“Polusi Dan Debu Di Jalan-Jalan”

oleh -7 views

POJOK News

“Udara Bersih & Segar”

Oleh: Fathonie Abdullah
(Journalist-Researcher)

Sejak jam enam pagi, mulai dari di sepanjang jalan Raya Bogor menuju Jakarta sudah mulai ramai. Namun, sampai di Pasar Rebo dan Cililitan serta Kampung Melayu, kendaraan bermotor yang mulai ramai dan memadati jalan-jalan terus bertambah meski tak menimbulkan kemacetan.

Di sepanjang jalan, naik Mini Bus yang sudah mulai penuh penumpang, teringat lagi ucapan R. Erwin Abdillah (Ahli Bekam yang sudah berpengalaman puluhan tahun): “Insya Allah akan ada perubahan, jadi ramai lagi, tambah rezeki lagi”, katanya, tersenyum optimis selepas Shalat Shubuh dan ‘Wirits’ di Mushala dekat kediamannya, kawasan Keradenan, Cileubut (Bogor, Jawa Barat); setelah dua tahun lebih tempat prakteknya sepi karena kondisi Pandemi COVID-19.

Selintas, teringat juga kemarin sore menjelang Magrib (Selasa, 17/8/2021) saat menyaksikan ‘Upacara Penutupan Bendera Merah-Putih’ di halaman Kantor Walikota Bogor (Jawa Barat), namun tiba-tiba hujan lebat “tercurah” dari langit yang membuat massa di pinggiran Kebun Raya Bogor berlarian mencari tempat berteduh.

Sebelumnya, siang dan sore hari, berjalan ke arah Tajur Ciawi dan kembali lagi ke arah Terminal Baranangsiang Bogor, jalanan begitu padat oleh kendaraan bermotor meski tak sampai terjadi kemacetan. Namun, udara Bogor yang biasa ‘beraroma segar’ lantas berubah seperti umumnya udara di Bekasi dan di DKI Jakarta: panas plus bau polutan yang menyengat.

Tak ada perubahan signifikan di Kota Bogor. Meski plang besar di tepi jalan tertulis soal PERDA tentang larangan Gelandangan dan Pengemis, namun di beberapa Halte Busway, ada gelandangan yang tidur; juga hampir di sepanjang jalan ada para pemulung dengan karung-karung dan gerobak berisi limbah plastik; plus pedagang asongan dan pengamen anak-anak dan remaja di Angkot-Angkot, yang ‘naik-turun’ silih berganti.

Sementara di DKI Jakarta, situasi dan kondisinya lebih parah lagi. Meski Pergub Nomor 66 Tahun 2020 tentang Uji Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor, yang sudah berlaku sejak 24 Desember 2020 sudah ada, namun polusi kembali menjadi ciri khasnya. Awalnya, tak begitu mempengaruhi perubahan perilaku pengendara kendaraan bermotor di jalan-jalan. Namun, sejak diberlakukannya kembali ‘lockdown’ dan PPKM, jalanan mulai terasa ada perubahan yang signifikan. Karena, selain tak lagi macet seperti biasanya, udara segar mulai tercium di beberapa kawasan padat DKI Jakarta.

Peraturan yang dibuat untuk menyesuaikan dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan  plus Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah tersebut rupanya belum efektip dan ‘over laping’ dengan pembatasan-penyekatan jalan selama PPKM di beberapa ruas jalan tertentu; juga mengenai kebijakan kendaraan bermotor ‘ganjil-genap’.
*****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.