google.com, pub-6135897251816907, DIRECT, f08c47fec0942fa0
Viral

BNN Dalam Konferensi & Pameran Homeland Security (HLS) Indonesia di JCC

TIRAS.id

TIRAS.id — Acara pameran berlangsung selama tiga hari, mulai tanggal 4-6 Maret 2020 di Plenary Hall Jakarta Convention Center (JCC). Ada sekitar lima belas negara hadir dan seratus exhibitor yang berkaitan keamanan dalam negeri berpartisipasi.

Peserta pameran hingga pengunjung datang dari Australia, Finlandia, Perancis dan Jerman. Juga dari Hongkong, Italia, Lithuania, Malaysia, Republik Belarus, Slovakia, dan Belanda. Hadir dan ikut berpartisipasi juga dari Inggris, Amerika Serikat dan negara kita.

“Saya menjadi pembicara di hari kedua, tadi jam sepuluh pagi. Penanganan dan pencegahan penyalahgunaan Narkoba harus dilakukan dengan meningkatkan kerjasama antar negara,” ujar Deputi Pencegahan BNN Irjen Pol Anjan Pramuka, SH., M.Hum.

BNN mendapat kesempatan sebagai pembicara pada sesi ke-2 dengan tema “TACKLING THE ILLEGAL DRUG SMUGGLING IN SOUTHEAST ASIA” mewakili Kepala BNN, Anjan Pramuka.

Jenderal Bintang dua ini yang sering mengikuti Pertemuan Internasional di bidang penanganan masalah narkoba di dunia.

Anjan mengawali paparannya dengan memberikan informasi  tentang pola penangangan masalah narkoba dengan upaya menekan demand agar faktor supply nya berkurang.

Pria kelahiran Semarang, Jawa Tengah, 21 Januari 1963 itu memberi contohnya dalam Satuan Tugas Pelarutan Pelabuhan ASEAN (ASITF) Indonesia mengambil peran sebagai Sekretariat untuk ASITF. Indonesia juga merupakan anggota aktif Satuan Tugas Interdiksi Bandara ASEAN (AAITF).

Sosok yang dikenal media ketika berhasil dalam operasi pengungkapan kasus narkoba tingkat Internasional di Pantai Ujung Genteng Sukabumi bulan Januari 2012 lalu memaparkan, bahwa negara-negara anggota ASEAN bertukar informasi melalui saluran ini dan bertemu secara berkala untuk memperbaharui dan membahas masalah-masalah narkoba saat ini.

Dalam memberikan gambaran rute peredaran narkoba ke Indonesia, Anjan juga menjelaskan, bahwa Indonesia merupakan salah satu anggota pendukung Prakarsa Mekong Aman.  “Indonesia sepenuhnya mendukung upaya untuk mengatasi masalah di wilayah regional Mekong,” ujarnya.

Anjan Pramuka juga menyampaikan data UNODC pada UNODC Report 2019 yang menangani narkoba di dunia. Bahwa Prevalensi Penyalahgunaan Narkoba Dunia Pada tahun 2017, diperkirakan 271 juta orang di seluruh dunia yang berusia 15-64 tahun. Mereka telah menggunakan narkoba setidaknya satu kali pada tahun sebelumnya (kisaran: 201 juta hingga 341 juta).

Dalam paparannya, Anjan mengungkap pada data nasional di Indonesia, soal prevalensi penyalahgunaan narkoba dari tahun 2011 hingga 2019 telah menurun secara signifikan.

Menurut data prevalensi nasional pada tahun 2019, ada penurunan sekitar 0,6% dari 4,53 juta orang (2,40%) menjadi 3,41 juta orang (1,80%).  Hampir satu juta orang di Indonesia berhasil diselamatkan dari pengaruh narkotika.

Anjan pun berterima kasih, ketika lembaga swadaya masyarakat serta media massa mendukung pencegahan narkoba. Yang sedang berjalan saat ini, program Desa Bersinar (Bersih Narkoba) yang berfungsi tidak hanya untuk menekan penurunan angka prevalensi. Tapi, juga membantu BNN untuk mengawasi masuknya narkoba dari desa khususnya yang berada di pinggir pantai.

Permasalahan Narkoba, Anjan mengatakan, tidak dapat diselesaikan secara sendiri-sendiri, baik negara maupun lembaga atau instansi pemerintah.  “Oleh karenanya telah ada Inpres no 6 tahun 2018  yang mengajak seluruh instansi harus bersinergi untuk mengkampanyekan P4GN,” ujarnya.

Anjan Pramuka berpendapat, bahwa adanya teknologi saat ini, menyebabkan informasi transaksi narkoba di Indonesia mudah terlewat begitu saja.

Dan hal tersebut, Anjan mengingatkan, merupakan ancaman ke depanannya dimana teknologi informasi (cyber) terhadap penyalahgunaan narkoba salah satunya dark web yang begitu sulit untuk dimatikan dan diretas karena IP yang tidak terdeteksi.

Pada saat ini, masih dalam paparan Anjan, jenis narkoba yang banyak diperdagangkan adalah jenis NPS (New Psychoactive Substances) yang diciptakan oleh jaringan dimana efeknya 13 kali lebih hebat dan kandungannya,  dan saat ini sudah ada 892 jenis NPS di dunia.

Anjan mengatakan, peredaran gelap mendukung peredaran narkoba dengan jalur laut menjadi 80% sebagai penyumbang bagi penyelundupan narkoba ke Indonesia. Para penyelundup dan mafia narkoba, memanfaatkan Golden Triangel sebagai Jalur transaksi terbesar sehingga begitu sulit untuk mengamati bahkan sampai ke pulau terkecil di Indonesia.

Anjan Pramuka berharap Indonesia dapat menghentikan perdagangan narkoba baik dari luar negeri, baik sebagai wilayah transit, ataupun produksi di dalam negeri.

Oleh karenanya, pria yang bersahaja dan kini memiliki ragam jaringan untuk cegah narkoba berharap forum semacam ini dapat mengatasi perkembangan kejahatan di era globalisasi yang cukup pesat.

“Harus ada upaya antisipasi maksimal dari setiap negara untuk melindungi setiap warga negaranya,” ujar Jenderal polisi yang secara track record “galak” terhadap bandar narkoba ini terus membangkitkan kesadaran, bahwa rakyat Indonesia harus berani melawan bahaya narkoba, yakni punya resep benteng keluarga dan iman.

Total Page Visits: 179 - Today Page Visits: 2

Tinggalkan Balasan