BUDAYA

R a k y a t

TIRAS.id

TIRAS.id —  Dari semua kata “rakyat” yang sangat banyak digunakan di negeri ini:

Rakyat ialah kita

 jutaan tangan yang mengayun dalam kerja

di bumi  di tanah tercinta

jutaan tangan mengayun bersama

membuka hutan-hutan lalang jadi ladang-ladang berbunga

mengepulkan asap dari cerobong pabrik-pabrik di kota

menaikkan layar menebar jala

meraba kelam di tambang logam dan batu bara

Rakyat ialah tangan yang bekerja

 Dengan membaca bait pertama ini saja, kita merasa telah menemukan makna rakyat yang paling hakiki.

Dalam bait-bait selanjutnya, makna hakiki ini dengan mengatakan, Rakyat ialah kita//yang selalu berkata dua adalah dua// Rakyat ialah otak yang menulis angka-angka//Rakyat ialah suara beraneka// Rakyat ialah kita//darah di tubuh bangsa//debar sepanjang masa//.

Alangkah menggetarkan puisi ini.  Puisi yang menggetarkan: rakyat adalah kita//darah di tubuh bangsa.

Rakyat dalam puisi dengan bahasa sehari-hari. Karena kita tidak akrab dengan puisi dan setiap saat bergelut dengan bahasa sehari-hari itu, kata “rakyat” pun kita gunakan sekehendak hati.

Akibatnya, kata “rakyat” sering kehilangan maknanya yang sejati.

Dewan yang mengaku dirinya mewakili rakyat itu, dalam praktiknya hanya mewakili partai. Jika dikatakan “untuk kepentingan rakyat”, pada dasarnya yang dimaksudkan adalah “untuk kepentingan suatu golongan” atau “untuk kepentingan orang-orang tertentu”.

Kalau disebutkan “kedaulatan di tangan rakyat”, jangan buru-buru senang.

Yang sebenarnya berdaulat adalah orang-orang yang menyebut diri mereka “wakil rakyat”. Bukan rakyat yang, kata mereka, mereka wakili. Kan, pemilihan umum adalah upacara resmi penyerahan kedaulatan dari tangan rakyat kepada wakilnya.

Anda boleh kecewa berat berton-ton karena ketua parlemen Anda yang dijatuhi hukuman oleh pengadilan negeri masih tetap duduk enak di kursi empuknya. Anda tidak bisa berbuat apa-apa karena kedaulatan telah Anda serahkan kepada wakil partai yang katanya mewakili Anda itu.

Walaupun demikian, memang masih banyak juga kata “rakyat” yang merupakan nomina yang berfungsi menerangkan arti kata dalam makna yang sebenarnya, seperti “menipu rakyat”, “musuh rakyat”, dan “melecehkan akal sehat rakyat”.

Yang ditulis terakhir ini adalah yang terbanyak kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak pejabat yang berbicara atau memberi keterangan seolah-olah orang yang mendengar omongannya tidak memiliki akal sehat.

Seakan tanpa beban dan tanpa merasa bersalah mereka berkata dengan ringan akan membayar utang negara dengan harta karun. Atau, memberikan cek  bernilai miliaran rupiah kepada pihak lain tanpa tanda terima, dan sebagainya.

Belakangan sering pula disebut-sebut “pengadilan rakyat”.  Frasa ini timbul sebagai reaksi karena kekecewaan terhadap pengadilan resmi yang selalu menjatuhkan hukuman kepada terdakwa berdasarkan “tawar-menawar”.

Tidak jelas benar apa sebenarnya yang dimaksudkan dengan “pengadilan rakyat” itu. Apakah membunuh dan membakar maling yang tertangkap dapat disebut “pengadilan rakyat?” Bukankah kasus seperti itu lebih layak disebut “kejahatan massa”?

Kita sangat sering menggunakan kata rakyat karena KBBI dengan definisi resminya juga menyebutkan rakyat adalah anak buah, bawahan (ragam percakapan), orang kebanyakan, orang biasa dan pasukan (balatentara).

Artinya, kata rakyat dapat digunakan untuk banyak hal, termasuk “mengatasnamakan rakyat” yang umumnya  untuk kepentingan diri sendiri.

“Rakyat adalah akar rumput yang setiap saat diinjak,” ujar seseorang dengan sinis. “Rakyat adalah objek yang senantiasa dibohongi, ditipu, diperalat, disengsarakan, tidak dilindungi haknya, tetapi senantiasa diperlukan,” ujar seseorang dengan amarah.

“Rakyat adalah semata-mata kuda tunggangan dan pengangkut beban,” terdengar suara dari pojok lain. Ungkapan-ungkapan seperti ini merupakan ekspresi kekecewaan atas perlakuan terhadap rakyat pada umumnya.

Mereka – siapa pun dia – yang selalu menunggangi rakyat untuk kepentingannya, benar-benar lupa bahwa  “rakyat ialah angin yang menyapu kabut” dan “awan menyimpan topan”.

Banyak di antara kita lupa bahwa rakyat adalah kekuatan yang mahadahsyat, yang dapat meluluhlantakkan musuh-musuhnya, dan menentukan hidup matinya suatu bangsa.

Tidak dapat dibayangkan apa yang akan terjadi jika  awan menyimpan topan ini tidak mampu lagi meredam  desakan dan tekanan topan yang disimpannya. Samudra topan dengan gelombang menggunung mungkin akan menggulung apa saja yang merintanginya. Ini sebuah bencana besar yang harus dicegah jangan sampai terjadi.

Dalam hubungan ini, barangkali layak kalau kita menyebut “batas kesabaran rakyat”. Karena, batas kesabaran itu memang ada. Cuma, kita juga tidak tahu parameter apa yang harus kita gunakan untuk mengukur “batas kesabaran  rakyat” itu.

Kata “rakyat” sangat sering diselewengkan maknanya, hanya untuk kepentingan tertentu. Politik sangat berperan dalam penyelewengan ini. Sangat langka yang memberi makna menyejukkan terhadap kata “rakyat”.

Rakyat ialah  suara kecapi di pegunungan jelita// suara kecak di muka pura//suara tifa di hutan kebun pala.

                                                                                Penulis adalah Rakyat …!

Total Page Visits: 71 - Today Page Visits: 2
TIRAS.id

Tinggalkan Balasan