“Biasa-Biasa Saja Namun Berdampak Besar”

oleh

POJOK News

“Risiko Kerja dan Dampaknya”

Oleh: Fathonie Abdullah
(Journalist-Researcher)

Seperti biasanya sudah bertahun-tahun, namanya rutinitas kerja pulang-pergi dari rumah ke tempat pekerjaan, segalanya terkesan biasa-biasa saja.

“Sudah kebiasaan…. ” kata seorang pegawai paruh baya di Terminal Depok, singkat, lalu kembali serius ‘memainkan handphone’ — tak kalah biasa dengan generasi milenial, yang umumnya tak pernah lepas dari menggenggam seluler.

“Biasa lah, Mas… tiap hari juga begini….” kata seorang pedagang asongan di tikungan Kuburan Karet, Tanah Abang. Juga beberapa pedagang ‘Kaki Lima’ di emperan Tanah Abang dan Pedagang Gerobak depan Kelurahan Gelora Senayan.

Dan, yang lainnya, seperti keluarga Doni di Pasar Manggis, Manggarai; meski tak menjawab, namun istrinya yang seorang guru sering datang bersama dua anaknya yang masih sekolah dasar sambil bermain; juga bersama anaknya yang masih mahasiswa dan sekolah, yang ikut membantu kerja di toko bersama dua saudaranya yang lain. Semuanya memang tampak biasa, dari Doni masih bujang sampai punya anak perawan, kesannya biasa saja karena sudah kebiasaan.

Bahkan, para pemulung dan gelandangan yang banyak tinggal di kolong jembatan (Bantaran Kali Ciliwung, dekat Terminal Kampung Melayu, dll; juga aktivitas di Mushola bawah jalan tol Kalimalang dan Sunter, Taman di bawah kolong jembatan Ciputat dan Grogol, dll; semuanya terkesan biasa-biasa saja.

Namun, berdasarkan observasi Penulis bertahun-tahun, tentu saja segala yang ada tersebut tidak ‘biasa-biasa saja’: ada romantika dan dinamika ‘yang hidup di balik kebiasaan’ tersebut. Ada risiko ‘ancaman kesehatan’ dan dampak psikologi-sosial yang laten. Selama Pandemi COVID-19, contohnya, yang ‘biasa-biasa saja’ itu berubah menjadi “luar biasa”.

Buka-tutup gerbong kereta api dan Busway; antrian di stasiun kereta api dan halte Busway; kursi kereta api yang tanpa pelapis yang bisa diganti-ganti seperti di Pesawat, pintu Busway yang kurang rapat sehingga polutan kendaraan masuk ke dalam, aroma campur-baur jamaah yang singgah di masjid saat shalat, dll; hanya beberapa contoh saja, bagaimana udara segar yang sudah terkontaminasi bisa berdampak pada kesehatan paru-paru, mata, anomali emosi, dll.

Seperti saat vaksin (Kamis, 12/8/2021) di Sekretariat RW 017 (Kelurahan Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat), di jalan dekat penampungan limbah plastik dan kandang kambing-ayam milik warga; ratusan orang antri di vaksin, tanpa ‘sop’ (standar operasional prosedur) yang tertib dan terarah, ‘anomali emosi’ hampir saja tak terkendalikan.

Namun, ‘apa mau dikata’? Kalau ada iklan layanan masyarakat dengan ‘tagline’: “Sudah kebiasaan sih…!”; tentu, penerapan ‘new normal protocol’ yang sudah ada Pergub dan Instruksi Mendagri RI plus ‘law inforcement’ lain seperti soal kerumunan, akan sulit dikondisikan secara baik dan benar.
*****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

No More Posts Available.

No more pages to load.