Etika Berinternet Mencerminkan Kepribadian Penggunanya

oleh


EKSEKUTIF.COM, JAKARTA – Internet sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat, digunakan dalam bekerja, mencari informasi, belajar, dan bersosialisasi dengan manusia lain. Namun etika yang mengatur tata krama dan sopan santun dalam berinteraksi dan berkomunikasi di ruang digital pun belum menjadi perhatian para penggunanya.

Hal tersebut diketahui dari survei Digital Civility Index (DCI) 2020 oleh Microsoft, menyebutkan Indonesia berada di urutan terakhir di kawasan Asia Tenggara mengenai “Kesopanan di dunia digital”. Penyebaran hoaks dan penipuan, ujaran kebencian, serta diskriminasi merupakan indikasi yang memperburuk penilaian.

“Berbicara mengenai etika maka etika yang dimaksud adalah mengenai cara bersikap seseorang saat berinteraksi di ranah digital. Etika di dunia digital membantu mengatur batasan sikap dan perilaku seseorang, untuk menghindari kejadian seperti cyberbullying, ujaran kebencian, penyebaran berita hoaks hingga pelecehan seksual,” ujar Prof Alimatul Qibtiyah, PH.D dari Pusat Studi Kecerdasan Digital UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat I, Rabu (22/9/2021).

Lebih lanjut dia mengatakan, etika berkomunikasi di ruang digital bisa terjadi antara individu satu dengan individu yang lain, maupun saat berkomunikasi dengan kelompok yang banyak. Adapun Etika dalam berinternet sering kita sebut sebagai netiket. Netiket ini dipengaruhi oleh kepribadian dari masing-masing individu dan penguasaan soft skill dari literasi digital.

Adapun etika berkomunikasi yang melibatkan kelompok besar biasa terjadi di media sosial. Meskipun tidak bertatap muka langsung etika di ruang digital tetap harus diperhatikan. Misalnya mengamankan data pribadi, menghargai hasil karya orang lain, menggunakan bahasa yang baik dan sopan, menggunakan tata tulis yang benar dan tidak menulis kalimat dalam huruf besar. Hal yang ikut membawa pengaruh besar dalam etika ini setiap individu perlu meninjau ulang kebenaran berita, menghindari penyebaran SARA, hal yang tidak etis, maupun pornografi.

Kemudian, etika antar individu yang perlu diperhatikan adalah saat mengirim pesan melalui SMS, pesan teks dengan melihat waktu pengiriman, penggunaan bahasa yang baik dan benar, dimulai dengan salam, mengenalkan identitas, dan isi pesan tujuan ditulis singkat, diakhiri dengan ucapan terima kasih. Begitu pun sewaktu mengirim email, menggunakan alamat email dan foto jadi hal yang merepresentasikan pengirim, harus mengisi subjek email dengan benar, mengisi badan email singkat dan padat, pastikan lampiran sudah tersedia, dan jangan lupa untuk membaca ulang sebelum mengirimkannya.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi. Di webinar kali ini hadir pula nara sumber lainnya yaitu Rut Rismanta, Dosen Komunikasi UPNVJ, Alda Dina Bangun, Guru SD Cahaya Bangsa Kota Parahyangan, dan Asep Hardiyanto, Dosen Fakultas Teknik UNIS.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 6 kali dilihat,  6 kali dilihat hari ini



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

No More Posts Available.

No more pages to load.