” Secara umum, pasti sudah diketahui; sama halnya ketika mempertanyakan soal ‘needs’ (kebutuhan nutrisi bergizi & kebutuhan biologis).

Bagaimana dengan ‘want’ atau ‘dream’; atau sekedar ‘hayalan kosong’ atau angan-angan yang mengawang-awang — namun bisa terjadi keajaiban. Sebenarnya, sederhana saja  memahami perbedaan ‘expectasy’ & ‘hope’ (ikhtiar), ‘wish’ & ‘miracle’ (doa).

Saat (alm) Bung Karno dan BJ Habibie menjadi Presiden RI tentu berkat doa rakyat. Dan, ketika (alm) Gus Dur menjadi Presiden RI lalu digantikan Megawati Soekarno Putri, tentu karena ‘expectasy’ & ‘hope’ masyarakat (keterwakilan di legislatif) para pendukungnya. Lalu, saat Soesilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo menjadi Presiden RI karena menang Pilpres atau menang “suara” terbanyak, juga tentu karena ‘hope’ mayoritas rakyat; meski, sebagian lainnya punya ‘expectasy’ pada rival kandidat lainnya.

Dalam konteks personal, bagi yang sudah bekerja misalnya, mendapatkan gaji yang layak tentu suatu ‘expectation’; dan, bisa punya karir yang terus meningkat plus penghasilan yang terus bertambah tentu suatu ‘hope’; meskipun, Kadang-kadang, ada ‘wish’ & ‘miracle’, seperti anak-anak Harry Tanoe — juga bisnis ‘keturunan’ lainnya — yang relatif singkat bisa melesat ke ‘top elite’ karir.

Dalam konteks psikologi-sosial, secara lebih definitif, terminologi ‘hope’ bisa  berarti:
“Hope is an optimistic state of mind that is based on an expectation of positive outcomes with respect to events and circumstances in one’s life or the world at large.[1] As a verb, its definitions include: “expect with confidence” and “to cherish a desire with anticipation.”[2]
(Source: https://en.m.wikipedia.org/wiki/Hope).

Dan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata ‘harapan’ contohnya, berarti: “ha·rap·an n 1 sesuatu yang (dapat) diharapkan: ia mempunyai ~ besar dapat memenangkan pertandingan itu; 2 keinginan supaya menjadi kenyataan: ~ ku agar ia kelak menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa; 3 orang yang diharapkan atau dipercaya: pemuda ~ bangsa;~ hidup 1 kemungkinan tetap hidup: ~ hidup korban pesawat yang nahas itu sangat tipis; 2 kemungkinan dapat hidup lebih lama” (Sumber: https://kbbi-web-id.cdn.ampproject.org/v/s/kbbi.web.id/harapan.html?amp_js_v=a6&amp_gsa=1&usqp=mq331AQHKAFQArABIA%3D%3D#aoh=16217492189224&referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com&amp_tf=Dari%20%251%24s&ampshare=https%3A%2F%2Fkbbi.web.id%2Fharapan).

Lebih jelas, bukan?; Dibandingkan dengan, misalnya Bahasa Indonesia, yang hanya mengenal ‘harapan atau ‘asa’ dan ‘cita-cita’ yang substansinya ialah kombinasi atau campuran ‘needs’ & ‘want’ plus ‘wish’ & ‘Miracle’.

Baca kutipan beberapa ayat Al Qur’an berikut ini sebagai pedoman pemahaman dalam hidup dan kehidupan sehari-hari mengenai hal tersebut di atas supaya tidak terjerumus atau tersesat atau ‘kemasukan sedang atau kena tipu daya pengaruh Iblis yang terkutuk.
(Sumber: * Via Al-Qur’an Indonesia https://quran-id.com).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰٮهُ ۗ اَفَاَ نْتَ تَكُوْنُ عَلَيْهِ وَكِيْلًا
a ro-aita manittakhoza ilaahahuu hawaah, a fa angta takuunu ‘alaihi wakiilaa

“Sudahkah engkau (Muhammad) melihat orang yang menjadikan keinginannya sebagai tuhannya. Apakah engkau akan menjadi pelindungnya?”
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 43)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَمْ تَحْسَبُ اَنَّ اَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُوْنَ اَوْ يَعْقِلُوْنَ ۗ اِنْ هُمْ اِلَّا كَا لْاَ نْعَا مِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ سَبِيْلًا
am tahsabu anna aksarohum yasma’uuna au ya’qiluun, in hum illaa kal-an’aami bal hum adhollu sabiilaa

“Atau apakah engkau mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu hanyalah seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat jalannya.”
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 44)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

تَبٰـرَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِى السَّمَآءِ بُرُوْجًا وَّجَعَلَ فِيْهَا سِرٰجًا وَّقَمَرًا مُّنِيْرًا
tabaarokallazii ja’ala fis-samaaa-i buruujaw wa ja’ala fiihaa siroojaw wa qomarom muniiroo

“Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan bintang-bintang dan Dia juga menjadikan padanya matahari dan bulan yang bersinar.”
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 61)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَهُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الَّيْلَ وَا لنَّهَا رَ خِلْفَةً لِّمَنْ اَرَا دَ اَنْ يَّذَّكَّرَ اَوْ اَرَا دَ شُكُوْرًا
wa huwallazii ja’alal-laila wan-nahaaro khilfatal liman arooda ay yazzakkaro au arooda syukuuroo

“Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau yang ingin bersyukur.”
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 62)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَلَمْ تَرَ اِلٰى رَبِّكَ كَيْفَ مَدَّ الظِّلَّ ۚ وَلَوْ شَآءَ لَجَـعَلَهٗ سَا كِنًا ۚ ثُمَّ جَعَلْنَا الشَّمْسَ عَلَيْهِ دَلِيْلًا
a lam taro ilaa robbika kaifa maddazh-zhill, walau syaaa-a laja’alahuu saakinaa, summa ja’alnasy-syamsa ‘alaihi daliilaa

“Tidakkah engkau memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang; dan sekiranya Dia menghendaki, niscaya Dia jadikannya (bayang-bayang itu) tetap, kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk,”
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 45)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

ثُمَّ قَبَضْنٰهُ اِلَـيْنَا قَبْضًا يَّسِيْرًا
summa qobadhnaahu ilainaa qobdhoy yasiiroo

“kemudian Kami menariknya (bayang-bayang itu) kepada Kami sedikit demi sedikit.”
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 46)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَهُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَـكُمُ الَّيْلَ لِبَا سًا وَّا لنَّوْمَ سُبَا تًا وَّجَعَلَ النَّهَا رَ نُشُوْرًا
wa huwallazii ja’ala lakumul-laila libaasaw wan-nauma subaataw wa ja’alan-nahaaro nusyuuroo

“Dan Dialah yang menjadikan malam untukmu (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang (‘on fire’) untuk bangkit berusaha.”
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 47)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَهُوَ الَّذِيْۤ اَرْسَلَ الرِّيٰحَ بُشْرًاۢ بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهٖ ۚ وَاَ نْزَلْنَا مِنَ السَّمَآءِ مَآءً طَهُوْرًا
wa huwallaziii arsalar-riyaaha busyrom baina yadai rohmatih, wa angzalnaa minas-samaaa-i maaa-ang thohuuroo

“Dan Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang sangat bersih,”
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 48)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

لِّـنُحْیِيَ بِهٖ بَلْدَةً مَّيْتًا وَّنُسْقِيَهٗ مِمَّا خَلَقْنَاۤ اَنْعَا مًا وَّاَنَا سِيَّ كَثِيْرًا
linuhyiya bihii baldatam maitaw wa nusqiyahuu mimmaa kholaqnaaa an’aamaw wa anaasiyya kasiiroo

“agar (dengan air itu) Kami menghidupkan negeri yang mati (tandus), dan Kami memberi minum kepada sebagian apa yang telah Kami ciptakan, (berupa) hewan-hewan ternak dan manusia yang banyak.”
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 49)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَـقَدْ صَرَّفْنٰهُ بَيْنَهُمْ لِيَذَّكَّرُوْا ۖ فَاَ بٰۤى اَكْثَرُ النَّا سِ اِلَّا كُفُوْرًا
wa laqod shorrofnaahu bainahum liyazzakkaruu  fa abaaa aksarun-naasi illaa kufuuroo

“Dan sungguh, Kami telah mempergilirkan (hujan) itu di antara mereka agar mereka mengambil pelajaran; tetapi kebanyakan manusia tidak mau (bersyukur), bahkan mereka mengingkari (nikmat).”
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 50)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَهُوَ الَّذِيْ مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هٰذَا عَذْبٌ فُرَا تٌ وَّهٰذَا مِلْحٌ اُجَا جٌ  ۚ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَّحِجْرًا مَّحْجُوْرًا
wa huwallazii marojal-bahroini haazaa ‘azbung furootuw wa haazaa mil-hun ujaaj, wa ja’ala bainahumaa barzakhow wa hijrom mahjuuroo

“Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar dan segar dan yang lain sangat asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang tidak tembus.”
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 53)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَلَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِيْ سِتَّةِ اَيَّا مٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ ۚ اَلرَّحْمٰنُ فَسْئَـلْ بِهٖ خَبِيْرًا
allazii kholaqos-samaawaati wal-ardho wa maa bainahumaa fii sittati ayyaaming summastawaa ‘alal-‘arsy, ar-rohmaanu fas-al bihii khobiiroo

“yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy, (Dialah) Yang Maha Pengasih, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada orang yang lebih mengetahui (Muhammad).”
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 59)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَعِبَا دُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَ رْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَا طَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَا لُوْا سَلٰمًا
wa ‘ibaadur-rohmaanillaziina yamsyuuna ‘alal-ardhi haunaw wa izaa khoothobahumul-jaahiluuna qooluu salaamaa

“Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, “salam”.
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 63)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَوْ شِئْنَا لَبَـعَثْنَا فِيْ كُلِّ قَرْيَةٍ نَّذِيْرًا
walau syi-naa laba’asnaa fii kulli qoryatin naziiroo

“Dan sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami utus seorang pemberi peringatan pada setiap negeri.”
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 51)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اُولٰٓئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوْا وَيُلَقَّوْنَ فِيْهَا تَحِيَّةً وَّسَلٰمًا
ulaaa-ika yujzaunal-ghurfata bimaa shobaruu wa yulaqqouna fiihaa tahiyyataw wa salaamaa

“Mereka itu akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi (dalam surga) atas kesabaran mereka, dan di sana mereka akan disambut dengan penghormatan dan salam,”
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 75)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

خٰلِدِيْنَ فِيْهَا ۗ حَسُنَتْ مُسْتَقَرًّا وَّمُقَا مًا
khoolidiina fiihaa, hasunat mustaqorrow wa muqoomaa

“mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.”
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 76)
*****

“Petunjuk Iblis dan Petunjuk Manusia Kesetanan”

Oleh: Fathonie Abdullah
(Journalist-Researcher)

Banyak yang sudah dan akan tersesat dan terpengaruh Iblis dan/atau ‘manusia yang kesetanan’ menuju neraka akhirat dan sudah atau akan berada di ‘neraka dunia’.
Kalau dua ayat suci Al Qur’an yang dikutip berikut ini masih belum jelas (Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَقَا لَ الشَّيْطٰنُ لَـمَّا قُضِيَ الْاَ مْرُ اِنَّ اللّٰهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَـقِّ وَوَعَدْتُّكُمْ فَاَ خْلَفْتُكُمْ ۗ وَمَا كَا نَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِّنْ سُلْطٰنٍ اِلَّاۤ اَنْ دَعَوْتُكُمْ فَا سْتَجَبْتُمْ لِيْ ۚ فَلَا تَلُوْمُوْنِيْ وَلُوْمُوْۤا اَنْفُسَكُمْ ۗ مَاۤ اَنَاۡ بِمُصْرِخِكُمْ وَمَاۤ اَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ ۗ اِنِّيْ كَفَرْتُ بِمَاۤ اَشْرَكْتُمُوْنِ مِنْ قَبْلُ ۗ اِنَّ الظّٰلِمِيْنَ لَهُمْ عَذَا بٌ اَ لِيْمٌ
wa qoolasy-syaithoonu lammaa qudhiyal-amru innalloha wa’adakum wa’dal-haqqi wa wa’attukum fa akhlaftukum, wa maa kaana liya ‘alaikum ming sulthoonin illaaa ang da’autukum fastajabtum lii, fa laa taluumuunii wa luumuuu angfusakum, maaa ana bimushrikhikum wa maaa angtum bimushrikhiyy, innii kafartu bimaaa asyroktumuuni ming qobl, innazh-zhoolimiina lahum ‘azaabun aliim

“Dan setan berkata ketika perkara (hisab) telah diselesaikan, “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekadar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku tidak dapat menolongmu, dan kamu pun tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu menyekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.” Sungguh, orang yang zalim akan mendapat siksaan yang pedih.”
(QS. Ibrahim 14: Ayat 22),

baca lagi kutipan beberapa Ayat Suci Al Qur’an di bawah ini, tanpa tambahan penjelasan ‘panjang kali lebar sama dengan luas’luas’ untuk membedakan: petunjuk yang “lurus” dan petunjuk yang “kusut” atau kacau-balau:

(Sumber: * Via Al-Qur’an Indonesia https://quran-id.com).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِهْدِنَا الصِّرَا طَ الْمُسْتَقِيْمَ ۙ
ihdinash-shiroothol-mustaqiim

“Tunjukilah kami jalan yang lurus,”
(QS. Al-Fatihah 1: Ayat 6)

صِرَا طَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّآ لِّيْنَ
shiroothollaziina an’amta ‘alaihim ghoiril-maghdhuubi ‘alaihim wa ladh-dhooolliin

“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”
(QS. Al-Fatihah 1: Ayat 7)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ ذَا قِيْلَ لَهُمُ اتَّبِعُوْا مَاۤ اَنْزَلَ اللّٰهُ قَا لُوْا بَلْ نَـتَّبِعُ مَاۤ اَلْفَيْنَا عَلَيْهِ اٰبَآءَنَا ۗ اَوَلَوْ كَا نَ اٰبَآ ؤُهُمْ لَا يَعْقِلُوْنَ شَيْئًـا وَّلَا يَهْتَدُوْنَ
wa izaa qiila lahumuttabi’uu maaa angzalallohu qooluu bal nattabi’u maaa alfainaa ‘alaihi aabaaa`anaa, a walau kaana aabaaa`uhum laa ya’qiluuna syai`aw wa laa yahtaduun

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah, mereka menjawab, (Tidak!) Kami mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami (melakukannya). Padahal, nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun dan tidak mendapat petunjuk.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 170)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ ذْ قَا لَ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ يٰبَنِيْۤ اِسْرَآءِيْلَ اِنِّيْ رَسُوْلُ اللّٰهِ اِلَيْكُمْ مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرٰٮةِ وَمُبَشِّرًا بِۢرَسُوْلٍ يَّأْتِيْ مِنْۢ بَعْدِى اسْمُهٗۤ اَحْمَدُ ۗ فَلَمَّا جَآءَهُمْ بِا لْبَيِّنٰتِ قَا لُوْا هٰذَا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ
wa iz qoola ‘iisabnu maryama yaa baniii isrooo`iila innii rosuulullohi ilaikum mushoddiqol limaa baina yadayya minat-taurooti wa mubasysyirom birosuuliy ya`tii mim ba’dismuhuuu ahmad, fa lammaa jaaa`ahum bil-bayyinaati qooluu haazaa sihrum mubiin

“Dan (ingatlah) ketika ‘Isa putra Maryam berkata, Wahai Bani Israil! Sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu, yang membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan seorang rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad (Muhammad). Namun ketika Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, Ini adalah sihir yang nyata.”
(QS. As-Saff 61: Ayat 6)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يُرِيْدُوْنَ لِيُطْفِـئُـوْا نُوْرَ اللّٰهِ بِاَ فْوَاهِهِمْ وَا للّٰهُ مُتِمُّ نُوْرِهٖ وَلَوْ كَرِهَ الْكٰفِرُوْنَ
yuriiduuna liyuthfi`uu nuurollaahi bi`afwaahihim, wallohu mutimmu nuurihii walau karihal-kaafiruun

“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya.”
(QS. As-Saff 61: Ayat 8)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِيْۤ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِا لْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ
huwallaziii arsala rosuulahuu bil-hudaa wa diinil-haqqi liyuzh-hirohuu ‘alad-diini kullihii walau karihal-musyrikuun

“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama meskipun orang-orang musyrik membencinya.”
(QS. As-Saff 61: Ayat 9)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْۤا اَنْصَا رَ اللّٰهِ كَمَا قَا لَ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ لِلْحَوٰا رِيّٖنَ مَنْ اَنْصَا رِيْۤ اِلَى اللّٰهِ ۗ قَا لَ الْحَـوٰرِيُّوْنَ نَحْنُ اَنْصَا رُ اللّٰهِ فَاٰ مَنَتْ طَّآئِفَةٌ مِّنْۢ بَنِيْۤ اِسْرَآءِيْلَ وَكَفَرَتْ طَّآئِفَةٌ ۚ فَاَ يَّدْنَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا عَلٰى عَدُوِّهِمْ فَاَ صْبَحُوْا ظٰهِرِيْنَ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu kuunuuu angshoorollaahi kamaa qoola ‘iisabnu maryama lil-hawaariyyiina man angshooriii ilalloh, qoolal-hawaariyyuuna nahnu angshoorullohi fa aamanat thooo`ifatum mim baniii isrooo`iila wa kafarot thooo`ifah, fa ayyadnallaziina aamanuu ‘alaa ‘aduwwihim fa ashbahuu zhoohiriin

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana ‘Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia, Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah? Pengikut-pengikutnya yang setia itu berkata, Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir; lalu Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, sehingga mereka menjadi orang-orang yang menang.”
(QS. As-Saff 61: Ayat 14)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ قَدْ يَــئِـسُوْا مِنَ الْاٰ خِرَةِ كَمَا يَــئِـسَ الْكُفَّا رُ مِنْ اَصْحٰبِ الْقُبُوْرِ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu laa tatawallau qouman ghodhiballohu ‘alaihim qod ya`isuu minal-aakhiroti kamaa ya`isal-kuffaaru min ash-haabil-qubuur

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu jadikan orang-orang yang dimurkai Allah sebagai penolongmu, sungguh, mereka telah putus asa terhadap akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur juga berputus asa.”
(QS. Al-Mumtahanah 60: Ayat 13)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللّٰهُ بِهٖ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍ ۗ لِلرِّجَا لِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوْا ۗ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ ۗ وَسْئَـلُوا اللّٰهَ مِنْ فَضْلِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَا نَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا
wa laa tatamannau maa fadhdholallohu bihii ba’dhokum ‘alaa ba’dh, lir-rijaali nashiibum mimmaktasabuu, wa lin-nisaaa`i nashiibum mimmaktasabn, was`alulloha ming fadhlih, innalloha kaana bikulli syai`in ‘aliimaa

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 32)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَمِنْهُمْ مَّنْ اٰمَنَ بِهٖ وَمِنْهُمْ مَّنْ صَدَّ عَنْهُ ۗ وَكَفٰى بِجَهَـنَّمَ سَعِيْرًا
fa min-hum man aamana bihii wa min-hum mang shodda ‘an-h, wa kafaa bijahannama sa’iiroo

“Maka di antara mereka (yang dengki itu), ada yang beriman kepadanya dan ada pula yang menghalangi (manusia beriman) kepadanya. Cukuplah (bagi mereka) neraka Jahanam yang menyala-nyala apinya.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 55)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِاٰ يٰتِنَا سَوْفَ نُصْلِيْهِمْ نَا رًا ۗ كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُوْدُهُمْ بَدَّلْنٰهُمْ جُلُوْدًا غَيْرَهَا لِيَذُوْقُوا الْعَذَا بَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَا نَ عَزِيْزًا حَكِيْمًا
innallaziina kafaruu bi`aayaatinaa saufa nushliihim naaroo, kullamaa nadhijat juluuduhum baddalnaahum juluudan ghoirohaa liyazuuqul-‘azaab, innalloha kaana ‘aziizan hakiimaa

“Sungguh, orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti dengan kulit yang lain, agar mereka merasakan azab. Sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 56)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَ نْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۤ اَبَدًا ۗ لَـهُمْ فِيْهَاۤ اَزْوَا جٌ مُّطَهَّرَةٌ ۙ وَّنُدْخِلُهُمْ ظِلًّا ظَلِيْلًا
wallaziina aamanuu wa ‘amilush-shoolihaati sanudkhiluhum jannaating tajrii ming tahtihal-an-haaru khoolidiina fiihaaa abadaa, lahum fiihaaa azwaajum muthohharotuw wa nudkhiluhum zhillang zholiilaa

“Ada pun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Di sana mereka mempunyai pasangan-pasangan yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 57)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ ۚ فَاِ نْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَـوْمِ الْاٰ خِرِ ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا
yaaa ayyuhallaziina aamanuuu athii’ulloha wa athii’ur-rosuula wa ulil-amri mingkum, fa ing tanaaza’tum fii syai`ing fa rudduuhu ilallohi war-rosuuli ing kungtum tu`minuuna billaahi wal-yaumil-aakhir, zaalika khoiruw wa ahsanu ta`wiilaa

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 59)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰ نَ ۗ وَلَوْ كَا نَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللّٰهِ لَوَجَدُوْا فِيْهِ اخْتِلَا فًا كَثِيْرًا
a fa laa yatadabbaruunal-qur`aan, walau kaana min ‘ingdi ghoirillaahi lawajaduu fiihikhtilaafang kasiiroo

“Maka tidakkah mereka menghayati (mendalami) Al-Qur’an? sekiranya (Al-Qur’an) itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 82)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ ذَا جَآءَهُمْ اَمْرٌ مِّنَ الْاَ مْنِ اَوِ الْخَـوْفِ اَذَا عُوْا بِهٖ ۚ وَلَوْ رَدُّوْهُ اِلَى الرَّسُوْلِ وَاِ لٰۤى اُولِى الْاَ مْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِيْنَ يَسْتَنْبِۢطُوْنَهٗ مِنْهُمْ ۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهٗ لَا تَّبَعْتُمُ الشَّيْطٰنَ اِلَّا قَلِيْلًا
wa izaa jaaa`ahum amrum minal-amni awil-khoufi azaa’uu bih, walau rodduuhu ilar-rosuuli wa ilaaa ulil-amri min-hum la’alimahullaziina yastambithuunahuu min-hum, walau laa fadhlullohi ‘alaikum wa rohmatuhuu lattaba’tumusy-syaithoona illaa qoliilaa

“Dan apabila sampai kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka (langsung) menyiarkannya. (Padahal) apabila mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya (secara resmi) dari mereka (Rasul dan ulil amri). Sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepadamu, tentulah kamu mengikuti setan kecuali sebagian kecil saja (di antara kamu).”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 83)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

رَبَّنَا وَاٰ تِنَا مَا وَعَدْتَّنَا عَلٰى رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ اِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيْعَا دَ
robbanaa wa aatinaa maa wa’attanaa ‘alaa rusulika wa laa tukhzinaa yaumal-qiyaamah, innaka laa tukhliful-mii’aad

“Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami melalui rasul-rasul-Mu. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari Kiamat. Sungguh, Engkau tidak pernah mengingkari janji.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 194)
*****

“Lautan: Kehidupan Alternatif Manusia Setelah Daratan Bagi Mereka Yang Tak Bisa Migrasi Ke Luar Angkasa”

Oleh: Fathonie Abdullah
(Journalist-Researcher)

Sudah siap berpindah kehidupan alternatif ke lautan? Ingat Kisah Nabi Nuh a.s dan Nabi Yunus a.s dalam Al Qur’an? Ingat berbagai peristiwa banjir bandang di mana-mana di seluruh dunia? Atau, ingat film animasi sukses kehidupan lautan seperti “Finding Nemo” & “Finding Father”?

Pada tahun 1992, Kevin Costner mesti “gigit jari” ketika film “Water World” (Kevin Costner: Aktor Utama, Sutradara, Produser, Penulis Skenario Adaptasi) berbiaya terbesar waktu itu (USD 165 Million) gagal di pasaran bioskop internasional. Padahal,  dua tahun sebelumnya, ‘nama’ Kevin Costner begitu terkenal di dunia berkat film “The Bodyguard” (bersama Whitney Houston) & “Dances With Wolves” (Peraih Piala Oscar: Film Terbaik plus Aktor Utama & Sutradara Terbaik, yang ketiganya untuk Kevin Costner).

Temanya, alternatif kehidupan di lautan selain daratan, sangat luar biasa. Namun, pengadeganannya biasa-biasa saja karena seperti kehidupan di atas danau atau seperti kawasan banjir atau di tepi pantai. Visualisasinya pun dominan ke Kevin Costner dan tak banyak menampilkan ikan-ikan dan kehidupan dalam lautan sebagai pembanding kehidupan selain daratan.

Padahal, jika dibuat ‘remark version’, bukan suatu hal yang mustahil akan meraih ‘box office’ seperti film “Beauty And The Beast” yang dibintangi Emma Watson karena kehidupan di daratan sudah begitu monoton dan biasa-biasa saja tanpa perubahan yang signifikan — hanya pamer fisik dan yang serba artifisial dunia digital.

Baca lagi kutipan beberapa Ayat Suci Al Qur’an berikut ini sebagai suatu pedoman bahwa, cepat atau lambat, kehidupan kita akan mengarah ke lautan — karena tak semua orang sanggup migrasi ke luar angkasa yang biayanya sangat mahal:
(Sumber: * Via Al-Qur’an Indonesia https://quran-id.com)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَفَاَ مِنْتُمْ اَنْ يَّخْسِفَ بِكُمْ جَا نِبَ الْبَرِّ اَوْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَا صِبًا ثُمَّ لَا تَجِدُوْا لَـكُمْ وَكِيْلًا  ۙ
a fa amingtum ay yakhsifa bikum jaanibal-barri au yursila ‘alaikum haashibang summa laa tajiduu lakum wakiilaa

“Maka apakah kamu merasa aman bahwa Dia tidak akan membenamkan sebagian daratan bersama kamu atau Dia meniupkan (angin keras yang membawa) batu-batu kecil? Dan kamu tidak akan mendapat seorang pelindung pun,”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 68)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

رَبُّكُمُ الَّذِيْ يُزْجِيْ لَـكُمُ الْفُلْكَ فِى الْبَحْرِ لِتَبْتَغُوْا مِنْ فَضْلِهٖ  ۗ اِنَّهٗ كَا نَ بِكُمْ رَحِيْمًا
robbukumullazii yuzjii lakumul-fulka fil-bahri litabtaghuu ming fadhlih, innahuu kaana bikum rohiimaa

“Tuhanmulah yang melayarkan kapal-kapal di lautan untukmu, agar kamu mencari karunia-Nya. Sungguh, Dia Maha Penyayang terhadapmu.”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 66)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ ذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِى الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُوْنَ اِلَّاۤ اِيَّاهُ  ۚ فَلَمَّا نَجّٰٮكُمْ اِلَى الْبَرِّ اَعْرَضْتُمْ  ۗ وَكَا نَ الْاِ نْسَا نُ كَفُوْرًا
wa izaa massakumudh-dhurru fil-bahri dholla mang tad’uuna illaaa iyyaah, fa lammaa najjaakum ilal-barri a’rodhtum, wa kaanal-ingsaanu kafuuroo

“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilang semua yang (biasa) kamu seru, kecuali Dia. Tetapi ketika Dia menyelamatkan kamu ke daratan kamu berpaling (dari-Nya). Dan manusia memang selalu ingkar (tidak bersyukur).”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 67)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَمْ اَمِنْتُمْ اَنْ يُّعِيْدَكُمْ فِيْهِ تَا رَةً اُخْرٰى فَيُرْسِلَ عَلَيْكُمْ قَا صِفًا مِّنَ الرِّيْحِ فَيُغْرِقَكُمْ بِمَا كَفَرْتُمْ  ۙ ثُمَّ لَا تَجِدُوْا لَـكُمْ عَلَيْنَا بِهٖ تَبِيْعًا
am amingtum ay yu’iidakum fiihi taarotan ukhroo fa yursila ‘alaikum qooshifam minar-riihi fa yughriqokum bimaa kafartum summa laa tajiduu lakum ‘alainaa bihii tabii’aa

“ataukah kamu merasa aman bahwa Dia tidak akan mengembalikan kamu ke laut sekali lagi, lalu Dia tiupkan angin topan kepada kamu dan ditenggelamkan-Nya kamu disebabkan kekafiranmu? Kemudian kamu tidak akan mendapatkan seorang penolong pun dalam menghadapi (siksaan) Kami.”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 69)
*****
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَكَذَّبُوْهُ فَنَجَّيْنٰهُ وَمَنْ مَّعَهٗ فِى الْـفُلْكِ وَجَعَلْنٰهُمْ خَلٰٓئِفَ وَاَ غْرَقْنَا الَّذِيْنَ كَذَّبُ
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ نَّ يُوْنُسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِيْنَ  ۗ
wa inna yuunusa laminal-mursaliin

“Dan sungguh, Yunus benar-benar termasuk salah seorang rasul,”
(QS. As-Saffat 37: Ayat 139)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِذْ اَبَقَ اِلَى الْفُلْكِ الْمَشْحُوْنِ  ۙ
iz abaqo ilal-fulkil-masy-huun

“(ingatlah) ketika dia lari, ke kapal yang penuh muatan,”
(QS. As-Saffat 37: Ayat 140)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَسَاهَمَ فَكَا نَ مِنَ الْمُدْحَضِيْنَ  ۚ
fa saahama fa kaana minal-mud-hadhiin

“kemudian dia ikut diundi ternyata dia termasuk orang-orang yang kalah (dalam undian).”
(QS. As-Saffat 37: Ayat 141)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَا لْتَقَمَهُ الْحُوْتُ وَهُوَ مُلِيْمٌ
faltaqomahul-huutu wa huwa muliim

“Maka dia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela.”
(QS. As-Saffat 37: Ayat 142)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَلَوْلَاۤ اَنَّهٗ كَا نَ مِنَ الْمُسَبِّحِيْنَ  ۙ
falau laaa annahuu kaana minal-musabbihiin

“Maka sekiranya dia tidak termasuk orang yang banyak berzikir (bertasbih) kepada Allah,”
(QS. As-Saffat 37: Ayat 143)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

لَلَبِثَ فِيْ بَطْنِهٖۤ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ  ۚ
lalabisa fii bathnihiii ilaa yaumi yub’asuun

“niscaya dia akan tetap tinggal di perut (ikan itu) sampai hari Berbangkit.”
(QS. As-Saffat 37: Ayat 144)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَنَبَذْنٰهُ بِا لْعَرَآءِ وَهُوَ سَقِيْمٌ  ۚ
fa nabaznaahu bil-‘arooo-i wa huwa saqiim

“Kemudian Kami lemparkan dia ke daratan yang tandus, sedang dia dalam keadaan sakit.”
(QS. As-Saffat 37: Ayat 145)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاَ نْۢبَتْنَا عَلَيْهِ شَجَرَةً مِّنْ يَّقْطِيْنٍ  ۚ
wa ambatnaa ‘alaihi syajarotam miy yaqthiin

“Kemudian untuk dia Kami tumbuhkan sebatang pohon dari jenis labu.”
(QS. As-Saffat 37: Ayat 146)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala
*****
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَا كَا نَ هٰذَا الْقُرْاٰ نُ اَنْ يُّفْتَـرٰى مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَلٰـكِنْ تَصْدِيْقَ الَّذِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيْلَ الْكِتٰبِ لَا رَيْبَ فِيْهِ مِنْ رَّبِّ الْعٰلَمِيْنَ  ۗ
wa maa kaana haazal-qur-aanu ay yuftaroo ming duunillaahi wa laaking tashdiiqollazii baina yadaihi wa tafshiilal-kitaabi laa roiba fiihi mir robbil-‘aalamiin

“Dan tidak mungkin Al-Qur’an ini dibuat-buat oleh selain Allah; tetapi (Al-Qur’an) membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya. Tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan seluruh alam.”
(QS. Yunus 10: Ayat 37)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَمْ يَقُوْلُوْنَ افْتَـرٰٮهُ  ۗ قُلْ فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِّثْلِهٖ وَا دْعُوْا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ
am yaquuluunaftarooh, qul fa-tuu bisuurotim mislihii wad’uu manistatho’tum ming duunillaahi ing kungtum shoodiqiin

“Apakah pantas mereka mengatakan dia (Muhammad) yang telah membuat-buatnya? Katakanlah, “Buatlah sebuah surat yang semisal dengan surat (Al-Qur’an), dan ajaklah siapa saja di antara kamu orang yang mampu (membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.””
(QS. Yunus 10: Ayat 38)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

بَلْ كَذَّبُوْا بِمَا لَمْ يُحِيْطُوْا بِعِلْمِهٖ وَلَمَّا يَأْتِهِمْ تَأْوِيْلُهٗ   ۗ كَذٰلِكَ كَذَّبَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَا نْظُرْ كَيْفَ كَا نَ عَا قِبَةُ الظّٰلِمِيْنَ
bal kazzabuu bimaa lam yuhiithuu bi’ilmihii wa lammaa ya-tihim ta-wiiluh, kazaalika kazzaballaziina ming qoblihim fangzhur kaifa kaana ‘aaqibatuzh-zhoolimiin

“Bahkan (yang sebenarnya), mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna dan belum mereka peroleh penjelasannya. Demikianlah halnya umat-umat yang ada sebelum mereka telah mendustakan (Rasul). Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang yang zalim.”
(QS. Yunus 10: Ayat 39)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَ مِنْهُمْ مَّنْ يُّؤْمِنُ بِهٖ وَمِنْهُمْ مَّنْ لَّا يُؤْمِنُ بِهٖ  ۗ وَرَبُّكَ اَعْلَمُ بِا لْمُفْسِدِيْنَ
wa min-hum may yu-minu bihii wa min-hum mal laa yu-minu bih, wa robbuka a’lamu bil-mufsidiin

“Dan di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepadanya (Al-Qur’an), dan di antaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Sedangkan Tuhanmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan.”
(QS. Yunus 10: Ayat 40)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ نْ كَذَّبُوْكَ فَقُلْ لِّيْ عَمَلِيْ وَلَـكُمْ عَمَلُكُمْ  ۚ اَنْـتُمْ بَرِيْۤـئُوْنَ مِمَّاۤ اَعْمَلُ وَاَ نَاۡ بَرِيْٓءٌ مِّمَّا تَعْمَلُوْنَ
wa ing kazzabuuka fa qul lii ‘amalii wa lakum ‘amalukum, angtum bariii-uuna mimmaaa a’malu wa ana bariii-um mimmaa ta’maluun

“Dan jika mereka (tetap) mendustakanmu (Muhammad) maka katakanlah, “Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu tidak bertanggung jawab terhadap apa yang aku kerjakan dan aku pun tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan.””
(QS. Yunus 10: Ayat 41)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّسْتَمِعُوْنَ اِلَيْكَ  ۗ اَفَاَ نْتَ تُسْمِعُ الصُّمَّ وَلَوْ كَا نُوْا لَا يَعْقِلُوْنَ
wa min-hum may yastami’uuna ilaiik, a fa angta tusmi’ush-shumma walau kaanuu laa ya’qiluun

“Dan di antara mereka ada yang mendengarkan engkau (Muhammad). Tetapi apakah engkau dapat menjadikan orang yang tuli itu mendengar, walaupun mereka tidak mengerti?”
(QS. Yunus 10: Ayat 42)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّنْظُرُ اِلَيْكَ  ۗ اَفَاَ نْتَ تَهْدِى الْعُمْيَ وَ لَوْ كَا نُوْا لَا يُبْصِرُوْنَ
wa min-hum may yangzhuru ilaiik, a fa angta tahdil-‘umya walau kaanuu laa yubshiruun

“Dan di antara mereka ada yang melihat kepada engkau. Tetapi apakah engkau dapat memberi petunjuk kepada orang yang buta walaupun mereka tidak memperhatikan?”
(QS. Yunus 10: Ayat 43)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا النَّا سُ قَدْ جَآءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَآءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِ  ۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّـلْمُؤْمِنِيْنَ
yaaa ayyuhan-naasu qod jaaa-atkum mau’izhotum mir robbikum wa syifaaa-ul limaa fish-shuduuri wa hudaw wa rohmatul lil-mu-miniin

“Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.”
(QS. Yunus 10: Ayat 57)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَا يَحْزُنْكَ قَوْلُهُمْ  ۘ اِنَّ الْعِزَّةَ لِلّٰهِ جَمِيْعًا  ۗ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
wa laa yahzungka qouluhum, innal-‘izzata lillaahi jamii’aa, huwas-samii’ul-‘aliim

“Dan janganlah engkau (Muhammad) sedih oleh perkataan mereka. Sungguh, kekuasaan itu seluruhnya milik Allah. Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
(QS. Yunus 10: Ayat 65)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّا سِ فِيْ هٰذَا الْقُرْاٰ نِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ لَّعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ  ۚ
wa laqod darobnaa lin-naasi fii haazal-qur-aani ming kulli masalil la’allahum yatazakkaruun

“Dan sungguh, telah Kami buatkan dalam Al-Qur’an ini segala macam perumpamaan bagi manusia agar mereka mendapatkan pelajaran.”
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 27)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَتِلْكَ الْاَ مْثَا لُ نَضْرِبُهَا لِلنَّا سِ  ۚ وَمَا يَعْقِلُهَاۤ اِلَّا الْعٰلِمُوْنَ
wa tilkal-amsaalu nadhribuhaa lin-naas, wa maa ya’qiluhaaa illal-‘aalimuun

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tidak ada yang akan memahaminya kecuali mereka yang berilmu.”
(QS. Al-‘Ankabut 29: Ayat 43)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ مُبٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوْۤا اٰيٰتِهٖ وَلِيَتَذَكَّرَ اُولُوا الْاَ لْبَا بِ
kitaabun angzalnaahu ilaika mubaarokul liyaddabbaruuu aayaatihii wa liyatazakkaro ulul-albaab

“Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.”
(QS. Sad 38: Ayat 29)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَتَعْلَمُنَّ نَبَاَ هٗ بَعْدَ حِيْنِ
wa lata’lamunna naba-ahuu ba’da hiin

“Dan sungguh, kamu akan mengetahui (kebenaran) beritanya (Al-Qur’an) setelah beberapa waktu lagi.””
(QS. Sad 38: Ayat 88)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

بَلْ هُوَ اٰيٰتٌۢ بَيِّنٰتٌ فِيْ صُدُوْرِ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ  ۗ وَمَا يَجْحَدُ بِاٰ يٰتِنَاۤ اِلَّا الظّٰلِمُوْنَ
bal huwa aayaatum bayyinaatung fii shuduurillaziina uutul-‘ilm, wa maa yaj-hadu bi-aayaatinaaa illazh-zhoolimuun

“Sebenarnya, (Al-Qur’an) itu adalah ayat-ayat yang jelas di dalam dada orang-orang yang berilmu. Hanya orang-orang yang zalim yang mengingkari ayat-ayat Kami.”
(QS. Al-‘Ankabut 29: 49)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ اِنَّ صَلَا تِيْ وَنُسُكِيْ وَ مَحْيَايَ وَمَمَا تِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ  ۙ
qul inna sholaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi robbil-‘aalamiin

“Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam,”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 162)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

لَا شَرِيْكَ لَهٗ  ۚ وَبِذٰلِكَ اُمِرْتُ وَاَ نَاۡ اَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ
laa syariika lah, wa bizaalika umirtu wa ana awwalul-muslimiin

“tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama berserah diri (muslim).”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 163)

اِهْدِنَا الصِّرَا طَ الْمُسْتَقِيْمَ ۙ
ihdinash-shiroothol-mustaqiim

“Tunjukilah kami jalan yang lurus,”
(QS. Al-Fatihah 1: Ayat 6)

صِرَا طَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّآ لِّيْنَ
shiroothollaziina an’amta ‘alaihim ghoiril-maghdhuubi ‘alaihim wa ladh-dhooolliin

“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”
(QS. Al-Fatihah 1: Ayat 7)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ ذَا قِيْلَ لَهُمُ اتَّبِعُوْا مَاۤ اَنْزَلَ اللّٰهُ قَا لُوْا بَلْ نَـتَّبِعُ مَاۤ اَلْفَيْنَا عَلَيْهِ اٰبَآءَنَا ۗ اَوَلَوْ كَا نَ اٰبَآ ؤُهُمْ لَا يَعْقِلُوْنَ شَيْئًـا وَّلَا يَهْتَدُوْنَ
wa izaa qiila lahumuttabi’uu maaa angzalallohu qooluu bal nattabi’u maaa alfainaa ‘alaihi aabaaa`anaa, a walau kaana aabaaa`uhum laa ya’qiluuna syai`aw wa laa yahtaduun

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah, mereka menjawab, (Tidak!) Kami mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami (melakukannya). Padahal, nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun dan tidak mendapat petunjuk.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 170)
*****
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ ذْ قَا لَ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ يٰبَنِيْۤ اِسْرَآءِيْلَ اِنِّيْ رَسُوْلُ اللّٰهِ اِلَيْكُمْ مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرٰٮةِ وَمُبَشِّرًا بِۢرَسُوْلٍ يَّأْتِيْ مِنْۢ بَعْدِى اسْمُهٗۤ اَحْمَدُ ۗ فَلَمَّا جَآءَهُمْ بِا لْبَيِّنٰتِ قَا لُوْا هٰذَا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ
wa iz qoola ‘iisabnu maryama yaa baniii isrooo`iila innii rosuulullohi ilaikum mushoddiqol limaa baina yadayya minat-taurooti wa mubasysyirom birosuuliy ya`tii mim ba’dismuhuuu ahmad, fa lammaa jaaa`ahum bil-bayyinaati qooluu haazaa sihrum mubiin

“Dan (ingatlah) ketika ‘Isa putra Maryam berkata, Wahai Bani Israil! Sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu, yang membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan seorang rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad (Muhammad). Namun ketika Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, Ini adalah sihir yang nyata.”
(QS. As-Saff 61: Ayat 6)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يُرِيْدُوْنَ لِيُطْفِـئُـوْا نُوْرَ اللّٰهِ بِاَ فْوَاهِهِمْ وَا للّٰهُ مُتِمُّ نُوْرِهٖ وَلَوْ كَرِهَ الْكٰفِرُوْنَ
yuriiduuna liyuthfi`uu nuurollaahi bi`afwaahihim, wallohu mutimmu nuurihii walau karihal-kaafiruun

“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya.”
(QS. As-Saff 61: Ayat 8)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِيْۤ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِا لْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ
huwallaziii arsala rosuulahuu bil-hudaa wa diinil-haqqi liyuzh-hirohuu ‘alad-diini kullihii walau karihal-musyrikuun

“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama meskipun orang-orang musyrik membencinya.”
(QS. As-Saff 61: Ayat 9)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْۤا اَنْصَا رَ اللّٰهِ كَمَا قَا لَ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ لِلْحَوٰا رِيّٖنَ مَنْ اَنْصَا رِيْۤ اِلَى اللّٰهِ ۗ قَا لَ الْحَـوٰرِيُّوْنَ نَحْنُ اَنْصَا رُ اللّٰهِ فَاٰ مَنَتْ طَّآئِفَةٌ مِّنْۢ بَنِيْۤ اِسْرَآءِيْلَ وَكَفَرَتْ طَّآئِفَةٌ ۚ فَاَ يَّدْنَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا عَلٰى عَدُوِّهِمْ فَاَ صْبَحُوْا ظٰهِرِيْنَ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu kuunuuu angshoorollaahi kamaa qoola ‘iisabnu maryama lil-hawaariyyiina man angshooriii ilalloh, qoolal-hawaariyyuuna nahnu angshoorullohi fa aamanat thooo`ifatum mim baniii isrooo`iila wa kafarot thooo`ifah, fa ayyadnallaziina aamanuu ‘alaa ‘aduwwihim fa ashbahuu zhoohiriin

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana ‘Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia, Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah? Pengikut-pengikutnya yang setia itu berkata, Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir; lalu Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, sehingga mereka menjadi orang-orang yang menang.”
(QS. As-Saff 61: Ayat 14)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ قَدْ يَــئِـسُوْا مِنَ الْاٰ خِرَةِ كَمَا يَــئِـسَ الْكُفَّا رُ مِنْ اَصْحٰبِ الْقُبُوْرِ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu laa tatawallau qouman ghodhiballohu ‘alaihim qod ya`isuu minal-aakhiroti kamaa ya`isal-kuffaaru min ash-haabil-qubuur

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu jadikan orang-orang yang dimurkai Allah sebagai penolongmu, sungguh, mereka telah putus asa terhadap akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur juga berputus asa.”
(QS. Al-Mumtahanah 60: Ayat 13)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَمِنْهُمْ مَّنْ اٰمَنَ بِهٖ وَمِنْهُمْ مَّنْ صَدَّ عَنْهُ ۗ وَكَفٰى بِجَهَـنَّمَ سَعِيْرًا
fa min-hum man aamana bihii wa min-hum mang shodda ‘an-h, wa kafaa bijahannama sa’iiroo

“Maka di antara mereka (yang dengki itu), ada yang beriman kepadanya dan ada pula yang menghalangi (manusia beriman) kepadanya. Cukuplah (bagi mereka) neraka Jahanam yang menyala-nyala apinya.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 55)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِاٰ يٰتِنَا سَوْفَ نُصْلِيْهِمْ نَا رًا ۗ كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُوْدُهُمْ بَدَّلْنٰهُمْ جُلُوْدًا غَيْرَهَا لِيَذُوْقُوا الْعَذَا بَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَا نَ عَزِيْزًا حَكِيْمًا
innallaziina kafaruu bi`aayaatinaa saufa nushliihim naaroo, kullamaa nadhijat juluuduhum baddalnaahum juluudan ghoirohaa liyazuuqul-‘azaab, innalloha kaana ‘aziizan hakiimaa

“Sungguh, orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti dengan kulit yang lain, agar mereka merasakan azab. Sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 56)
*******

“Kehidupan di Planet Baru: Surga Transit Sebelum ke Surga Akhirat”

Oleh: Fathonie Abdullah
(Journalist-Researcher)

Hanya beberapa negara di dunia yang berhasil sampai ke Planet Mars dan Planet Bulan, seperti USA, Rusia, RRC, dan India. Bahkan, orang terkaya di dunia Mr Elon Musk (bersama NASA) sedang mempersiapkan kehidupan manusia baru di Planet Mars, dengan investasi ratusan triliun rupiah — bisa jadi sampai ribuan triliun rupiah.

Akankah terjadi pengulangan sejarah awal peradaban manusia ketika pertama kali Adam a.s. diciptakan di Surga Akhirat lalu diturunkan ke Bumi? Tentu, berbeda: karena, yang akan bisa menetap di Planet Mars dan/atau Planet Bulan hanya sejumlah orang-orang terpilih saja — kapan waktunya migrasi ke planet di luar Bumi, belum bisa ddipastikan.

Tak ada salahnya, sebelum memilih ikut dan/atau diikutsertakan hijrah ke Planet Mars dan/atau ke Planet Bulan, pahami lebih dulu kondisi faktual yang ada; yang, sebagai pedomannya, baca lagi kutipan beberapa ayat suci Al-Quran Qur’an berikut ini:
(Sumber: * Via Al-Qur’an Indonesia https://quran-id.com)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ بِا لْحَـقِّ ۗ اِنْ يَّشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيْدٍ
a lam taro annalloha kholaqos-samaawaati wal-ardho bil-haqq, iy yasya yuz-hibkum wa ya-ti bikholqing jadiid

“Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan langit dan bumi dengan hak (benar)? Jika Dia menghendaki, niscaya Dia membinasakan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu),”
(QS. Ibrahim 14: Ayat 19)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَرَبُّكَ الْغَنِيُّ ذُو الرَّحْمَةِ  ۗ اِنْ يَّشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَسْتَخْلِفْ مِنْۢ بَعْدِكُمْ مَّا يَشَآءُ كَمَاۤ اَنْشَاَ كُمْ مِّنْ ذُرِّيَّةِ قَوْمٍ اٰخَرِيْنَ  ۗ
wa robbukal-ghoniyyu zur-rohmah, iy yasya yuz-hibkum wa yastakhlif mim ba’dikum maa yasyaaa-u kamaaa angsya-akum ming zurriyyati qoumin aakhoriin

“Dan Tuhanmu Maha Kaya, penuh rahmat. Jika Dia menghendaki, Dia akan memusnahkan kamu dan setelah kamu (musnah) akan Dia ganti dengan yang Dia kehendaki, sebagaimana Dia menjadikan kamu dari keturunan golongan lain.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 133)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَهُمْ يَقْسِمُوْنَ رَحْمَتَ رَبِّكَ ۗ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَّعِيْشَتَهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجٰتٍ لِّيَـتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا ۗ وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ
a hum yaqsimuuna rohmata robbik, nahnu qosamnaa bainahum ma’iisyatahum fil-hayaatid-dun-yaa wa rofa’naa ba’dhohum fauqo ba’dhing darojaatil liyattakhiza ba’dhuhum ba’dhong sukhriyyaa, wa rohmatu robbika khoirum mimmaa yajma’uun

“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”
(QS. Az-Zukhruf 43: Ayat 32)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللّٰهُ بِهٖ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍ ۗ لِلرِّجَا لِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوْا ۗ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ ۗ وَسْئَـلُوا اللّٰهَ مِنْ فَضْلِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَا نَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا
wa laa tatamannau maa fadhdholallohu bihii ba’dhokum ‘alaa ba’dh, lir-rijaali nashiibum mimmaktasabuu, wa lin-nisaaa`i nashiibum mimmaktasabn, was`alulloha ming fadhlih, innalloha kaana bikulli syai`in ‘aliimaa

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 32)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَ نْفُسِهِمْ ۗ وَاِ ذَاۤ اَرَا دَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّا لٍ
lahuu mu’aqqibaatum mim baini yadaihi wa min kholfihii yahfazhuunahuu min amrillaah, innalloha laa yughoyyiru maa biqoumin hattaa yughoyyiruu maa bi-angfusihim, wa izaaa aroodallohu biqouming suuu-ang fa laa marodda lah, wa maa lahum ming duunihii miw waal

“Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”
(QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 11)
*****
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

بَدِيْعُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۗ وَ اِذَا قَضٰۤى اَمْرًا فَاِ نَّمَا يَقُوْلُ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ
badii’us-samaawaati wal-ardh, wa izaa qodhooo amrong fa innamaa yaquulu lahuu kung fa yakuun

“(Allah) Pencipta langit dan bumi. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 117)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَلَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِيْ سِتَّةِ اَيَّا مٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ ۚ اَلرَّحْمٰنُ فَسْئَـلْ بِهٖ خَبِيْرًا
allazii kholaqos-samaawaati wal-ardho wa maa bainahumaa fii sittati ayyaaming summastawaa ‘alal-‘arsy, ar-rohmaanu fas-al bihii khobiiroo

“yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy, (Dialah) Yang Maha Pengasih, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada orang yang lebih mengetahui (Muhammad).”
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 59)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

الٓـمّٓرٰ ۗ تِلْكَ اٰيٰتُ الْكِتٰبِ ۗ وَا لَّذِيْۤ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ الْحَـقُّ وَلٰـكِنَّ اَكْثَرَ النَّا سِ لَا يُؤْمِنُوْنَ
alif-laaam-miiim-roo, tilka aayaatul-kitaab, wallaziii ungzila ilaika mir robbikal-haqqu wa laakinna aksaron-naasi laa yu-minuun

“Alif Lam Mim Ra. Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al-Qur’an). Dan (Kitab) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu itu adalah benar; tetapi kebanyakan manusia tidak beriman (kepadanya).”
(QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 1)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَللّٰهُ الَّذِيْ رَفَعَ السَّمٰوٰتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَا لْقَمَرَ ۗ كُلٌّ يَّجْرِيْ لِاَ جَلٍ مُّسَمًّى ۗ يُدَبِّرُ الْاَ مْرَ يُفَصِّلُ الْاٰ يٰتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَآءِ رَبِّكُمْ تُوْقِنُوْنَ
allohullazii rofa’as-samaawaati bighoiri ‘amading tarounahaa summastawaa ‘alal-‘arsyi wa sakhkhorosy-syamsa wal-qomar, kulluy yajrii li-ajalim musammaa, yudabbirul-amro yufashshilul-aayaati la’allakum biliqooo-i robbikum tuuqinuun

“Allah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menundukkan matahari dan bulan; masing-masing beredar menurut waktu yang telah ditentukan. Dia mengatur urusan (makhluk-Nya), dan menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), agar kamu yakin akan pertemuan dengan Tuhanmu.”
(QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 2)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَهُوَ الَّذِيْ مَدَّ الْاَ رْضَ وَجَعَلَ فِيْهَا رَوَا سِيَ وَاَ نْهٰرًا ۗ وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِ جَعَلَ فِيْهَا زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ يُغْشِى الَّيْلَ النَّهَا رَ ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰ يٰتٍ لِّـقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
wa huwallazii maddal-ardho wa ja’ala fiihaa rowaasiya wa an-haaroo, wa ming kullis-samarooti ja’ala fiihaa zaujainisnaini yughsyil-lailan-nahaar, inna fii zaalika la-aayaatil liqoumiy yatafakkaruun

“Dan Dia yang menghamparkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai di atasnya. Dan padanya Dia menjadikan semua buah-buahan berpasang-pasangan; Dia menutupkan malam kepada siang. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir.”
(QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 3)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَ فِى الْاَ رْضِ قِطَعٌ مُّتَجٰوِرٰتٌ وَّجَنّٰتٌ مِّنْ اَعْنَا بٍ وَّزَرْعٌ وَّنَخِيْلٌ صِنْوَا نٌ وَّغَيْرُ صِنْوَا نٍ يُّسْقٰى بِمَآءٍ وَّا حِدٍ ۗ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلٰى بَعْضٍ فِى الْاُ كُلِ ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰ يٰتٍ لِّـقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ
wa fil-ardhi qitho’um mutajaawirootuw wa jannaatum min a’naabiw wa zar’uw wa nakhiilung shinwaanuw wa ghoiru shinwaaniy yusqoo bimaaa-iw waahidiw wa nufadhdhilu ba’dhohaa ‘alaa ba’dhing fil-ukul, inna fii zaalika la-aayaatil liqoumiy ya’qiluun

“Dan di bumi terdapat bagian-bagian yang berdampingan, kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, pohon kurma yang bercabang, dan yang tidak bercabang; disirami dengan air yang sama, tetapi Kami lebihkan tanaman yang satu dari yang lainnya dalam hal rasanya. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.”
(QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 4)
*****
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَـقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْۤ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَا لْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا
wa laqod karromnaa baniii aadama wa hamalnaahum fil-barri wal-bahri wa rozaqnaahum minath-thoyyibaati wa fadhdholnaahum ‘alaa kasiirim mim man kholaqnaa tafdhiilaa

“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak-cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 70)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَ نْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۤ اَبَدًا ۗ لَـهُمْ فِيْهَاۤ اَزْوَا جٌ مُّطَهَّرَةٌ ۙ وَّنُدْخِلُهُمْ ظِلًّا ظَلِيْلًا
wallaziina aamanuu wa ‘amilush-shoolihaati sanudkhiluhum jannaating tajrii ming tahtihal-an-haaru khoolidiina fiihaaa abadaa, lahum fiihaaa azwaajum muthohharotuw wa nudkhiluhum zhillang zholiilaa

“Ada pun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Di sana mereka mempunyai pasangan-pasangan yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 57)
*****
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ ذَا جَآءَهُمْ اَمْرٌ مِّنَ الْاَ مْنِ اَوِ الْخَـوْفِ اَذَا عُوْا بِهٖ ۚ وَلَوْ رَدُّوْهُ اِلَى الرَّسُوْلِ وَاِ لٰۤى اُولِى الْاَ مْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِيْنَ يَسْتَنْبِۢطُوْنَهٗ مِنْهُمْ ۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهٗ لَا تَّبَعْتُمُ الشَّيْطٰنَ اِلَّا قَلِيْلًا
wa izaa jaaa`ahum amrum minal-amni awil-khoufi azaa’uu bih, walau rodduuhu ilar-rosuuli wa ilaaa ulil-amri min-hum la’alimahullaziina yastambithuunahuu min-hum, walau laa fadhlullohi ‘alaikum wa rohmatuhuu lattaba’tumusy-syaithoona illaa qoliilaa

“Dan apabila sampai kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka (langsung) menyiarkannya. (Padahal) apabila mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya (secara resmi) dari mereka (Rasul dan ulil amri). Sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepadamu, tentulah kamu mengikuti setan kecuali sebagian kecil saja (di antara kamu).”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 83)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَا تَكُوْنُ فِيْ شَأْنٍ وَّمَا تَتْلُوْا مِنْهُ مِنْ قُرْاٰ نٍ وَّلَا تَعْمَلُوْنَ مِنْ عَمَلٍ اِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُوْدًا اِذْ تُفِيْضُوْنَ فِيْهِ ۗ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَّبِّكَ مِنْ مِّثْقَا لِ ذَرَّةٍ فِى الْاَ رْضِ وَلَا فِى السَّمَآءِ وَلَاۤ اَصْغَرَ مِنْ ذٰلِكَ وَلَاۤ اَكْبَرَ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ
wa maa takuunu fii sya-niw wa maa tatluu min-hu ming qur-aaniw wa laa ta’maluuna min ‘amalin illaa kunnaa ‘alaikum syuhuudan iz tufiidhuuna fiih, wa maa ya’zubu ‘ar robbika mim misqooli zarroting fil-ardhi wa laa fis-samaaa-i wa laaa ashghoro ming zaalika wa laaa akbaro illaa fii kitaabim mubiin

“Dan tidaklah engkau (Muhammad) berada dalam suatu urusan, dan tidak membaca suatu ayat Al-Qur’an serta tidak pula kamu melakukan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu ketika kamu melakukannya. Tidak lengah sedikit pun dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah, baik di Bumi maupun di langit. Tidak ada sesuatu yang lebih kecil dan yang lebih besar daripada itu, melainkan semua tercatat (terdokumentasikan) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).”
(QS. Yunus 10: Ayat 61)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا ۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَاۤ اِنْ نَّسِيْنَاۤ اَوْ اَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَاۤ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَا قَةَ لَنَا بِهٖ ۚ وَا عْفُ عَنَّا ۗ وَا غْفِرْ لَنَا ۗ وَا رْحَمْنَا ۗ اَنْتَ مَوْلٰٮنَا فَا نْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ
laa yukallifullohu nafsan illaa wus’ahaa, lahaa maa kasabat wa ‘alaihaa maktasabat, robbanaa laa tu-aakhiznaaa in nasiinaaa au akhtho-naa, robbanaa wa laa tahmil ‘alainaaa ishrong kamaa hamaltahuu ‘alallaziina ming qoblinaa, robbanaa wa laa tuhammilnaa maa laa thooqota lanaa bih, wa’fu ‘annaa, waghfir lanaa, war-hamnaa, angta maulaanaa fangshurnaa ‘alal-qoumil-kaafiriin

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.””
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 286)
*****
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ نَّهٗ فِيْۤ اُمِّ الْكِتٰبِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ حَكِيْمٌ
wa innahuu fiii ummil-kitaabi ladainaa la’aliyyun hakiim

“Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu dalam Ummul Kitab (Lauh Mahfuz) di sisi Kami, benar-benar (bernilai) tinggi dan penuh Hikmah.”
(QS. Az-Zukhruf 43: Ayat 4)
*******

“Kembali ke ‘Akar’ Peradaban-Agama: Mukjizat Nabi Adam a.s & Estafet Para Rasul Sampai ke Muhammad SAW”

Oleh: Fathonie Abdullah
(Journalist-Researcher)

Sejak SMP (Sekolah Menengah Pertama), dari buku pelajaran sejarah, telah diketahui peradaban awal manusia (Mesopotamia, Yunani, Mesir, Romawi, sampai era Rasulullah) hingga saat ini (peradaban dunia modern; kepemimpinan PBB atau United Nations).

Apa itu peradaban?
Terminologi peradaban yang paling popular: tata kelola kebangsaan-kenegaraan, sosial-kemasyarakatan, dan “akar” ‘Personality’ dalam ‘family’ (juga ‘bani’, ‘marga’, ‘fam’, atau ‘Keluarga Besar; sekarang, termasuk juga ‘group’ dan ‘community’); seperti konvensi dan ratifikasi (dunia internasional), hukum tata negara dan regulasi plus ‘law inforcement’ (suatu negara), dll; plus tata kelola administrasi dan usaha sehingga bisa berkembang lebih maju lagi. Dan, termasuk juga regulasi, ‘rules’, dan ‘law inforcement’.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, disebutkan:

adab n kehalusan dan kebaikan budi pekerti; kesopanan; akhlak: ayahnya terkenal sebagai orang yang tinggi — nya;

ber·a·dab v 1 mempunyai adab; mempunyai budi bahasa yang baik; berlaku sopan: perbuatannya seperti kelakuan orang yang tidak ~; 2 telah maju tingkat kehidupan lahir batinnya: bangsa-bangsa yang telah ~;

meng·a·dabi v memperlakukan dengan sopan; menghormati: sebagai orang sopan kita harus ~ sesama manusia;

per·a·dab·an n 1 kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir batin: bangsa-bangsa di dunia ini tidak sama tingkat ~ nya2 hal yang menyangkut sopan santun, budi bahasa, dan kebudayaan suatu bangsa;

mem·per·a·dab·kan v mengusahakan supaya beradab; meningkatkan taraf hidup; membudayakan: Pemerintah berusaha ~ suku-suku bangsa terasing;

ke·a·dab·an n ketinggian tingkat kecerdasan lahir batin; kebaikan budi pekerti (budi bahasa dan sebagainya): melanggar ~ manusia”
(Sumber: https://kbbi-web-id.cdn.ampproject.org/v/s/kbbi.web.id/adab.html?usqp=mq331AQHKAFQArABIA%3D%3D&amp_js_v=a6&amp_gsa=1#referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com&csi=0&ampshare=https%3A%2F%2Fkbbi.web.id%2Fadab.html%23referrer%3Dhttps%3A%2F%2Fwww.google.com%26csi%3D0).

Selain itu, ada terminogi lain yakni oleh Gordon:
Gordon Childe mengidentifikasi sepuluh skala peradaban diukur dari perkembangannya dari barbarisme pranegara (mengikuti Lewis Henry Morgan[7] dan Friedrich Engels).[8] Skala ini kemudian banyak dibahas oleh arkeolog dan antropolog. Richard Mc Adams mengidentifikasi beberapa kriteria peradaban lainnya[9] berupa masyarakat dengan stratifikasi kelas,[10] hierarki politik, administrasi, divisi teritorial, pemerintahan independen, dan spesialisasi tenaga kerja dan kerajinan tangan. Dalam arkeologi Rusia, terdapat kriteria serupa. Misalnya, menurut Vadim Masson, kriteria peradaban adalah adanya atribut: kota, arsitektur monumental, dan bahasa tertulis.[9]
(Sumber: https://id.m.wikipedia.org/wiki/Peradaban)

Plus terminologi berikut ini:
“A rule of inferenceinference rule or transformation rule is a logical form consisting of a function which takes premises, analyzes their syntax, and returns a conclusion (or conclusions). For example, the rule of inference called modus ponens takes two premises, one in the form “If p then q” and another in the form “p”, and returns the conclusion “q”. The rule is valid with respect to the semantics of classical logic (as well as the semantics of many other non-classical logics), in the sense that if the premises are true (under an interpretation), then so is the conclusion.

Typically, a rule of inference preserves truth, a semantic property. In many-valued logic, it preserves a general designation. But a rule of inference’s action is purely syntactic, and does not need to preserve any semantic property: any function from sets of formulae to formulae counts as a rule of inference. Usually only rules that are recursive are important; i.e. rules such that there is an effective procedure for determining whether any given formula is the conclusion of a given set of formulae according to the rule. An example of a rule that is not effective in this sense is the infinitary ω-rule.[1]

Popular rules of inference in propositional logic include modus ponensmodus tollens, and contraposition. First-order predicate logic uses rules of inference to deal with logical quantifiers.
(Source: https://en.m.wikipedia.org/wiki/Rule_of_inference)”

“Law enforcement is the activity of some members of government who act in an organized manner to enforce the law by discovering, deterring, rehabilitating, or punishing people who violate the rules and norms governing that society.[1] The term encompasses police, courts, and corrections.

Law enforcement agencies tend to be limited to operating within a specified jurisdiction. In some cases, jurisdiction may overlap in between organizations; for example, in the United States, each state has its own statewide law enforcement arms, but the Federal Bureau of Investigation is able to act against certain types of crimes occurring in any state. Various specialized segments of society may have their own internal law enforcement arrangements. For example, military organizations may have military police.”
(Source: https://en.m.wikipedia.org/wiki/Law_enforcement)

Sekarang, baca lagi kutipan beberapa Ayat Suci Allah Qur’an di bawah ini; yang menjelaskan bahwa mukjizat Nabi Adam a.s. adalah ‘asmaaa’ (Pengidentifikasian, analisis, rumusan, metodologi; tata kelola berdasarkan ke-Tuhan-an dan/atau kebaikan-kemanusiaan); yang secara estafet dari Rasul ke Rasul sampai ke Muhammad SAW (Disempurnakan oleh Rasulullah) hingga terwujud ‘tata kelola’ dunia internasional seperti yang diketahui saat ini — meski tak semua sanggup memahaminya; bukan hanya sekedar ‘skill’ hapalan nama-nama ‘sesuatu’.

(Sumber:
* Via Al-Qur’an Indonesia https://quran-id.com)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ ذْ قَا لَ رَبُّكَ لِلْمَلٰٓئِكَةِ اِنِّيْ جَا عِلٌ فِى الْاَ رْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَا لُوْۤا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَآءَ ۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَ ۗ قَا لَ اِنِّيْۤ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
wa iz qoola robbuka lil-malaaa-ikati innii jaa’ilung fil-ardhi kholiifah, qooluuu a taj’alu fiihaa may yufsidu fiihaa wa yasfikud-dimaaa, wa nahnu nusabbihu bihamdika wa nuqoddisu lak, qoola inniii a’lamu maa laa ta’lamuun

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.””
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 30)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَعَلَّمَ اٰدَمَ الْاَ سْمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلٰٓئِكَةِ فَقَا لَ اَنْبِۢـئُوْنِيْ بِاَ سْمَآءِ هٰۤؤُلَآ ءِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ
wa ‘allama aadamal-asmaaa-a kullahaa summa ‘arodhohum ‘alal-malaaa-ikati fa qoola ambi-uunii bi-asmaaa-i haaa-ulaaa-i ing kungtum shoodiqiin

“Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!””
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 31)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَا لُوْا سُبْحٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَاۤ اِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۗ اِنَّكَ اَنْتَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ
qooluu sub-haanaka laa ‘ilma lanaaa illaa maa ‘allamtanaa, innaka angtal-‘aliimul-hakiim

“Mereka menjawab, “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.””
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 32)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَا لَ يٰۤـاٰدَمُ اَنْبِۢئْهُمْ بِاَ سْمَآئِهِمْ ۚ فَلَمَّاۤ اَنْۢبَاَ هُمْ بِاَ سْمَآئِهِمْ ۙ قَا لَ اَلَمْ اَقُلْ لَّـكُمْ اِنِّيْۤ اَعْلَمُ غَيْبَ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۙ وَاَ عْلَمُ مَا تُبْدُوْنَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُوْنَ
qoola yaaa aadamu ambi-hum bi-asmaaa-ihim, fa lammaaa amba-ahum bi-asmaaa-ihim qoola a lam aqul lakum inniii a’lamu ghoibas-samaawaati wal-ardhi wa a’lamu maa tubduuna wa maa kungtum taktumuun

“Dia (Allah) berfirman, “Wahai Adam! Beritahukanlah kepada mereka nama-nama itu!” Setelah dia (Adam) menyebutkan nama-namanya, Dia berfirman, “Bukankah telah Aku katakan kepadamu bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan?””
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 33)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ ذْ قُلْنَا لِلْمَلٰٓئِكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰ دَمَ فَسَجَدُوْۤا اِلَّاۤ اِبْلِيْسَ ۗ اَبٰى وَا سْتَكْبَرَ ۖ وَكَا نَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ
wa iz qulnaa lil-malaaa-ikatisjuduu li-aadama fa sajaduuu illaaa ibliis, abaa wastakbaro wa kaana minal-kaafiriin

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka mereka pun sujud kecuali iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri dan ia termasuk golongan yang kafir.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 34)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا لَّذِيْنَ يَنْقُضُوْنَ عَهْدَ اللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ مِيْثَا قِهٖ وَيَقْطَعُوْنَ مَاۤ اَمَرَ اللّٰهُ بِهٖۤ اَنْ يُّوْصَلَ وَيُفْسِدُوْنَ فِى الْاَ رْضِ ۙ اُولٰٓئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوْٓءُ الدَّا رِ
wallaziina yangqudhuuna ‘ahdallohi mim ba’di miisaaqihii wa yaqtho’uuna maaa amarollaahu bihiii ay yuushola wa yufsiduuna fil-ardhi ulaaa-ika lahumul-la’natu wa lahum suuu-ud-daar
*****
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا لَّذِيْنَ صَبَرُوا ابْتِغَآءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَاَ قَا مُوا الصَّلٰوةَ وَاَ نْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَا نِيَةً وَّيَدْرَءُوْنَ بِا لْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ اُولٰٓئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّا رِ 
wallaziina shobarubtighooo-a waj-hi robbihim wa aqoomush-sholaata wa angfaquu mimmaa rozaqnaahum sirrow wa ‘alaaniyataw wa yadro-uuna bil-hasanatis-sayyi-ata ulaaa-ika lahum ‘uqbad-daar

“Dan orang yang sabar karena mengharap keridaan Tuhannya, melaksanakan sholat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),”
(QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 22)

“Dan orang-orang yang melanggar janji Allah setelah diikrarkannya, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah agar disambungkan, dan berbuat kerusakan di bumi; mereka itu memperoleh laknat dan tempat kediaman yang buruk (Jahanam).”
(QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 25)
*****
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

كَذٰلِكَ اَرْسَلْنٰكَ فِيْۤ اُمَّةٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهَاۤ اُمَمٌ لِّـتَتْلُوَاۡ عَلَيْهِمُ الَّذِيْۤ اَوْحَيْنَاۤ اِلَيْكَ وَ هُمْ يَكْفُرُوْنَ بِا لرَّحْمٰنِ ۗ قُلْ هُوَ رَبِّيْ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۚ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَاِ لَيْهِ مَتَا بِ
kazaalika arsalnaaka fiii ummating qod kholat ming qoblihaaa umamul litatluwa ‘alaihimullaziii auhainaaa ilaika wa hum yakfuruuna bir-rohmaan, qul huwa robbii laaa ilaaha illaa huw, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi mataab

“Demikianlah, Kami telah mengutus engkau (Muhammad) kepada suatu umat yang sungguh sebelumnya telah berlalu beberapa umat, agar engkau bacakan kepada mereka (Al-Qur’an) yang Kami wahyukan kepadamu, padahal mereka ingkar kepada Tuhan Yang Maha Pengasih. Katakanlah, “Dia Tuhanku, tidak ada tuhan selain Dia; hanya kepada-Nya aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku bertobat.””
(QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 30)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَوْ اَنَّ قُرْاٰ نًا سُيِّرَتْ بِهِ الْجِبَا لُ اَوْ قُطِّعَتْ بِهِ الْاَ رْضُ اَوْ كُلِّمَ بِهِ الْمَوْتٰى ۗ بَلْ لِّـلّٰهِ الْاَ مْرُ جَمِيْعًا ۗ اَفَلَمْ يَايْـئَسِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَنْ لَّوْ يَشَآءُ اللّٰهُ لَهَدَى النَّا سَ جَمِيْعًا ۗ وَلَا يَزَا لُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا تُصِيْبُهُمْ بِمَا صَنَعُوْا قَا رِعَةٌ اَوْ تَحُلُّ قَرِيْبًا مِّنْ دَا رِهِمْ حَتّٰى يَأْتِيَ وَعْدُ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيْعَا دَ
walau anna qur-aanang suyyirot bihil-jibaalu au quththi’at bihil-ardhu au kullima bihil-mautaa, bal lillaahil-amru jamii’aa, a fa lam yai-asillaziina aamanuuu al lau yasyaaa-ullohu lahadan-naasa jamii’aa, wa laa yazaalullaziina kafaruu tushiibuhum bimaa shona’uu qoori’atun au tahullu qoriibam ming daarihim hattaa ya-tiya wa’dulloh, innalloha laa yukhliful-mii’aad

“Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan itu gunung-gunung dapat digoncangkan, atau bumi jadi terbelah, atau orang yang sudah mati dapat berbicara, (itulah Al-Qur’an). Sebenarnya segala urusan itu milik Allah. Maka tidakkah orang-orang yang beriman mengetahui bahwa sekiranya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya. Dan orang-orang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi di dekat tempat kediaman mereka, sampai datang janji Allah (penaklukan Mekah). Sungguh, Allah tidak menyalahi janji.”
(QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 31)
*****
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَ لَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ 
allaziina aamanuu wa tathma-innu quluubuhum bizikrillaah, alaa bizikrillaahi tathma-innul-quluub

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 28)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ طُوْبٰى لَهُمْ وَحُسْنُ مَاٰ بٍ
allaziina aamanuu wa ‘amilush-shoolihaati thuubaa lahum wa husnu ma-aab

“Orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka mendapat kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.”
(QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 29)
*******
Ke