Hadapi Dunia Maya dengan Berpikir Kritis – Media Internasional

oleh


EKSEKUTIF.COM, JAKARTA – Semua sektor membutuhkan internet terlebih di saat pandemi, usaha, segala aktivitas, pendidikan, pekerjaan semua membutuhkan internet untuk saling terhubung. Jumlah waktu yang dilakukan masyarakat di dalam ruang digital juga cukup lama dalam sehari. Makanya butuh kecakapan atau kedewasaan untuk menyikapi fenomena digital ini.

Semua informasi dapat diakses pengguna terlebih dengan adanya algoritma search engine yang mampu mengumpulkan satu kecenderungan yang sama. Sehingga seluruh informasi terkait mudah ditemukan bahkan mampu mempengaruhi sudut pandang hingga perilaku pengguna internet. Maka, berpikir kritis itu memang sangat dibutuhkan saat sedang berinternet.

Iwan Zulkifli Ketua relawan TIK Kota Tasikmalaya mengatakan, kita ingin mempengaruhi atau dipengaruhi oleh sebab itu sebagai pengguna internet wajib memastikan dan memahami tujuan, sudut pandang dan asumsi, implikasi dan konsekuensi, data dan fakta.

“Tujuan kita masuk internet itu apa? Ingin membantu belajar sebagai sarana mencari informasi, ingin berbisnis, hiburan, berjejaring bahkan para oknum penjahat juga sudah memiliki tujuan kriminal saat masuk dalam dunia digital. Fokus saja pada tujuan kita dari awal itu jangan sampai berbelok ke tujuan lain,” ungkapnya saat mengisi webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat Rabu (15/9/2021) pagi.

Sudut pandang dan asumsi terkait dengan cara seseorang dalam menyikapi suatu kejadian di dunia internet. Sadari jika nanti ada pendapat pasti hadir pro kontra, sejak awal kita sudah menentukan sudut pandang mana yang akan kita gunakan. Jangan sampai sudut pandang kita dalam menyikapi hal-hal di internet malah menjadi masalah baru. Respon kita terhadap informasi informasi yang ada di internet itu dapat menajdikan isu baru. Maka asumsinya harus benar diperhatikan.

“Implikasi dan konsekuensi ini menjadi pertimbangan untuk hal-hal yang kita perbuat di dunia maya. Konten apa yang kita buat dan publish, produk apa yang kita jual. Kita harus bisa menerima segala implikasi dan konsekuensi,” tambahnya.

Dengan banyaknya informasi jangan sampai malas mengecek data dan fakta yang sesungguhnya. Kini semua data harus disertai data pendukung, begitu juga saat ada informasi datang. Saat kita berargumen pun membutuhkan data agar orang mengerti dan menerima.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Rabu (15/9/2021) pagi juga menghadirkan pembicara Arya Shani (Founder Tekape Workingspace), Iwan Kemrianto (Praktisi Bisnis Properti), Theo Derick (Praktisi Marketing Digital), dan Sari Hutagalung sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 5 kali dilihat,  5 kali dilihat hari ini





Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

No More Posts Available.

No more pages to load.