“Berpikir Positif & Positif Corona”

oleh -6 views

POJOK News

“Berpikir Positif Semoga Tak Tertular Positif (Covid-19)”

Oleh: Fathonie Abdullah
(Journalist-Researcher)

‘Positive Thinking’ sejak mewabah Pandemi COVID-19 (awal 2019) berubah menjadi ‘negative thinking’ karena sampai saat ini ‘Musim Corona’ belum juga berakhir. Padahal, ‘musim durian & rambutan’ sudah dua kali tiga kali berganti.

Memang, prasangka buruk tak boleh lama dibentuk karena ‘prejudice’ atau ‘praduga tak bersalah’ dalam konteks hukum. Namun, dalam konteks sosial-budaya-kesehatan, apalagi di tengah terjepitnya kehidupan ekonomi, mau tidak mau atau suka tidak suka rasa curiga senantiasa ada. Daripada ‘positive thinking’ nanti bias dengan ‘positive Corona, maka yang muncul jadinya ‘negative thinking’.

‘Negative Thinking’ pertama, penggunaan masker yang salah beli dan salah pilih. Bukannya ‘melindungi’, menggunakan masker yang salah justru ‘memperlemah’ daya tahan tubuh karena sirkulasi udara segar terhambat. Baru setelah WHO merilis standar masker, masyarakat mulai paham meski sudah terlanjur banyak korban berjatuhan. Dan, temuan di lapangan di Jabodetabek, tiba-tiba harga masker tertentu turun mendadak; padahal sebelumnya, sempat seharga Rp8 ribu per lembar.

‘Negative Thinking’ yang kedua, mengenai
isu ‘OTG’ (orang tanpa gejala) di media massa dan media sosial yang berhasil meningkatkan partisipasi swa-‘swab test’; juga berhasil meningkatkan jumlah pasien positif Covid-19 secara mendadak. Sehingga, rumah sakit yang penuh pasien membludak sehingga petugas medis kewalahan, berdampak pula pada korban meninggal akibat Covid-19 yang telah mencapai 60 ribuan (awal 2019 sampai September 2020), saat ini naik dua kali lipat menjadi hampir 130 ribu pasien Covid-19 yang meninggal.

‘Negative Thinking’ ketiga, penggunaan ‘desinfectant’ secara berlebihan dan kurang tepat sasaran (misalnya tak menjangkau saluran got dan daun-daun pepohonan taman di sepanjang jalan di banyak lokasi, di bodi kendaraan bermotor, dll) malah menguntungkan industri farmasi swasta dengan kian bertambahnya di pasaran produk ‘anti bakteri & virus’ seperti cairan pembersih lantai (sementara, dinding yang kotor berdebu dan berjamur malah luput dari pembersihan).

‘Negative Thinking’ keempat, suntikan vaksin bertahap dengan ragam jenis-merek, yang berbeda juga jarak vaksin pertama dan yang kedua untuk setiap jenis vaksin yang ada; membuat timbul prasangka bahwa sambil memberikan tambahan saya tahan tubuh gratis, masyarakat juga dijadikan ‘kelinci percobaan’ pengujian: vaksin jenis apa yang terbukti paling ampuh.

‘Negative Thinking’ kelima, terjadi penghematan penggunaan bahan bakar secara signifikan sejak era ‘lockdown’ dan PPKM karena berkurangnya mobilitas masyarakat; juga semakin menurunnya tingkat emosi berdampak positif pada ‘climate change’. Sehingga dipersepsikan sebaliknya, ‘climate change’ dan anomali emosi berpindah ke rumah-rumah.

Daripada pusing dan bingung soal ‘positive thinking’ dan ‘negative thinking’, sebaiknya konsultasikan segera dengan ahli atau pakar terkait.
*****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.