Heboh Air Sungai Cimeta Berubah Jadi Merah Darah, Ini Penyebabnya : e-Kompas.ID News

oleh -17 Dilihat


BANDUNG – Masih ingat peristiwa air Sungai Cimeta berubah warna menjadi merah darah dan sempat bikin heboh masyarakat? Setelah ditindaklanjuti, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jawa Barat mengungkap penyebab perubahan warna air sungai di Kampung Cikurutug, Desa Tagog Apu, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) itu.

Kepala DLH Jabar, Prima Mayaningtyas menyatakan, pihaknya menindaklanjuti serius peristiwa yang juga sempat viral di media sosial tersebut. Menurut dia, penyebabnya adalah material yang dibuang oleh warga sekitar sungai.

BACA JUGA:BMKG Peringatkan Potensi Banjir Rob di Pesisir Selatan Jawa Barat Pekan Ini 

Setelah berhasil mengamankan sisa material yang dibuang, pihaknya langsung mengirimkan sampel tersebut ke laboratorium PT Syslab di Sentul City Bogor dan hasilnya baru keluar 21 Juni 2022 kemarin.

“Berdasarkan hasil laboratorium, material yang menyebabkan Sungai Cimeta berwarna merah darah ternyata tidak mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3),” ungkap Prima di Sekretariat Satuan Tugas (Satgas) Citarum Harum, Jalan Ir H Djuanda, Kota Bandung, Rabu 22 Juni 2022.

Prima menjelaskan, pihaknya bersama Satgas Citarum dan Pemkab KBB telah mengkaji sampel limbah tersebut yang dikomparasikan dengan ketentuan baku mutu air, seperti yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

“Berdasarkan hasil lab, jika dibandingkan dengan baku mutu karakteristik beracun melalui TCLP untuk penetapan kategori B3, ditemukan hasil bahwa semua barometer an organik dari sampel tersebut berada di bawah baku mutu di semua kategori. Sehingga, sampel itu tidak menunjukan adanya B3,” ungkapnya.

 BACA JUGA:17 Pasien Covid-19 Varian Baru di Jabar, Tersebar di Bogor hingga Bandung

Tidak adanya B3 yang terkandung dalam material tersebut diperkuat dengan tidak ditemukan karakteristik mudah terbakar ataupun meledak. Bahkan, berdasarkan hasil kajian, tidak ditemukan pula ikan yang mati di aliran sungai yang berubah warna itu.

“Yang diduga B3 tidak ditemukan. Kemudian diuji lagi karakteristik limbah B3-nya, seperti tidak mudah menyala dan meledak. Bahkan tidak ada ikan yang mati, tidak ada manusia dan pertanian yang terdampak,” ujar Prima.

Dia pun mengungkapkan, orang yang membuang limbah penyebab warna air Sungai Cimeta berubah menjadi merah darah itu. Setelah dilakukan penyisiran, kata Prima, pembuang limbah tersebut dipastikan warga sekitar sungai.

“Yang membuang material tersebut adalah warga sekitar dan tidak sadar jika material tersebut mengakibatkan air sungai berubah warna,” beber Prima seraya memastikan bahwa warna merah darah hanya terjadi di sekitar 6 kilometer aliran sungai dan setelahnya warna air sungai kembali normal.

Adapun latar belakang pembuangan limbah itu adalah insiatif salah seorang warga yang menyuruh warga lainnya untuk membuang material pencemar yang terbungkus plastik ukuran 30 kilogram yang teronggok di bahu jalan ke sungai. Namun, mereka sendiri tidak mengetahui isi kantong plastik tersebut.

“Mereka juga tidak mengetahui asal usul kantong yang berisi material pencemaran itu,” ujarnya.

Meski tidak terbukti mengandung B3, namun Prima berharap peristiwa tersebut menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan ke sungai. Bahkan, kata Prima, masyarakat yang membuang sampah sembarangan bisa dikenai sanksi sesuai aturan perundang-undangan yang berlaku jika sampah yang dibuang mengandung B3.

“Semua masyarakat harus lebih care bahwa sungai itu bukan tempat pembuangan sampah. Jika dalam kasus ini masyarakat membuang B3 atau limbah B3, tentu akan ada sanksi sesuai perundang-undangan yang berlaku,” tandasnya.

Seperti diketahui, warga di sekitar aliran Sungai Cimeta, khususnya di Desa Tagog Apu dan Campakamekar, Padalarang, KBB dikagetkan dengan berubahnya warna air sungai menjadi merah darah.

Perubahan yang tidak biasa dan tiba-tiba ini sempat viral di media sosial dan menjadi perhatian banyak pihak. Fenomena tersebut awalnya diduga karena ada limbah yang sengaja dibuang di hulu sungai.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.