Psikolog Sebut Hati-Hati Dampak Internet pada Anak, Mental Plagiat hingga Kesehatan Mental

oleh


EKSEKUTIF.COM, JAKARTA,- Adanya internet membawa kehidupan manusia menjadi lebih mudah, sebab internet semua orang bisa terkoneksi dengan berbagai aspek.

Transformasi digital yang mengalami percepatan selama masa pandemi pun memberi dampak peningkatan jumlah pengguna internet.

Sekarang sekitar 202,6 juta orang Indonesia telah menggunakan internet, sebanyak 170 juta aktif di media sosial. Lalu bagaimana dengan anak-anak?

Sophie Beatrix Psikolog Praktisi dalam bidang Pendidikan dan Industri mengungkapkan, persentase anak usia 7-17 tahun yang mengakses media sosial kini semakin naik dan sudah lebih dari 70 persen.

Dapat dikatakan mayoritas anak Indonesia sudah mengakses internet untuk bermedia sosial.

Padahal media sosialnya sebenarnya diperuntukan minimal untuk usia 13 tahun, namun nyatanya di bawah itu sudah banyak yang menggunakannya.

“Fakta tersebut perlu dicermati oleh orang dewasa dan orangtua karena internet juga memiliki dampak negatif selain manfaat positifnya,” katanya saat webinar Literasi Digital wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat, pada Rabu (6/10/2021).

Apalagi sekarang anak-anak menjalani sekolah online, sumber pengetahuan pun kini tak terbatas buku pelajaran saja.

Internet menjadi sumber belajar bagi anak-anak, belum lagi kebutuhan lainnya seperti sarana hiburan, media bersosialisasi, dan sebagai tempat menumbuhkan kreativitas yang menciptakan peluang serta potensi baru.

Di sini orangtua harus mengetahui dampak negatif internet pada anak seperti konten yang tidak sesuai usia, menimbulkan kecanduan misalnya game dan gawainya.

Bahkan internet bisa membuat mental anak jadi plagiat, jika anak tidak diajarkan untuk menerapkan hak kekayaan intelektual.

Sementara itu dari segi kesehatan bisa menimbulkan gangguan penglihatan saat konsumsi internet dan gawainya berlebihan tidak diatur oleh orangtua.

Orangtua perlu mencermati bahwa anak rentan di dunia digital yakni terkait unsur hoaks, penipuan, ujaran kebencian, pornografi, bullying, trafficking, prostitusi, SARa, radikalisme dan sebagainya.

Lebih jauh mendidik anak di era digital merupakan tanggung jawab orangtua dan lingkungan sekitar.

Sebab anak awalnya mungkin belajar internet dari orangtua namun semakin besar mereka lebih banyak belajar dari lingkungannya.

Bahkan generasi anak sekarang yaitu generasi Z dan generasi alpha yang sudah akrab dengan dunia internet atau disebut digital native akan lebih pintar dari orangtuanya dalam menggunakan internet dan teknologi.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat I merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi.

Di webinar kali ini hadir pula nara sumber lainnya yaitu Meiskasa, Recruitment Officer Permata Bank, Syarief Hidayatulloh, Digital Strategist Hello Monday Morning, dan Fiona Damanik, seorang Psikolog dan Konseler dari Universitas Multimedia Nusantara.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama.

Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 73 kali dilihat,  73 kali dilihat hari ini



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

No More Posts Available.

No more pages to load.