Prof Dr Jenderal TNI AM Hendropriyono Tentang Presiden 2024, repost Majalah EKSEKUTIF

oleh

TIRAS.id — Sejatinya sudah terbilang senja. Namun, kondisi serta kebugaran tubuhnya masih gagah perkasa.Tetap sehat dan segar walau usianya lebih dari 77 tahun.

Jenderal TNI Prof. Dr. Abdullah Mahmud Hendropriyono, S.T., S.H., M.H atau sering disebut A.M. Hendropriyono. Ditemui di kediaman pribadinya, Kawasan Permata Hijau, Jakarta Selatan.

Di ujung pekarangan rumahnya terparkir Anoa, kendaraan tempur untuk memenuhi kebutuhan pertahanan dan keamanan nasional. Kendaraan taktis buatan Pindad yang ikut dalam misi perdamaian dunia PBB di berbagai Negara seperti Lebanon, Afrika Tengah, dan Sudan.

Tampak juga beberapa ayam putih di kandang sebagai bagian dari peliharaan. Setelah melewati prosedur pemeriksaan keamanan yang lumayan ketat, termasuk dimintai nomer hape oleh keamanan berambut cepak.

Sang Maha Guru Jenderal Hendropriyono menerima Ketua Umum Asosiasi Media Digital Indonesia (AMDI) S.S Budi Rahardjo di teras rumahnya, yang asri dan rimbun dengan pohon besar.

Gayanya tetap kekinian, saat empunya rumah keluar rumah, menyapa ramah, “Woi Bud, apa kabar,” ujarnya tetap bersahaja, sambil menyilahkan duduk. Bersalaman ala militer. Ramah dan akrab, Hendro memang sosok yang punya daya ingat kuat.

“Kita enggak usah wawancara, ngobrol santai aja,” ujar Hendro kepada pria yang merupakan anggota kehormatan Densus Digital dan pendiri Pusat Pengkajian dan Penelitian Indonesia Public Watch Integrity ini.

Mereka tampak sangat akrab berbincang dengan Hendropriyono. Bagaikan sahabat dekat yang lama tak bersua. Selama bercengkerama bersama, Jojo dan Hendropriyono banyak mendiskusikan tentang berbagai persoalan.

Terkadang ringan terkadang serius. Bapak Intelijen Indonesia ini banyak memberi ilmu dan wejangan kepada Jojo berbagai hal yang selama ini tak terungkap di publik dan tentang arah masa depan bangsa ini.

“Pak Hendro juga mengingatkan tentang jiwa nasionalisme dan patriotisme,” tutur Jojo sang wartawan senior ini yang mendapat pencerahan, bila pemimpin Indonesia adalah sosok yang menang lewat politik identitas. Maka, Indonesia bisa terbelah.

Hendropriyono, lanjut Jojo, juga bicara soal bandul goncangan resesi dunia yang kini semakin kencang berayun.

Dengan dasar filsafat Pancasila ekonomi Indonesia sampai saat ini terbukti resiliens, karena sinkronisasi antara peran pemerintah dengan kekuatan rakyat yaitu kaum kapitalis domestik. Filsafat Pancasila menjadi solusi untuk ancaman resesi dalam senjakala pascakapitalisme di dunia

Hendro juga bicara soal disiplin sosial berkaitan soal Pancasila. “Akar dari radikalisme subur di tanah yang masyarakatnya mabuk agama. Mereka mencintai agama tapi tidak memiliki disiplin sosial,” ucap Hendropriyono.

“Bahwa menjalankan sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa, harus dilaksanakan sesuai sila kedua, yaitu Kemanusiaan yang adil dan beradab,” tambahnya.

“Agama dan beragama harus membuat orang sadar bukan sebaliknya. Juga perlu memahami hubungan agama dan Pancasila sebagai falsafah dan asas bernegara,” kata Hendropriyono, yang sempat meramalkan tokoh Presiden 2024 nanti adalah tokoh muda dan bukan dari militer .

Guru Besar Sekolah Tinggi Intelijen Negara dan Sekolah Tinggi Hukum Militer tersebut memberikan bocoran, bagaimana jika nanti tokoh yang menjadi RI satu tak mengerti benar tentang Pancasila.

“Indonesia bisa terbelah, bisa ada tujuh negara minta pisah dari NKRI,” ujar Hendro bicara gamblang.

Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) ini memang kenyang pengalaman, termasuk beliau yang mendukung Jokowi saat di awal masih belum ada partai yang mendukung.

Menapaki Tiga Karier: Dunia militer, politik, dan intelijen.

Pada akhir dekade 1980-an Abdullah Mahmud Hendropriyono masih berpangat kolonel. Ketika Benny Moerdani masih jadi Panglima ABRI, orang baret merah ini dijadikan Komandan Korem 043/Garuda Hitam Lampung.

Lampung di masa itu dianggap “daerah pelarian bagi orang-orang garis keras yang berseberangan sikap dengan pemerintah. Di antaranya mereka yang terlibat peristiwa DI/TII”. Di salah satu daerahnya, yang bernama Talangsari, pernah terjadi pertumpahan darah pada 7 Februari 1989.

Dalam peristiwa tersebut, perwira TNI dan orang-orang Islam dari kelompok Warsidi terbunuh. Nama Hendropriyono pun selalu diingat dalam peristiwa yang terjadi di zaman Orde Baru sedang kuat-kuatnya itu.

 Meski terjadi kekerasan aparat di daerahnya, Hendro tidak langsung dicopot dari posisi Danrem. Dia tetap di Lampung hingga 1991. Setelah Talangsari berlalu, Hendro pun ditarik ke Jakarta.

Dia dijadikan Direktur D Badan Intelijen Strategis (BAIS) BAIS dari 1991 sampai 1992, lalu Direkur A BAIS ABRI. Hendro kemudian menjadi Panglima Kodam Jakarta Raya (Jaya) 1993.
Di masa dia jadi panglima, yang bertanggungjawab atas keamanan ibu kota itu, Hendro adalah orang yang membiarkan berlangsungnya Musyawarah Nasional (Munas) Partai Demokrasi Indonesia (PDI), di mana Megawati Soekarnoputri terpilih menjadi ketua umumnya.

Anak didik Benny Moerdani ini, seperti dicatat Salim Said dalam Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto (2016), mengaku tidak mendapat perintah khusus apapun dari Moerdani untuk memenangkan Megawati.

“Saya sendiri memang bersimpati kepada Megawati karena Bung Karno idola saya,” kata Hendro yang sejak 1996 diberi jabatan non-militer yang sering diisi jenderal, yaitu Sekretaris Pengendalian Operasi Pembangunan (Sekdalopbang).

Di akhir kabinet Soeharto, Hendro dijadikan Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan. Setelah Soeharto lengser dia merangkap jabatan Menteri Tenaga Kerja. Dari 2001 hingga 2004 dia dijadikan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN).

Di masa Hendro menjadi Kepala BIN itulah aktivis HAM Munir terbunuh.

“Soal terbunuhnya Munir juga sudah terbukti tidak ada sama sekali keterlibatan saya dengan si pembunuhnya, yang sudah dihukum 10 tahun penjara.”

“Justru saya selama ini menjadi sasaran fitnah orang untuk mencari panggung dan uang semata mata,” ujar pria yang juga dianugerahi bintang Tertinggi Timor Leste, bahkan diberi penghargaan langsung oleh Presiden Timor Leste Jose Manuel Ramos Horta di Dili, Timor Leste.

Jenderal Lapangan

Ketika belum genap tiga bulan lulus dari Akademi Militer Nasional (AMN) di Magelang, Letnan Dua A.M. Hendropriyono dikirim ke rimba raya Kalimantan. Bukan sekadar tugas survei, tapi tugas tempur menghadapi gerilyawan PGRS/Paraku yang kenal sebagai komunis Kalimantan.
Seperti pesan Komandan Pusat Pasukan Khusus Angkatan Darat (Puspassus AD) Brigadir Jenderal Widjojo Soedjono yang begitu diingatnya, “kalian pergi untuk belajar bertempur.”
Itulah yang harus dilalui para perwira muda yang akan diberi latihan komando di korps baret merah. Bukan sekali Hendro dikirim ke Kalimantan untuk PGRS/Paraku.

“Tanggal 12 November 1972, dengan pangkat Kapten, saya tergabung lagi dalam satuan tugas 42 dibawah pimpinan Mayor Sintong Panjaitan ke Kalimantan Barat,” ujar Hendro yang dalam Operasi Sandi Yudha: Menumpas Gerakan Klandestin.

Pada 1973-1974 Hendro memburu dengan gemilang gerombolan PGRS/Paraku pimpinan Ah San. Ketika menyergap Ah San dan kawan-kawan, Hendro dan belasan anak buahnya hanya bermodal pisau lempar dan pistol yang macet.
Aksinya ini dapat pujian dan namanya masuk koran Aneka Berita—yang masih ada hubungan dengan koran Angkatan Bersenjata. Bukan cuma di Kalimantan, di Timor Timur pun Hendro hadir.

“Hendropriyono sendiri berangkat [ke Timor Timur] pada akhir Agustus 1976,” tulis Ken Conboy dalam Kopassus: Inside Indonesia’s Special Forces (2003: 267). Dia ditugasi membuat persiapan masuk ke pedalaman Timor Timur.

Hendro pernah menjadi komandan peleton, komandan kompi, dan komandan detasemen tempur.

Senang Belajar dan Terapkan Ilmu Clandestine 

Pria yang lahir di masa pendudukan Jepang pada 7 Mei 1945 di Yogyakarta itu menempuh pendidikan dasar di SR Muhammadiyah, Kemayoran, Jakarta.

Kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 5 Jakarta dan SMA Negeri 2 Jakarta. Usai lulus dari SMA, Hendropriyono melanjutkan pendidikan militer di Akademi Militer Nasional (AMN), Magelang, Jawa Tengah dan lulus di tahun 1967.

Tak puas, dia kembali menempuh pendidikan di Australian Intelligence Course di Woodside (1971), United States Army Command and General Staff College di Fort Leavenworth, Amerika Serikat (1980).

 Setelah itu, dia menempuh pendidikan militer di Sekolah Staf dan Komando ABRI (Sesko ABRI) dan lulus terbaik pada 1989 di bidang akademik dan kertas karya perorangan dengan mendapat anugerah Wira Karya Nugraha.

 Di pendidikan militer, dia juga sempat mengenyam Kursus Singkat Angkatan VI Lembaga Ketahanan Nasional (KSA VI Lemhannas).

Obrolan juga tentang operasi intelijen, clandestine kekinian, yang berbeda dengan petugas intelijen jaman jadoel, Dimana saat ini,  teknik-teknik klandestin dengan baik, terlatih, dan cermat tidak harus tertutup penyamaran.

Intelejen itu panca indra. Jadi apa yang dia lihat dia dengan dia cium dia rasa, itu dikirim ke otak secepat-cepatnya, dianalisa, kemudian dirangkum. Maka, ilmu filsafat dan ilmu intelijen berpadu untuk membangun kualitas intelektual seseorang, biar enggak kayak robot.

Dalam beberapa kesempatan mengajar, Hendro tak sekali dua kali mengingatkan bahaya laten operasi subversif intelijen asing untuk mengobrak-abrik stabilitas Indonesia.

Kali ini, Hendropriyono berbicara tentang nilai moral Sumpah Pemuda harus menjadi sentral, jangan sampai seperti terjadi Sumpah Pemuda Arab. Bisa klik di INDONESIAN NATIONALISM IN 2022 AS BASED ON THE 1928 YOUTH PLEDGE

Berpangkat Tinggi Mayor Jenderal Angkatan Darat Sebagai Kepala Badan Intelijen Negara pertama dan dijuluki the master of intelligence karena menjadi ‘Profesor di bidang ilmu Filsafat Intelijen’ pertama di dunia, AM Hendropriyono memiliki sederet gelar akademik.

 Dia tercatat menyelesaikan pendidikan tingginya sebagai sarjana dalam bidang administrasi dari Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Negara (STIA-LAN), Sarjana Hukum dari Sekolah Tinggi Hukum Militer (STHM), Sarjana Ilmu Politik dari Universitas Terbuka (UT) Jakarta, Sarjana Teknik Industri dari Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani), Bandung.

Hendro juga meraih gelar magister administrasi niaga dari University of the City of Manila, Filipina, mendapat gelar magister di bidang hukum dari STHM. Kemudian pada Juli 2009, dia meraih gelar doktor filsafat di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dengan predikat Cum Laude.

Dikukuhkan sebagai guru besar di bidang ilmu Filsafat Intelijen dari Sekolah Tinggi Intelijen Negara. Dia menjadi satu-satunya dan pertama di dunia yang menjadi Guru Besar Intelijen.

Bahkan atas gelar tersebut, pria 76 tahun ini tercatat masuk ke dalam Museum Rekor Indonesia (MURI).  Selain karier militer yang mentereng, dia juga memegang sejumlah bisnis, hingga berkarier di dunia politik.

AM Hendropriyono tercatat pernah menjadi Ketua Umum Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia, Kepala Badan Intelijen Negara, dan Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan.

 Gelar akademik, karier militer yang gemilang, membuat ayah dari Diaz Hendropriyono ini meraih banyak penghargaan dari negara.

Di antaranya Bintang Mahaputera Indonesia Adipradana, Bintang Kartika Eka Paksi Nararya-prestasi, Bintang Bhayangkara Utama, Bintang Yudha Dharma, Bintang Dharma, Satyalancana Bhakti untuk luka-luka di medan pertempuran, serta anggota Legiun Veteran Pembela Republik Indonesia.

AM Hendropriyono merupakan penggagas lahirnya STIN di Sentul, Dewan Analis Strategis (DAS) Badan Intelijen Negara, Sumpah Intelijen, Mars Intelijen, hingga mempopulerkan intelijen sebagai “ilmu” dan menggali “filsafat intelijen”, serta menggagas berdirinya tugu Soekarno-Hatta di BIN.

Gelar The Master of Intelligence tak ayal tersemat dalam diri AM Hendropriyono. Julukan kehormatan itu diberikan karena dedikasi AM Hendropriyono sebagai “Profesor di bidang ilmu Filsafat Intelijen” pertama di dunia.

Saat ini AM Hendropriyono kerap menjadi pengamat terorisme dan intelijen. Dia sering diminta menjadi narasumber oleh media massa dan berbagai lembaga.

AM Hendropriyono juga giat menulis bermacam pemikirannya, yang tertuang dalam artikel-artikel di berbagai koran, majalah, radio dan televisi.

Ia juga merupakan Ketua Umum PAPPRI ke 5. Pasalnya, Hendropriyono juga aktif sebagai seorang pencipta lagu. Puluhan karyanya telah dipublikasikan, beberapa karya beliau juga ada yang dinyanyikan oleh artis terkenal saat ini yaitu Delon (jebolan Indonesian Idol) dan Siti Badriah serta Sherly May.

Bahkan Delon dan Siti Badriah berhasil menyabet gelar AMI Awards untuk kategori Kolaborasi Dangdut Kontemporer Terbaik, membawakan buah karya dari Hendropriyono.

Sosok yang kini jadi begawan ilmu intelijen. Kekayaan ilmu dan pengalaman yang ia miliki semasa bertugas di “berbagai medan tempur”, kini ia sumbangkan kepada generasi muda.

Agar kelak generasi Indonesia selanjutnya akan mampu mewarisi tongkat estafet kepemimpinan tanpa melupakan sejarah Indonesia.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

No More Posts Available.

No more pages to load.